EtIndonesia. Konflik Rusia–Ukraina kembali mencapai titik eskalasi berbahaya. Setelah Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran ke Kyiv, Ukraina membalas dengan operasi skala besar yang menargetkan infrastruktur militer dan logistik Rusia.
Serangan Rudal ke Donetsk
Pada 8 September 2025, enam rudal Storm Shadow bantuan Inggris ditembakkan ke wilayah Donetsk yang dikuasai Rusia. Target utama adalah markas komando Divisi Infanteri Bermotor ke-20 Rusia, yang berlokasi di sebuah pabrik metalurgi.
Sebelum rudal diluncurkan, drone Ukraina terlebih dahulu digunakan untuk mengalihkan perhatian sistem pertahanan udara Rusia. Hanya dalam hitungan menit, serangan itu memicu kebakaran hebat, ledakan beruntun, dan gumpalan asap hitam pekat yang terlihat hingga jauh dari kota. Saksi mata menyebutkan, “langit malam Donetsk seketika berubah terang benderang.”
Selain Storm Shadow, analis militer menduga Ukraina juga mengerahkan rudal atau drone buatan dalam negeri seperti Peklo atau Palyanytsya. Meski belum ada konfirmasi resmi, operasi ini disebut sebagai salah satu penghancuran markas komando terbesar Rusia sejak invasi 2022.
Serangan ke Logistik Rusia
Ukraina tidak hanya menargetkan markas komando, tetapi juga sistem logistik vital Rusia:
- Depot amunisi dan kilang minyak di Belgorod dan Vladimir dihantam rudal serta drone. Ledakan besar menghasilkan bola api menyerupai “jamur atom”.
- Kilang minyak Kuban terpaksa menghentikan operasi sejak 4 September setelah serangan Ukraina. Beberapa fasilitas energi besar Rusia lain juga dilaporkan menurunkan kapasitas.
Serangan-serangan ini diyakini mengganggu pasokan bahan bakar dan amunisi Rusia, yang secara langsung melemahkan kemampuan tempur mereka di garis depan.
Ukraina Kuasai Wilayah Strategis
Pasukan Ukraina juga melancarkan operasi darat dengan hasil signifikan. Dalam waktu 12 jam, mereka merebut kembali permukiman Zarichyne di Donetsk yang sempat dikuasai Rusia. Video resmi memperlihatkan bendera Ukraina berkibar di berbagai titik desa.
Selain itu, Ukraina berhasil:
- Menghancurkan dua jembatan utama jalur suplai Rusia.
- Menggunakan tank dan artileri untuk melumpuhkan posisi pertahanan di Sumy dan Nikonarivka.
- Meluncurkan bom presisi yang menghancurkan pusat kendali drone Rusia di timur Ukraina.
Moral Tentara Rusia Anjlok
Di tengah tekanan serangan Ukraina, laporan independen menunjukkan moral pasukan Rusia semakin terpuruk. Sejumlah video yang beredar memperlihatkan:
- Tentara Rusia saling menembak saat mabuk, menewaskan dua orang.
- Seorang prajurit dipukuli karena mencuri barang milik rekan yang gugur.
- Seorang tentara dihajar komandannya setelah mengeluh soal kondisi buruk di garis depan.
Bahkan, ada laporan bahwa sejumlah tentara Rusia memilih menyerah hanya karena mendengar suara drone Ukraina di atas mereka.
Ancaman Jangka Panjang
Kepala intelijen Ukraina, Kyrylo Budanov, memperingatkan bahwa Kremlin tengah melaksanakan modernisasi militer terbesar sejak era Uni Soviet, dengan anggaran mencapai 1,2 triliun dolar AS. Targetnya adalah membangun kekuatan hingga 700.000 tentara di Ukraina, yang pada tahun 2030 berpotensi mengancam keamanan Eropa secara langsung.
Ledakan Misterius di Timur Rusia
Pada 9 September 2025, sebuah ledakan besar mengguncang fasilitas militer Unit 6912 Rusia di Khabarovsk, lebih dari 4.000 km dari Ukraina. Unit ini dikenal terlibat dalam kejahatan perang di Bucha dan Irpin pada 2022.
Serangan jauh ini diyakini sebagai pesan Ukraina bahwa “meski jauh, tetap bisa dihukum.”
Tekanan Eropa dan Sosial
Dinamika konflik juga mengguncang arena politik dan sosial di Eropa:
- Latvia mengumumkan pengusiran 841 warga Rusia yang gagal lolos ujian bahasa Latvia, dengan tenggat waktu 13 Oktober 2025. Sebelumnya, lebih dari 1.100 orang sudah diusir.
- Institute for the Study of War (ISW) melaporkan Rusia menggunakan perangkat jamming GPS yang mengganggu lebih dari 123.000 penerbangan komersial di Eropa sepanjang 2025, melibatkan 365 maskapai internasional.
Kesimpulan
Serangan Ukraina pada awal September 2025 menandai salah satu eskalasi terbesar perang dalam beberapa bulan terakhir. Dengan kombinasi serangan rudal, operasi darat, dan tekanan psikologis, Ukraina berhasil memukul telak Rusia di banyak sektor. Namun, ambisi Kremlin untuk memperluas kekuatan militer hingga 2030 menunjukkan konflik ini masih jauh dari selesai—dan Eropa tetap berada dalam bayang-bayang ancaman jangka panjang.


