EtIndonesia. Militer Israel terus menggempur basis kelompok militan Palestina, Hamas. Pada 7 September, untuk hari ketiga berturut-turut, Israel kembali membombardir sebuah gedung apartemen tinggi di Kota Gaza, kota terbesar di Jalur Gaza. Sementara itu, Hamas merespons “peringatan terakhir” dari Presiden AS Donald Trump dengan menyatakan siap untuk “segera duduk di meja perundingan.”
Menurut laporan AFP, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dalam pernyataannya pada 7 September mengatakan mereka menargetkan sebuah menara yang digunakan Hamas untuk memantau posisi pasukan Israel. Gedung yang dimaksud adalah Al-Roya Tower di Kota Gaza.
Sebelumnya, Israel telah dua kali memperingatkan warga yang tinggal di sekitar Al-Roya agar mengungsi ke “zona kemanusiaan” yang didirikan di Al-Mawasi, dekat Kota Khan Yunis di selatan Jalur Gaza.
Menurut Rumah Sakit Al-Quds di Gaza, serangan udara itu menewaskan satu orang.
Dengan serangan baru tersebut, Israel meratakan sejumlah bangunan di wilayah itu dan kini telah menguasai lebih dari 40% wilayah Kota Gaza. Setelah perundingan damai dengan Hamas gagal pada Juli lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa Israel berniat mengambil alih seluruh Jalur Gaza.
Ultimatum Terakhir Trump
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menulis di platform media sosialnya Truth Social:
“Israel sudah menerima syarat saya, sekarang giliran Hamas. Saya sudah memperingatkan apa konsekuensinya jika Hamas menolak. Ini adalah peringatan terakhir saya, tidak akan ada yang berikutnya!”
Menurut laporan stasiun TV Israel N12 News pada 6 September, Trump mengajukan rencana gencatan senjata baru yang isinya antara lain:
- Pada hari pertama gencatan senjata, Hamas harus membebaskan seluruh 48 sandera yang masih ditahan.
- Sebagai gantinya, Israel akan membebaskan ribuan tahanan Palestina.
- Selama masa gencatan senjata, kedua pihak akan berunding untuk mengakhiri perang.
Sebagai balasan, Hamas menuntut agar diumumkan secara jelas akhir dari perang, penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza, serta pembentukan komite pemerintahan sementara yang terdiri dari warga Palestina independen untuk segera mengelola wilayah Gaza.
Hamas juga menegaskan sudah siap duduk di meja perundingan untuk membahas pembebasan semua tahanan.
Seorang pejabat Israel menyatakan bahwa pemerintah sedang “mempertimbangkan dengan serius” proposal Trump tersebut, meski belum menjelaskan rinciannya.
Sumber : NTDTV.com


