EtIndonesia. Di sebuah pegunungan, ada sekelompok monyet yang sering mencuri makanan dari para penduduk desa. Untuk mengatasinya, penduduk sudah mencoba berbagai cara: mulai dari menugaskan orang berpatroli, hingga memasang jebakan. Namun semuanya gagal, karena monyet-monyet itu sangat lincah dan gesit.
Akhirnya, seorang ahli hewan menemukan sebuah cara. Dia menaruh sebuah botol kaca kecil yang mulutnya sempit, lalu mengikatnya di pohon. Di dalamnya, dia isi dengan biji-bijian dan makanan. Malam harinya, monyet-monyet datang, memasukkan tangan ke dalam botol untuk mengambil makanan. Namun begitu mereka menggenggamnya, tangan mereka tidak bisa ditarik keluar. Sampai pagi ketika penduduk datang, monyet-monyet masih terperangkap—karena mereka tetap menggenggam erat makanan itu.
Pelajaran dari Seekor Monyet
Hanya demi segenggam makanan, monyet-monyet itu kehilangan kebebasan. Mereka tidak pernah sadar bahwa jika saja mereka mau melepaskan genggamannya, mereka bisa selamat. Tetapi, keserakahan menutupi mata mereka. Yang ada di benak mereka hanyalah bagaimana cara memasukkan makanan itu ke mulut. Bahkan ketika bahaya datang, mereka enggan melepaskan apa yang mereka genggam.
Manusia memang jauh lebih pintar daripada monyet. Namun ketika berhadapan dengan godaan keuntungan, kita pun sering kehilangan akal sehat. Banyak orang tahu bahwa sesuatu itu adalah jebakan, tapi tetap saja melangkah masuk, dengan harapan bisa mendapat keuntungan dan keluar tanpa masalah. Padahal, begitu tangan kita “terjulur ke dalam botol”, sebenarnya kita sudah masuk ke dalam perangkap orang lain.
Inti Pesan
Keserakahan membuat orang terjebak. Kita bisa dipaksa melakukan hal yang tidak kita inginkan, mengucapkan kata-kata yang bertentangan dengan hati nurani, bahkan melawan prinsip kita sendiri.
Oleh karena itu, kecerdasan saja tidak cukup. Kita perlu memiliki kemampuan berpikir rasional, menjaga diri dari keinginan yang tidak semestinya, serta mampu membedakan mana yang benar dan salah.
Sebab pada akhirnya, buah dari keserakahan hanyalah keterpurukan. Ia menyeret kita ke jurang tanpa jalan keluar, hingga berakhir dengan kehancuran.(jhn/yn)


