Pada Selasa (9 September), situasi di Nepal memburuk dengan cepat. Minggu lalu, keputusan pemerintah untuk memblokir media sosial memicu gelombang protes besar-besaran, dengan kaum muda Generasi Z menjadi motor utama perlawanan.
Aparat militer dan polisi dikerahkan untuk menindak dengan kekerasan, menewaskan sedikitnya 21 orang. Perdana Menteri pro-Beijing, K.P. Sharma Oli, akhirnya terpaksa mundur dari jabatannya. Namun, akibat korupsi dan otoritarianisme yang sudah lama berlangsung, kemarahan rakyat makin meluas.
Puluhan ribu warga turun ke jalan, sebagian aparat bahkan berbalik mendukung rakyat. Hari ini, sejumlah pejabat dikejar dan dipukuli massa, sementara markas Partai Komunis dan sebuah stasiun televisi dibakar oleh pengunjuk rasa. Dikabarkan, Oli melarikan diri dengan helikopter.
EtIndonesia. Asap hitam pekat menutupi langit Nepal, sementara bangunan di jalanan terbakar habis hingga sulit dikenali.
Gerakan perlawanan yang dipimpin kaum muda Generasi Z ini dipicu oleh larangan media sosial yang diberlakukan pemerintah pekan lalu, yang dianggap membungkam kebebasan berekspresi, ditambah maraknya korupsi di kalangan pejabat.
Ketika protes semakin meluas di negara yang berpenduduk sekitar 31 juta jiwa, Perdana Menteri Oli pada Selasa akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya.
Seorang demonstran, Laxmi Panday, berkata: “Hari ini kami sangat bersemangat, rasanya kemenangan akhirnya tiba. Kemarin seperti hari kiamat, tapi hari ini penuh cahaya. Kami sangat bahagia, ini adalah kemenangan rakyat Nepal.”
Pekan lalu, pemerintah Nepal memblokir berbagai platform media sosial termasuk Facebook, YouTube, dan X, yang memicu amarah generasi muda.
Binu KC, seorang mahasiswa berusia 19 tahun, mengatakan kepada media bahwa ia berharap Nepal bisa mengakhiri korupsi. Menurutnya, para politisi tidak pernah menepati janji kampanye mereka. Ia juga menegaskan, larangan media sosial akan membatasi akses pada kelas daring dan sumber belajar, sehingga merugikan pendidikannya.
Meskipun perdana menteri telah mundur dan larangan dicabut, kemarahan rakyat belum reda. Hingga Selasa malam, puluhan ribu demonstran masih bertahan di jalan, memblokir lalu lintas, menyerbu gedung pemerintah, dan membakarnya. Di beberapa tempat, pejabat juga menjadi sasaran serangan massa.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan penganiayaan terhadap tokoh Nepali Congress (Partai Kongres Nepal) Sher Bahadur Deuba beserta istrinya, Menteri Luar Negeri Arzu Rana Deuba. Video lain memperlihatkan Deuba diselamatkan oleh sejumlah orang ke tempat yang lebih aman.
Di platform X, pencarian dengan kata kunci “nepal communist” didominasi unggahan video yang menggambarkan gerakan Generasi Z di Nepal ini sebagai perlawanan terhadap pemerintahan komunis yang korup.
Beberapa video memperlihatkan demonstran menyerbu markas Partai Komunis, memanjat tiang bendera, dan merobek simbol palu-arit. Mereka juga membakar kantor pusat Kantipur TV, salah satu media terbesar yang dianggap dekat dengan Partai Komunis.
Ada laporan yang menyebutkan sebagian aparat militer dan polisi yang awalnya ditugaskan untuk meredam kerusuhan justru membelot dan bergabung dengan massa.
Bentrok pada Selasa itu menyebabkan dua korban jiwa tambahan, sehingga total korban tewas meningkat menjadi 21 orang.
Sejak pemilu 2022, Partai Komunis Marxist-Leninist Nepal (CPN-UML) yang pro-Beijing dan kerap menindas komunitas Tibet, menjadi salah satu partai penguasa dan kini partai terbesar kedua di parlemen. Oli, ketua partai tersebut, menjabat sebagai perdana menteri sejak Juli 2024 hingga 9 September 2025.
Laporan menyebutkan para demonstran menuntut pertanggungjawaban pemerintah dan reformasi tata kelola. Analis memperingatkan, jika pemerintah gagal merespons secara efektif, perlawanan bisa semakin meluas dengan keterlibatan mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil.
Sumber : NTDTV.com


