EtIndonesia– Dalam 24 jam terakhir, perang Rusia–Ukraina kembali memasuki fase yang menentukan. Serangan balasan Ukraina berhasil mencatatkan sejumlah kemajuan signifikan di berbagai lini, mulai dari Donetsk hingga Zaporizhzhia, dengan dukungan baru dari sekutu Eropa.
Ledakan Dahsyat di Donetsk
Pada 5 September 2025, pasukan Ukraina menghantam gudang amunisi besar Rusia di daerah Selidove, selatan Pokrovsk, hanya 8 km dari garis depan. Ledakan besar mengguncang kawasan, asap hitam membubung tinggi, dan rekaman amatir memperlihatkan seorang tentara Rusia linglung berjalan sambil bergumam: “Selesai sudah.”
Serangan ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Brigade Artileri ke-45 Ukraina juga menghancurkan gudang logistik Rusia yang lebih besar, memperlambat laju ofensif Moskow di sektor selatan.
Operasi Darat: Ukraina Rebut Kembali Desa
- Zatsochok: Brigade Serbu ke-425 Ukraina menangkap sembilan tentara Rusia.
- Boykivka: Pasukan Kyiv berhasil merebut kembali desa strategis ini.
- Novotoretsk & New Yinkyne: Rusia dipaksa mundur dari sejumlah posisi yang mereka kuasai dengan kerugian besar.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa strategi Ukraina menekan titik lemah logistik Rusia mulai membuahkan hasil.
Serangan Udara dan Rudal Presisi
Ukraina juga mengandalkan kekuatan udara:
- Sebuah MiG-29 menjatuhkan bom berpemandu GBU-62 ke posisi Rusia di Malynivka, menghancurkan unit serbu dan amunisi mereka.
- Unit khusus Ukraina menghancurkan sistem pertahanan udara Buk M1 SA-11 Rusia senilai sekitar 1 miliar rubel (10 juta USD).
Sebaliknya, Rusia justru membuang sia-sia empat rudal senilai total 12 juta USD hanya untuk menargetkan tim pengintai Ukraina beranggotakan tiga orang. Para prajurit Ukraina selamat tanpa luka, bahkan menyebutnya “pertunjukan kembang api gratis.”
Perang Drone dan Infrastruktur Energi
Ukraina makin intensif memakai drone:
- Unit Phoenix menghancurkan kendaraan logistik Rusia.
- Drone kamikaze menghantam radar dan sistem komunikasi di Krimea.
- 5 September dini hari, drone Ukraina menyerang kilang minyak Ryazan, salah satu yang terbesar di Rusia. Ledakan terdengar hingga pinggiran Moskow.
- Serangan juga menghantam fasilitas Energiya di Lipetsk, produsen baterai dan sistem tenaga militer.
- Depot minyak terakhir Rusia di Luhansk turut dihancurkan.
Serangan beruntun ini menambah tekanan pada jalur pasokan energi militer Rusia.
Pertempuran di Selatan: Kherson & Zaporizhzhia
- Zaporizhzhia: artileri Ukraina menghancurkan gudang senjata dan pusat komando Rusia.
- Kherson: pasukan Ukraina menenggelamkan kapal pengangkut Rusia di delta Sungai Dnipro.
- Oleshky: jet MiG-29 menjatuhkan bom presisi ke markas komando Rusia, melumpuhkan sistem kendali musuh.
Dukungan Eropa: Perubahan Besar
Pada 4 September 2025, Presiden Prancis Emmanuel Macron memimpin konferensi 35 negara aliansi sukarela. Hasilnya: 26 negara Eropa berkomitmen mengerahkan pasukan darat, laut, dan udara jika tercapai gencatan senjata atau perjanjian damai di Ukraina.
- Jerman memastikan bantuan berupa pembentukan lima brigade baru, dilengkapi kendaraan tempur modern dan sistem pertahanan udara.
- Berlin juga ikut membiayai pengembangan rudal jelajah Ukraina.
Langkah ini menandai perubahan besar: Eropa tak lagi hanya mengirim senjata, tetapi juga membangun ulang industri militer Ukraina.
Peringatan Keras dari Kremlin
Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan dalam Forum Ekonomi Timur bahwa pasukan asing di Ukraina akan dianggap sebagai target sah. Kremlin menilai rencana Eropa sebagai provokasi serius yang dapat memicu eskalasi lebih luas.
Balapan Persenjataan Jarak Jauh
Ukraina kini berpacu memperkuat rudal jarak jauh:
- Produksi Neptunus versi terbaru masih terbatas 15–20 unit per bulan, dibandingkan produksi Iskander-M Rusia yang mencapai 60 unit per bulan.
- FirePoint sedang mengembangkan rudal balistik FP9 dengan jangkauan 850 km, kecepatan Mach 6, dan hulu ledak 800 kg. Jika diproduksi massal, Moskow dan St. Petersburg akan masuk dalam jangkauan Ukraina.
Kesimpulan
Serangkaian serangan pada 5–6 September 2025 menunjukkan bahwa Ukraina semakin agresif, memukul Rusia di lini depan sekaligus melemahkan infrastruktur energi musuh jauh di belakang. Dukungan nyata dari Eropa memperkuat posisi Kyiv, namun juga meningkatkan risiko eskalasi langsung dengan Rusia.
Perang kini memasuki fase baru: bukan hanya tentang mempertahankan wilayah, tetapi juga tentang siapa yang lebih cepat membangun kekuatan industri militer untuk jangka panjang. (***)


