Israel Gempur Pemimpin Senior Hamas di Qatar

EtIndonesia. Israel melancarkan serangan terhadap pimpinan senior Hamas di Doha, Qatar, menurut unggahan dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan Kementerian Luar Negeri Qatar.

“IDF dan ISA [Badan Keamanan Israel] melakukan serangan presisi yang menargetkan kepemimpinan senior organisasi teroris Hamas,” kata IDF dalam sebuah pernyataan di X, tanpa mengonfirmasi lokasi serangan.

“Selama bertahun-tahun, para anggota pimpinan Hamas ini telah memimpin operasi organisasi teroris tersebut, [mereka] bertanggung jawab langsung atas pembantaian brutal 7 Oktober, serta telah merancang dan mengelola perang melawan Negara Israel.”

IDF menyatakan bahwa langkah-langkah telah diambil sebelum serangan untuk “mengurangi risiko korban sipil.”

Beberapa menit kemudian, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengeluarkan pernyataan di X yang mengecam serangan Israel di Doha dan mengumumkan bahwa penyelidikan atas serangan itu sedang dilakukan.

“Negara Qatar mengecam sekeras-kerasnya serangan pengecut Israel yang menargetkan kompleks perumahan yang menampung beberapa anggota biro politik gerakan tersebut di ibu kota Qatar, Doha,” tulisnya.

“Serangan kriminal ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap semua hukum dan norma internasional, serta ancaman serius terhadap keamanan dan keselamatan warga Qatar maupun penduduk di Qatar.”

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengeluarkan pernyataan mengenai serangan itu melalui akun pribadinya di X, dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut “sepenuhnya merupakan operasi independen Israel.”

“Israel yang memulai, Israel yang melaksanakan, dan Israel yang bertanggung jawab penuh,” demikian bunyi pernyataan itu.

Hamas mengatakan serangan tersebut menunjukkan bahwa Netanyahu tidak tertarik untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik.

 “Menargetkan delegasi perunding, ketika sedang membahas proposal terbaru Presiden AS Donald Trump, menegaskan tanpa keraguan sedikit pun bahwa Netanyahu dan pemerintahnya tidak ingin mencapai kesepakatan apa pun,” demikian pernyataan Hamas.

Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi dalam jumpa pers Selasa bahwa Presiden Donald Trump sudah mengetahui lebih dahulu rencana serangan Israel itu dan telah memberi tahu pemerintah Qatar sebelumnya, melalui utusan khusus presiden Steve Witkoff.

Namun juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, dalam unggahan lain di X, mengatakan klaim bahwa pemerintah Qatar mendapat peringatan cukup awal mengenai serangan itu adalah tidak berdasar. Ia menyebutkan ledakan sudah terdengar di Doha saat pemerintah Qatar pertama kali diberitahukan oleh perwakilan AS.

Menanggapi langsung serangan tersebut, dalam unggahan di platform Truth Social miliknya pada Selasa sore, Trump mengatakan memang benar ia mengirim Witkoff untuk menyampaikan pesan peringatan, tetapi Witkoff terlambat.

“Secara sepihak membom di dalam Qatar, sebuah Negara Berdaulat dan sekutu dekat Amerika Serikat, yang bekerja sangat keras dan dengan berani mengambil risiko bersama kami untuk menengahi perdamaian, tidak mendukung tujuan Israel maupun Amerika,” tulis Trump. “Namun, memberantas Hamas, yang selama ini mengambil keuntungan dari penderitaan warga Gaza, adalah tujuan yang patut.”

Trump menambahkan bahwa ia telah berbicara dengan para pemimpin Qatar dan “meyakinkan mereka bahwa hal seperti ini tidak akan terjadi lagi di tanah mereka.”

Kedutaan Besar AS di Doha mengeluarkan perintah “berlindung di tempat” untuk semua fasilitasnya dan mendesak warga Amerika di negara itu untuk melakukan hal yang sama serta memantau akun X kedutaan untuk pembaruan.

Perintah itu dicabut kurang dari dua jam kemudian.

Negara-negara Arab lain, Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi, juga mengecam serangan tersebut.

“Keamanan negara-negara Teluk Arab tidak dapat dipisahkan, dan kami berdiri sepenuh hati bersama Negara Qatar yang bersaudara, mengecam serangan licik Israel yang menargetkannya, dan menegaskan solidaritas penuh kami dalam menghadapi agresi ini,” kata Anwar bin Mohammed Gargash, penasihat diplomatik senior presiden UEA, di X.

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman juga mengecam serangan itu dalam percakapan telepon dengan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dengan menyebutnya sebagai “tindakan kriminal dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum dan norma internasional,” menurut Saudi Press Agency yang dikelola pemerintah.

Serangan di ibu kota Qatar ini terjadi sehari setelah enam orang tewas dan sedikitnya belasan lainnya luka-luka dalam serangan penembakan di Yerusalem.

Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan dua pelaku Palestina tewas di tempat kejadian dalam serangan Senin itu; polisi kemudian menangkap orang ketiga terkait penembakan tersebut.

Hamas memuji serangan itu tanpa mengaku bertanggung jawab.

Israel Ganz, kepala Dewan Regional Mateh Binyamin, yang mengawasi permukiman dan pos-pos Israel di Tepi Barat, menyambut baik serangan di Doha.

“Pesannya jelas, bahkan dengan Qatar, bahkan dengan teman, kalian tidak bisa menyembunyikan musuh kami di halaman belakang kalian,” kata Ganz kepada NTD News, media saudara The Epoch Times, pada Selasa.

Serangan di Doha ini terjadi hanya dua hari setelah Trump mengeluarkan “peringatan terakhir” kepada Hamas agar menerima kesepakatan untuk menjamin pembebasan semua sandera yang masih ditahan kelompok teroris itu.

“[Israel telah] menerima syarat saya. Sekarang waktunya Hamas juga menerima,” tulis Trump dalam unggahan 7 September di Truth Social. “Saya sudah memperingatkan Hamas tentang konsekuensi jika tidak menerima. Ini peringatan terakhir saya, tidak akan ada lagi setelah ini!”

Rincian spesifik kesepakatan yang sedang dirundingkan oleh Trump belum diumumkan ke publik.

Perang di Gaza telah berlangsung sejak 7 Oktober 2023, ketika Hamas menyerang Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang—kebanyakan warga sipil—dan menculik 251 sandera.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikuasai Hamas, lebih dari 64.000 orang telah tewas sejak awal perang. Kementerian itu tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan dalam angka korban tersebut. The Epoch Times tidak dapat memverifikasi secara independen keakuratan angka tersebut.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine