Keputusan Hidup, Hanya Butuh Setengah Menit

EtIndonesia. Dua guru Amerika, Carniel dan Fratz, pernah membawa murid-murid mereka mengunjungi sebuah sekolah kecil di kota miskin di Afrika Selatan. Untuk memberi pengalaman berharga, mereka mengajak anak-anak Afrika bersama para siswa Amerika menjelajahi pegunungan.

Namun, sebuah kecelakaan terjadi. Saat berusaha menarik seorang anak Afrika kulit hitam agar tidak jatuh, Fratz justru kehilangan keseimbangan dan terperosok ke jurang sedalam dua meter. Dia terluka parah, darahnya mengucur deras.

Di rumah sakit, dokter mengatakan Fratz butuh transfusi segera. Sayangnya, darahnya langka, tidak ada seorang pun di rombongan yang cocok.

Carniel lalu teringat pada anak Afrika yang tadi diselamatkan Fratz. 

Dia mendekatinya dan berkata:“Coba periksa darahmu, mungkin cocok.”

Hasilnya, benar! Golongan darah anak itu sesuai. Namun, ketika dokter hendak mengambil darahnya, anak itu menahan tangan dan bertanya dengan takut-takut:“Kalian mau mengambil darahku?”

“Ya, hanya darahmu yang bisa menyelamatkan guru Fratz,” jawab dokter.

Anak itu menunduk lama, seakan bimbang. Carniel yang melihatnya dalam hati merasa jengkel: “Guru Fratz terluka karena menolongmu, masa kamu masih ragu?”

Setengah menit kemudian, anak itu mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. Dia menggigit bibir, lalu berkata pelan: “Aku mau mendonorkan darahku… tapi aku punya satu permintaan.”

Carniel langsung terpancing emosi: “Menyelamatkan orang kok pakai syarat?”

Anak itu melanjutkan: “Aku hanya berharap kalian sering datang lagi ke sekolah kami.”

Carniel langsung mengangguk: “Tentu saja! Kami pasti akan datang lagi.”

Mendengar itu, anak kecil itu pun menyerahkan tangannya kepada dokter. Air mata mengalir dari matanya.

Beberapa menit kemudian, transfusi darah selesai. Anak itu dibaringkan untuk beristirahat. 

Dengan suara lirih, dia bertanya: “Aku ingin tahu… kapan aku akan mati?”

Carniel dan dokter terkejut. “Mati? Tidak! Kamu tidak akan mati. Kamu hanya menyumbangkan sedikit darah, cukup istirahat saja.”

Saat itu semua orang tersadar: kebimbangan anak itu bukan karena enggan menolong. Dia benar-benar mengira bahwa memberi darah berarti memberikan nyawanya. Dan keputusan untuk, menurut pemahamannya, menyerahkan hidupnya—dia buat hanya dalam waktu setengah menit.

Pesan Moral

Kisah ini menyentuh hati kita:

·        Jangan mudah menilai atau menyalahkan orang lain hanya dari sudut pandang kita sendiri.

·        Setiap orang punya kisah, pengalaman, dan pemahaman berbeda.

·        Keputusan yang tampak sederhana bagi kita, bisa jadi adalah pergulatan hidup dan mati bagi orang lain.

Hidup memang penuh ketidakpastian. Setiap orang membawa suka dan dukanya masing-masing. Karena itu, kita harus belajar untuk lebih menghargai, berempati, dan menyayangi sesama.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine