EtIndonesia. Dini hari di ibu kota Qatar berubah mencekam ketika setidaknya sepuluh ledakan besar mengguncang Doha, diikuti asap hitam menjulang tinggi ke langit. Militer Israel menyebut serangan ini sebagai operasi presisi terhadap pimpinan Hamas yang merencanakan serangan 7 Oktober 2023 lalu. Namun, mereka tidak secara terbuka mengakui bahwa serangan dilakukan di jantung ibu kota Qatar.
Serangan di Tanah “Mediator”
Langkah Israel kali ini menimbulkan keheranan. Doha selama ini dikenal sebagai mediator dalam konflik Timur Tengah, termasuk perundingan sandera Israel–Hamas, sekaligus tuan rumah Pangkalan Udara Al-Udeid milik Amerika Serikat—salah satu basis militer terbesar di kawasan.
Namun, terdapat ironi besar: kantor politik Hamas sejak lama beroperasi permanen di Doha. Dengan kata lain, Qatar berada di posisi ambigu—bersahabat dengan AS, namun sekaligus memberi tempat bagi elite Hamas. Gedung itulah yang kini menjadi target bom presisi Israel.
Latar Belakang: Bara yang Meledak
Saat Hamas melancarkan serangan 7 Oktober 2023 ke Israel, sejumlah pimpinan utamanya dilaporkan tengah berada di kantor Doha untuk merayakan aksi tersebut. Rekaman video yang mereka sebarkan menjadi bukti keterlibatan langsung. Bagi Israel, fakta itu merupakan bara yang hanya menunggu saatnya meledak.
Operasi “Summit of Fire”
Israel sebelumnya telah mengumumkan niat memburu anggota Hamas di seluruh dunia. Serangan ke Doha ini diluncurkan dengan sandi Operasi “Summit of Fire”, kombinasi Angkatan Udara Israel dan Mossad.
Jet tempur siluman F-35 buatan AS meluncurkan bom presisi dari ketinggian, menghancurkan markas Hamas. Sistem pertahanan udara Qatar—termasuk Rafale, Typhoon, dan F-15—tidak mampu mengantisipasi serangan mendadak tersebut.
Target serangan disebut mencakup Khalil al-Hayya (kepala tim negosiator Hamas), Khaled Mashal (mantan ketua biro politik Hamas), serta Saleh al-Arouri/Ghabanin (pemimpin Hamas di Tepi Barat). Laporan menyebut Mashal dan Hayya tewas bersama sejumlah tokoh elit lainnya, membuat hampir seluruh jajaran Hamas di Doha lenyap seketika.
Pesan Trump dan Respons AS
Serangan ini terjadi hanya dua hari setelah Donald Trump mengeluarkan “peringatan terakhir” kepada Hamas. Pada 7 September, dia menegaskan: “Ini peringatan terakhir saya, tidak akan ada berikutnya.”
Meski Trump menolak menyatakan AS ikut dalam operasi, laporan Gedung Putih menyebut Washington memberi lampu hijau diam-diam. Trump dikabarkan menyampaikan kepada Qatar bahwa dirinya tidak menginginkan Doha dibom, tetapi karena Hamas bercokol di sana, Qatar harus “memaklumi” langkah Israel.
Eskalasi di Gaza
Paralel dengan serangan Doha, Israel juga meningkatkan operasi militer di Gaza. Pada 9 September, militer memerintahkan evakuasi massal sekitar 700 ribu hingga 1 juta warga Kota Gaza ke selatan. Selebaran disebarkan lewat udara, berisi peta jalur aman.
Dalam dua hari, 50 gedung tinggi dihancurkan—lengkap dengan terowongan, gudang senjata, dan pusat komando Hamas. Israel menuding Hamas sengaja bersembunyi di balik infrastruktur sipil untuk memancing simpati internasional. Salah satu menara 15 lantai rata dengan tanah hanya oleh dua bom presisi.
Dampak Global: Dilema Eropa
Seiring memburuknya krisis kemanusiaan, Eropa kini menghadapi dilema pengungsi. Denmark menjadi contoh klasik: pada 1992, negara itu menerima 321 pengungsi Gaza, namun catatan menunjukkan lebih dari separuh terjerat kriminalitas atau hidup sepenuhnya dari tunjangan negara.
Peringatan lama dari Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab tahun 2017 kembali viral, menyebut bahwa Eropa bisa menjadi “surga ekstremis” bila terus membuka pintu tanpa pertimbangan.


