Meluangkan waktu untuk berhenti dan menikmati indahnya hidup datang dari menciptakan gaya hidup yang lebih lambat, yang memprioritaskan kepuasan dibandingkan kewajiban
Mike Donghia
Apakah Anda merasa terus-menerus berpacu dengan waktu? Apakah Anda merasa bahwa dalam sehari tidak pernah cukup waktu untuk menyelesaikan semua yang Anda inginkan atau diharapkan untuk dilakukan?
Jika iya—Anda tidak sendirian! Sebagian besar orang pernah merasakan tekanan kehidupan modern dan mencari contoh dari orang lain tentang bagaimana menjalani hidup dengan cara yang berbeda.
Meskipun masyarakat semakin makmur, dan banyak dari kita memiliki lebih sedikit kekhawatiran finansial sehari-hari, tampaknya kita justru menggantinya dengan lebih banyak keinginan baru. Orang-orang di dunia modern tampak lebih stres dan sibuk dibandingkan generasi sebelumnya.
Setiap orang memiliki jumlah jam yang sama dalam sehari—jadi mengapa ada orang yang bisa menyelesaikan lebih banyak hal daripada yang lain?
Mereka yang menjalani hidup tanpa terburu-buru telah menemukan cara untuk menyelesaikan lebih banyak hal dalam waktu lebih singkat karena mereka mengadopsi cara pandang baru—bersama dengan kebiasaan baru untuk menumbuhkan jiwa yang lebih tenang.
Menjalani hidup dengan terburu-buru bisa saja menjadi sesuatu yang kelak kita sesali. Karena itu, penulis telah banyak memikirkan hal ini selama beberapa tahun terakhir.
Berikut adalah beberapa kesimpulan, bersama dengan tips terbaik untuk menciptakan hidup yang lebih tenang.
2 Alasan Utama Kita Terburu-buru
Tentu ada kalanya bergerak cepat masuk akal. Bisa jadi menyenangkan dan sangat produktif untuk mendorong diri melihat apa yang mungkin dicapai. Namun, semua orang memiliki titik di mana hidup terasa terlalu sibuk, dan kesibukan itu justru mengurangi kebahagiaan serta kepuasan.
Saya menyadari ada dua kekuatan yang cenderung mendorong saya untuk melakukan lebih banyak.
1. Norma Budaya
Jika Anda bertanya pada seseorang bagaimana kabarnya, ada kemungkinan besar ia akan menjawab “sibuk.” Kata sibuk dipilih karena sesuai dengan yang kita rasakan—dan juga karena menyiratkan status tertentu. Jika seseorang sibuk, berarti ia dibutuhkan—ia penting.
Banyak orang hampir merasa malu untuk mengatakan bahwa mereka tidak banyak kesibukan, meski itu berarti mereka punya lebih banyak waktu untuk menjalin hubungan. Menurut saya, alasan utamanya adalah masyarakat kita cenderung menyamakan identitas diri dengan apa yang telah kita lakukan dan capai, bukan dengan siapa yang kita kenal dan cintai.
2. Takut Ketinggalan (FOMO)
Pendorong besar lain dari kesibukan adalah paparan terus-menerus terhadap ide-ide menarik, gaya hidup keren, dan cara-cara baru untuk membelanjakan uang. Hal ini menciptakan keinginan untuk melakukan lebih banyak hal dalam hidup, sekaligus rasa takut bahwa kita melewatkan sesuatu yang seharusnya bisa kita nikmati. Jadi apa yang kita lakukan? Kita memenuhi hidup dengan lebih banyak hal dan lebih banyak aktivitas demi meraih kepuasan yang terasa semakin sulit digenggam.
5 Kebiasaan untuk Menumbuhkan Ketenteraman
Namun demikian, kita bisa melawan dua kekuatan tersebut. Jika cukup banyak dari kita yang hidup dengan cara yang berbeda dari arus utama, kita bisa mulai menyoroti seperangkat nilai baru selain yang kini mendominasi kehidupan modern.
Berikut adalah lima cara praktis berdasarkan pengalaman saya untuk mulai menjalani hidup yang lebih tenang. Perlu dicatat bahwa contoh-contoh ini tidak meniadakan produktivitas atau pencapaian kerja bermakna, melainkan menawarkan ritme yang lebih berkelanjutan dan menyenangkan untuk melakukannya.
1. Fokus pada Satu Hal dalam Satu Waktu
Anda mungkin pernah mendengar tentang single-tasking, yaitu hanya melakukan satu hal dalam satu waktu, tetapi yang saya sarankan melangkah lebih jauh. Terlalu sering, ketika kita melakukan satu hal, pikiran kita justru berada di hal lain.
Kita membuat makan siang, tapi pikiran melayang ke rapat; berjalan, tapi khawatir soal tugas yang belum selesai. Saat Anda hadir sepenuhnya dalam apa yang sedang dilakukan, hidup langsung terasa lebih tenang tanpa kehilangan produktivitas. Ini hampir seperti “makan siang gratis.”
2. Beristirahat dari Teknologi
Penulis percaya di masa depan, kita akan menemukan bahwa mengisi setiap menit luang dengan ponsel terbukti tidak sehat bagi otak. Dengan waktu layar yang terus-menerus, otak kita hampir tidak punya kesempatan beristirahat, meninggalkan kita dalam keadaan aktivitas rendah yang berkesinambungan. Lepaskan perangkat sejenak dan nikmati beberapa menit ketenangan mental di antara tugas.
3. Ambil Potret Mental
Salah satu kebiasaan yang saya tambahkan sejak memiliki anak adalah belajar memperhatikan momen sehari-hari yang biasa—tetapi istimewa. Misalnya, jika penulis mendengar percakapan lucu antara dua anak penulis yang paling kecil, penulis berhenti dan mengambil “potret mental” dari momen itu. Penulis serap detail sebanyak mungkin dan jeda sejenak untuk merasakan emosinya. Dengan cara ini, penulis percaya bisa sedikit memperlambat waktu sambil memperkaya kenangan.
4. Prioritaskan dengan Tegas
Memprioritaskan adalah ide yang jelas, tetapi sering diremehkan. Hampir di setiap bidang, ada keuntungan besar jika kita melangkah sedikit lebih dalam, sedikit lebih jauh, atau sedikit lebih teliti dibanding orang kebanyakan. Namun, kita terus tergoda untuk menyebarkan upaya terlalu tipis. Akibatnya kita merasa terburu-buru dan kelelahan, padahal seharusnya memusatkan energi terbaik pada beberapa hal yang benar-benar penting. Dengan melakukannya, Anda telah membuka salah satu “jalan pintas” kehidupan yang berharga.
5. Nikmati Beberapa Rutinitas Baik
Saran terakhir untuk beralih ke hidup yang lebih tenang adalah berinvestasi dalam beberapa rutinitas bermanfaat. Anda tidak perlu berlebihan untuk merasakan hasil besar. Bagi penulis, rutinitas pagi lambat selama 30 menit dan rutinitas malam yang menenangkan menjadi pembuka dan penutup hari dengan cara yang sempurna tanpa terburu-buru. Rutinitas membuat hidup terasa lebih tenang dengan mengurangi pengambilan keputusan dan ketidakpastian yang muncul jika kita terus berimprovisasi.


