EtIndonesia. Setelah kegaduhan publik atas bocornya percakapan antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia, Vladimir Putin terkait isu “panjang umur lewat cangkok organ” pada parade militer 3 September lalu, negeri Tirai Bambu kembali diguncang. Kali ini, gejolaknya datang dari dunia pendidikan, tepatnya dari aksi protes besar-besaran para pelajar di Guangzhou dan Guizhou.
Protes Ribuan Pelajar di Guangzhou dan Guizhou
Pada malam 7 September, ribuan pelajar di dua provinsi tersebut melancarkan pemberontakan serentak. Di Guangdong Jiangnan Polytechnic, mahasiswa marah besar karena berbagai kebijakan kampus yang dinilai menekan kehidupan mereka:
- Listrik dan air kerap diputus secara sepihak,
- Asrama dikunci dari luar,
- Kamar untuk 6 orang diubah menjadi 12 orang,
- Namun mereka tetap diwajibkan ikut latihan militer dan masuk kelas.
Kemarahan memuncak ketika ribuan pelajar merobohkan pintu asrama, menyerbu ke lapangan, hingga ada yang mengejar guru dengan tongkat.
Video amatir yang beredar di platform luar negeri memperlihatkan pelajar berteriak lantang: “Kembalikan uang kami!”
Sementara itu, di Guizhou Weining Vocational School, pemicu protes adalah kebijakan penyitaan ponsel siswa. Para pelajar meluapkan amarah dengan meneriakkan slogan protes dari dalam asrama, melempar buku dan meja keluar jendela, serta melakukan pembakaran barang-barang.
Seorang warganet menulis sindiran pedas: “Generasi ini lebih paham hak asasi manusia dibanding orangtua mereka. Jika tiap kota ada yang memberontak, pemerintah kehabisan aparat untuk dikerahkan.”
Slogan Anti-PKT Terdengar Lagi
Tidak berhenti di situ, pada 8 September, sebuah kompleks perumahan di Shenyang, Liaoning, digemparkan oleh munculnya slogan anti-komunis di dinding gedung.
Tulisan itu berbunyi: “Partai Komunis bukan Tiongkok. PKT baru berumur 100 tahun, sedangkan peradaban Tiongkok sudah 5.000 tahun.”
Warganet menyebut kemunculan slogan ini sebagai tanda oposisi publik semakin berani. Di saat bersamaan, seorang warga Guangdong ditangkap hanya karena menyebarkan video Xi Jinping yang membicarakan soal “umur 150 tahun” dan transplantasi organ di grup WeChat. Dia dituduh menyebarkan video hoaks dengan suara buatan AI, dan kini terancam hukuman hingga 10 tahun penjara.
Amerika Serikat Umumkan Sanksi Baru
Di panggung internasional, Amerika Serikat kembali menekan Beijing. Kementerian Luar Negeri AS pada 8 September mengumumkan kebijakan pembatasan visa baru yang ditujukan bagi warga negara tertentu di Amerika Tengah yang:
- Terbukti mewakili kepentingan Partai Komunis Tiongkok (PKT),
- Terlibat mendanai, mendukung, atau menjalankan aktivitas yang merusak supremasi hukum.
Mereka, beserta keluarga inti, dilarang masuk ke wilayah AS. Meski daftar nama belum dipublikasikan, pesan Washington jelas: siapa pun yang bekerja sama dengan PKT dalam mengintervensi pemerintahan setempat akan menghadapi konsekuensi diplomatik serius.


