Pada 7 September, ribuan siswa di dua sekolah kejuruan di provinsi Guangdong dan Guizhou, Tiongkok, menggelar aksi protes besar-besaran akibat pemadaman listrik, pemutusan air, serta larangan penggunaan ponsel. Dalam aksi itu, siswa sempat bentrok dengan pihak sekolah.
EtIndonesia. Pada 8 September, akun media independen daratan bernama “Yestrday” melaporkan bahwa ribuan siswa dari sekolah tersebut marah karena pihak sekolah tetap memaksa mereka beraktivitas normal meski listrik dan air sering dipadamkan. Akibatnya, para siswa keluar beramai-ramai dari asrama dan bentrok dengan staf sekolah.
Seorang siswa dari Sekolah Teknik Lanjutan Jiangnan, Guangdong berteriak: “Kembalikan uang kami, kembalikan uang kami…”
Saksi mata menyebutkan, beberapa siswa membawa tongkat dan mengejar seorang guru di lapangan sekolah.
Setelah protes pecah, pada malam yang sama pihak sekolah kembali menyalakan listrik.
🔥貴州威寧職校祭手機禁令 引大規模學生抗議
— 大纪元新闻网 (@dajiyuan) September 8, 2025
9月7日,貴州威寧中職學生因「手機禁令」深夜喊樓、燃燒雜物,現場火光映照校園;無獨有偶,同日廣東職校也因學校停電停水問題爆發類似抗議。https://t.co/6RydpXraMG#中國 #學潮 #貴州 #廣東 #校園抗議 https://t.co/ye93lVvhjz pic.twitter.com/n5wffAPNF9
Pada 7 September malam, ribuan siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan Weining, Bijie, Guizhou, juga menggelar aksi protes karena sekolah melarang penggunaan ponsel. Para siswa melemparkan kertas, bantal, sampah, dan barang-barang lain yang dibakar dari asrama mereka.
Jiang Peikun, seorang aktivis dari Guangdong, menilai aksi itu bukan sekadar luapan emosi sesaat: “Tindakan para siswa yang melempar benda dan merusak fasilitas adalah ledakan dari amarah yang telah lama dipendam.”
🔥 廣東貴州校園爆發大規模學生抗議
— 新唐人電視台 (@NTDChinese) September 8, 2025
9月7日,廣東與貴州兩所職校,學生因停電停水、禁用手機等問題,深夜衝破校門,高喊「退錢」聲震校園。場面失控,老師、警察都無法壓制。
更多內幕曝光,細節震撼👉https://t.co/PL9wUxLQIy#中國 #學潮 #廣東 #貴州 #校園抗議 #群體事件 https://t.co/m0t6Qr5VEa pic.twitter.com/FLm8YTguC7
Menurutnya, dalam lingkungan sekolah yang tertutup, pengalaman dan ketidakpuasan bersama membuat siswa mudah terhubung secara emosional.
“Begitu segelintir siswa berani berdiri di depan, yang lain cepat bergabung karena merasa tidak sendirian. Inilah yang menciptakan efek massa besar-besaran, di mana ketidakpuasan beberapa orang langsung berkembang menjadi protes ribuan orang. Ini menunjukkan bagaimana kelompok yang tertekan di era internet dapat dengan cepat bersatu,” katanya.
Sebelumnya, pada 31 Agustus, di SMP San Zhi Yang, Du’an, Guangxi, siswa juga berunjuk rasa setelah sekolah bekerja sama dengan perusahaan China Mobile untuk memaksa penggunaan sistem pembayaran dengan pemindaian wajah di kantin, serta memungut biaya 120 yuan.
Lai Jianping, mantan pengacara dari Beijing, menegaskan bahwa peristiwa ini mencerminkan kesadaran baru di kalangan pelajar Tiongkok:
“Hal-hal ini menunjukkan bahwa siswa sekarang bukan lagi kelompok yang bisa seenaknya diperlakukan, bukan lagi budak patuh dalam sistem otoriter. Ketika kebebasan mereka dirampas secara ilegal dan dibatasi secara tidak pantas, mereka berani melawan dan berdiri untuk memperjuangkan hak-hak mereka,” katanya.
Sumber : NTDTV.com


