Minyak Rusia Picu Gejolak: UE dan AS Bahas Sanksi Global, Tiongkok dalam Sorotan

EtIndonesia. Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS) kembali memperketat sikap terhadap Rusia. Financial Times melaporkan bahwa UE tengah membahas opsi menjatuhkan sanksi terhadap negara-negara ketiga—termasuk Tiongkok—yang masih membeli minyak dan gas dari Moskow. Langkah ini bertepatan dengan pernyataan  Presiden AS, Donald Trump yang menyebut dirinya telah siap meluncurkan “tahap kedua” sanksi terhadap Kremlin.

Trump Siapkan Sanksi Tahap Kedua

Trump menegaskan bahwa setelah berbagai upaya perundingan damai gagal, Washington kini siap berkoordinasi lebih erat dengan Eropa. Fokus utama sanksi lanjutan ini adalah menekan negara-negara yang tetap menjadi pembeli energi Rusia.

Karena Tiongkok merupakan importir terbesar minyak Rusia, Beijing disebut berulang kali sebagai target utama. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menilai bila AS dan UE bersatu menjatuhkan bea masuk tambahan terhadap negara-negara pembeli energi Rusia, maka ekonomi Moskow bisa lumpuh dan memaksa Presiden Vladimir Putin kembali ke meja perundingan.

Posisi Eropa dan Risiko Politik

Tiongkok kini telah melampaui Uni Eropa sebagai pembeli utama minyak Rusia. Namun, untuk meloloskan paket sanksi, UE membutuhkan persetujuan bulat dari seluruh 27 negara anggota. Beberapa negara, seperti Hungaria dan Slovakia, diperkirakan menolak karena ketergantungan besar mereka pada pasokan energi Rusia.

Delegasi UE dijadwalkan segera bertemu dengan pejabat Departemen Keuangan AS untuk merumuskan sanksi baru, termasuk pembatasan terhadap bank Rusia, perdagangan minyak, dan sistem pembayaran. Menteri Energi AS, Chris Wright, menekankan bahwa bila UE ingin AS mengambil langkah lebih keras, Eropa harus terlebih dahulu menghentikan impor energi dari Rusia.

Trump dalam pertemuan aliansi sukarela pada 4 September 2025 juga menuntut Eropa memberi tekanan langsung kepada Tiongkok. Dia menyebut pembelian energi Rusia oleh negara-negara Eropa sama saja dengan “membiayai perang Moskow.”

India dan Dukungan Ukraina

AS telah menaikkan tarif hingga 50% terhadap India sebagai bentuk sanksi atas pembelian minyak Rusia. Namun, Eropa sejauh ini belum mengikuti langkah tersebut.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menyambut baik langkah keras AS. Dia menyebut kebijakan tarif tinggi terhadap India sebagai “ide bagus” dan menegaskan bahwa masih ada negara-negara yang terus membeli energi Rusia. Menurutnya, tekanan tambahan dari AS sangat dibutuhkan untuk mempercepat isolasi ekonomi Moskow.

Sikap Kremlin dan Pasar Keuangan Tiongkok

Kremlin melalui juru bicaranya, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa sanksi apa pun tidak akan mengubah pendirian Presiden Putin. Namun, tanda-tanda kerentanan ekonomi mulai muncul. Herman Gref, CEO Sberbank, memperingatkan bahwa Rusia berisiko masuk resesi bila suku bunga tidak segera diturunkan.

Di sisi lain, Tiongkok dikabarkan tengah menyiapkan langkah untuk membuka kembali pasar obligasi domestiknya bagi perusahaan energi Rusia. Instrumen yang disebut Panda Bonds berdenominasi yuan itu akan menjadi yang pertama diterbitkan sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina. Pertemuan rahasia di Guangzhou pada akhir Agustus menunjukkan adanya dukungan regulator keuangan Tiongkok terhadap inisiatif ini.

Meski begitu, para pakar hukum menegaskan bahwa bank-bank Tiongkok harus berhati-hati. Pasalnya, keterlibatan mereka dalam pembiayaan energi Rusia bisa memicu sanksi sekunder dari AS—yang berpotensi mengguncang stabilitas keuangan Beijing sendiri.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine