Serangan Israel di Doha Tewaskan Enam Orang, Termasuk Tokoh Hamas Junior

EtIndonesia. Pada Selasa siang waktu setempat, serangkaian ledakan mengguncang kawasan Leqtaifiya di ibu kota Qatar, Doha, saat jamuan diskusi sedang berlangsung bagi pemimpin Hamas—terutama membahas proposal gencatan senjata dari Amerika Serikat. Serangan ini merupakan eskalasi besar, menandai pergeseran perang Israel-Hamas ke wilayah negara Teluk yang selama ini dianggap netral dan menjadi mediator.

Detik-detik Operasi

Angkatan Udara Israel (IDF), diduga bersama Badan Keamanan Internal Israel (Shin Bet), melancarkan operasi udara dengan kode Summit of Fire (Pisgat HaEsh dalam bahasa Ibrani). Sebanyak sekitar 10 bom dijatuhkan oleh 15 jet tempur ke sebuah kompleks residensial tertutup yang menjadi markas politik Hamas di Leqtaifiya. Telah dilaporkan bahwa para pemimpin top Hamas—termasuk Khalil al-Hayya, Zaher Jabarin, Muhammad Ismail Darwish, Khaled Mashal, dan lainnya—hadir dalam pertemuan tersebut.

Korban dan Klaim Hamas

Serangan ini dikabarkan menewaskan enam orang, yakni antara lain:

  • Himam al-Hayya, putra Khalil al-Hayya
  • Jihad Abu Labal, kepala staf al-Hayya
  • Tiga anggota pengawalnya
  • Seorang petugas keamanan Qatar

Hamas menyatakan bahwa para pemimpin utama mereka SELAMAT, namun mengakui adanya korban di level yang lebih rendah.

Reaksi Israel & Alasan Operasional

PM Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan itu dilakukan sebagai balasan atas penembakan yang terjadi di Yerusalem sehari sebelumnya, dan menyasar mereka yang bertanggung jawab atas serangan 7 Oktober 2023. Dia menegaskan bahwa operasi ini murni keputusan Israel dan dijalankan dengan kecermatan tinggi.

Tangisan Diplomasi: Reaksi Global

Sejumlah negara dan lembaga internasional mengecam keras acara udara ini:

  • Qatar menyebut serangan ini sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan hukum internasional.
  • Amerika Serikat menyatakan bahwa AS tidak ikut terlibat, meski sempat diberi tahu secara mendadak. Trump melalui media sosial menyebutnya “tidak menguntungkan” dan menegaskan bahwa dia tidak menyetujui serangan tersebut, namun menilai “meniadakan Hamas tetap menjadi tujuan yang layak”. 
  • Jerman, melalui Kanselir dan Menlu, mengecam serangan tersebut sebagai “tidak dapat diterima” dan melanggar kedaulatan Qatar.
  • Inggris, melalui PM Keir Starmer, menyebutnya sebagai ancaman terhadap stabilitas regional dan menegaskan kebutuhan untuk penghentian permusuhan segera.
  • Hongaria dan negara-negara lain, termasuk PBB, UE, Turki, Mesir, Iran, serta beberapa negara Teluk turut mengecam tindakan ini, menyoroti risiko terhadap upaya gencatan senjata dan keamanan regional.

Dampak Diplomatik dan Masa Depan Negosiasi

Serangan di Doha ini secara drastis memperumit upaya mediasi gencatan senjata yang tengah dijalankan Qatar. Banyak pihak menilai ini bisa menghambat pemberian bantuan kemanusiaan, pembebasan sandera, dan merusak kepercayaan terhadap peran Qatar sebagai mediator.

Kesimpulan

Serangan Israel pada 9 September 2025 di Doha mencatat titik balik dramatis dalam konflik Israel–Hamas. Dengan menggunakan operasi udara lintas-batas, Israel secara langsung menyerang markas politik Hamas di negara sahabat AS. Kendati berhasil menewaskan sejumlah tokoh pendukung Hamas, para pemimpin senior dilaporkan selamat. Reaksi internasional yang meluas menunjukkan seriusnya implikasi terhadap tatanan diplomasi dan stabilitas regional.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine