Demi menghancurkan kartel narkoba Venezuela, Presiden Amerika Serikat Trump baru-baru ini memperluas pengerahan militer AS di kawasan Karibia. Pada Senin (8 September), ketika menjawab pertanyaan media, Trump mengisyaratkan kemungkinan kembali meningkatkan perang melawan narkoba ini. Selain itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth bersama Jenderal Caine pada hari yang sama melakukan kunjungan mendadak ke Puerto Rico, untuk bersama-sama menghancurkan jaringan perdagangan narkoba yang digerakkan rezim Maduro di Venezuela.
EtIndonesia. Militer AS dalam beberapa hari terakhir menenggelamkan sebuah kapal pengangkut narkoba milik organisasi teroris Venezuela kartel Aragua. Presiden Trump menegaskan bahwa ini adalah peringatan bagi siapa pun yang berusaha menyelundupkan narkoba ke Amerika Serikat.
Pada 7 September, ia mengisyaratkan bahwa operasi ini bisa ditingkatkan untuk menghancurkan jaringan narkoba yang semakin berkembang pesat di Venezuela, yang didukung oleh Iran dan Hizbullah.
Media: “Apakah Anda mempertimbangkan untuk menyerang kartel narkoba di dalam wilayah Venezuela?”
Presiden Trump: “Kalian akan segera mengetahuinya.”
Jumat lalu, AS memerintahkan pengerahan 10 jet tempur siluman F-35 ke Puerto Rico. Pada hari yang sama, Trump memperingatkan rezim Maduro agar tidak mencoba mengganggu kapal perang AS yang dikerahkan di Laut Karibia.
Wawancara Media (5/9/2025): “Jika Venezuela kembali mengirim jet tempurnya melintas di atas kapal perang AS, apa yang akan terjadi?”
Trump (5/9/2025): “Ya, saya rasa mereka akan mendapat masalah. Kami akan memperingatkan mereka. Jika mereka benar-benar membahayakan kami, mereka akan ditembak jatuh.”
Pemerintahan Trump menekankan bahwa sesuai kebijakan saat ini, AS dapat menggunakan kekuatan militer untuk menghadapi kartel narkoba dan kelompok kriminal transnasional. Trump juga sudah menginstruksikan Pentagon untuk menyiapkan berbagai opsi operasi militer.
Pada Senin, Menteri Pertahanan Pete Hegseth bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Razin” Caine melakukan kunjungan mendadak ke Puerto Rico, dan disambut oleh Gubernur Puerto Rico, Jenniffer Gonzalez.
Gonzalez menulis dalam unggahannya: “Kami berterima kasih kepada Presiden Trump dan pemerintahannya yang mengakui nilai strategis Puerto Rico bagi keamanan nasional Amerika Serikat, serta dalam memerangi kartel narkoba yang digerakkan oleh diktator narkoba Maduro di belahan bumi ini.”
Menghadapi langkah lanjutan AS, Venezuela pada Minggu berjanji akan memperbesar pengerahan pasukan di sepanjang garis pantai untuk memberantas penyelundupan narkoba. Presiden Maduro menuduh, pengerahan militer AS di Karibia dengan alasan “pemberantasan narkoba” sesungguhnya bertujuan menggulingkan rezimnya.
Mantan agen DEA (Badan Anti Narkotika AS), Brian Townsend, pada Senin (8 September) kepada Fox News menyatakan bahwa geng Aragua” Venezuela memiliki kerja sama erat dengan “Kartel Matahari” (Cartel of the Suns)—sebuah jaringan narkoba yang dibentuk oleh perwira tinggi militer Venezuela. Jaringan ini diduga bekerja sama dengan Hizbullah dalam menyelundupkan kokain.
Townsend mengatakan: “Hizbullah bertugas menyediakan jaringan, melakukan pencucian uang, dan membantu kartel narkoba memindahkan dana ke Timur Tengah, untuk mendanai operasi mereka di kawasan tersebut.”
Peneliti senior Institut Studi Keamanan Nasional Israel (INSS), Danny Citrinowicz, menekankan: “Jika Maduro tumbang, maka Iran akan kehilangan basis operasional terpentingnya di Amerika Latin.”
Para pakar menekankan bahwa bagi pemerintahan Trump, imperium narkoba Hizbullah di Venezuela bukan lagi masalah regional semata, melainkan ancaman langsung terhadap keamanan dalam negeri Amerika Serikat.
Sumber : NTDTV.com


