Kisah Menyentuh dari Singapura: Suster yang Mengantar Narapidana Mati ke Perjalanan Terakhir

EtIndonesia. Pada usia 87 tahun, Suster Gerard Fernandez dari Gereja Katolik Singapura menjadi sosok yang dihormati karena dedikasinya selama lebih dari 40 tahun. Dia pernah masuk dalam daftar BBC 100 Women pada 2019, sebagai salah satu wanita paling berpengaruh dan inspiratif di dunia.

Tugasnya tidak biasa—dia menemani para narapidana mati menuju tiang gantungan, memberi mereka kekuatan batin di saat-saat terakhir hidup mereka.

Awal Perjalanan: Kasus Pembunuhan Toa Payoh

Semua berawal dari kasus pembunuhan anak-anak di Toa Payoh pada 1981. Pelaku utama, Tan Mui Choo (Catherine), bersama suaminya Adrian Lim dan seorang wanita lain, Hoe Kah Hong, melakukan pembunuhan brutal terhadap dua anak kecil.

Bagi Suster Gerard, kasus ini sangat pribadi. Catherine pernah menjadi muridnya di sekolah Katolik—dia mengenangnya sebagai “gadis manis dan sederhana” dari keluarga Katolik taat.

Catherine divonis hukuman mati. Selama 7 tahun menunggu eksekusi, Suster Gerard terus menulis surat kepadanya dan mengunjunginya di penjara. Mereka berdoa bersama, berdialog, dan perlahan Catherine menemukan kembali kedamaian rohaninya.

Hari Eksekusi

Tanggal 25 November 1988, hari eksekusi Catherine. Suster Gerard menemaninya hingga detik terakhir.

Dia menggenggam tangan Catherine, berjalan bersamanya menuju ruang gantung, sambil menyanyikan lagu rohani favorit muridnya itu.

 “Lalu aku mendengar langkahnya menaiki tangga, dan suara pintu penjara dibuka. Aku tahu, Catherine telah pergi,” kenang Suster Gerard dengan suara bergetar.

Bagi Suster Gerard, betapapun besar kesalahan seseorang, setiap manusia berhak mati dengan martabat.

Empat Dekade Bersama Para Terpidana Mati

Catherine hanyalah salah satu dari sekian banyak narapidana mati yang ditemani Suster Gerard.

Selama lebih dari 40 tahun, dia hadir bagi mereka—bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mendampingi, mendengarkan, dan memberi secercah harapan rohani.

“Tak ada seorang pun yang dengan sukarela menerima hukuman mati,” katanya.

Namun, dia percaya bahwa melalui pengampunan dan penyembuhan batin, bahkan para terpidana mati bisa menemukan jalan menuju kedamaian di akhir hayatnya.

Kata-Kata Terakhir

Suster Gerard masih ingat seorang narapidana yang menemuinya sehari sebelum eksekusi.

Dia berkata kepadanya:  “Besok aku akan bertemu Tuhan. Saat aku bertemu Dia, aku akan menceritakan tentang dirimu.”

Kalimat itu, bagi Suster Gerard, adalah anugerah terbesar kepercayaan dari mereka yang tahu hidupnya tinggal menghitung jam.

Dampak Nyata

Bahkan keluarga para terpidana pun merasakan pengaruhnya. Seorang ibu narapidana kasus narkoba berkata, Suster Gerard membantu mengubah putranya yang penuh amarah menjadi sosok yang akhirnya menerima, menyesali, dan berdamai dengan takdirnya sebelum dieksekusi.

Pandangan tentang Hukuman Mati

Singapura dikenal sebagai negara aman, tetapi juga sebagai salah satu yang masih menerapkan hukuman mati. Tahun 2018 saja, ada 13 eksekusi, jumlah tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Meski taat hukum, Suster Gerard sendiri menolak hukuman mati.

 “Semua kehidupan itu berharga,” ujarnya.

 Dia berharap suatu hari Singapura akan menghapus hukuman mati.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine