KNEKS, BI, OJK, dan Akademisi Bahas Strategi Kebangkitan Ekonomi Syariah Indonesia Menuju Pusat Halal Dunia 2029

Surabaya – Seminar Flagship Ekonomi dan Keuangan Syariah menjadi salah satu sesi kunci dalam Festival Ekonomi Syariah Jawa (FESYAR) 2025. Acara yang digelar di Ballroom Almarwah, Masjid Agung Al-Akbar Surabaya ini menghadirkan empat narasumber utama untuk membahas strategi penguatan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia menuju visi menjadi pusat ekonomi syariah dunia pada 2029.

Acara dibuka dengan sambutan dari Direktur Eksekutif Departemen Regional Bank Indonesia, Muhammad Firdaus Muttaqin, yang menegaskan potensi besar ekonomi syariah global. “Nilai konsumsi negara-negara muslim mencapai US$ 2,43 triliun. Populasi muslim dunia lebih dari 2 miliar, dan didukung dengan tren halal lifestyle yang semakin menguat,” ujarnya. Ia menekankan perlunya sinergi semua pihak untuk mengoptimalkan potensi ini, khususnya di Pulau Jawa yang menjadi rumah bagi lebih dari 60% muslim Indonesia.

Berikut adalah intisari paparan dari keempat narasumber:

1. KH. Salahuddin Al-Ayyub (Direktur Eksekutif KNEKS): Ekonomi Syariah sebagai Sistem Masa Depan Indonesia
KH. Salahuddin Al-Ayyub menegaskan bahwa ekonomi syariah bukan hanya alternatif, melainkan sistem ekonomi masa depan Indonesia. Ia menyoroti pencapaian Indonesia yang kini berada di peringkat ketiga global dalam indeks ekonomi syariah, mendekati posisi Saudi Arabia di peringkat kedua. “Target RPJMN 2025–2029 menempatkan Indonesia sebagai nomor satu,” tegasnya.

Kunci keberhasilan selama ini, menurutnya, adalah semangat dan gerakan kolektif (berjamaah) yang didasarkan pada prinsip Islam sebagai way of life. Ia mengibaratkan perjuangan ekonomi syariah seperti perintah Allah kepada Siti Maryam untuk menggerakkan pangkal pohon kurma—meski secara logis tidak mungkin, tetapi dengan keyakinan dan ikhtiar, hasilnya datang dari Allah.

Ke depan, ia menyampaikan bahwa master plan ekonomi syariah 2025–2029 telah dimasukkan dalam dokumen perencanaan nasional, bahkan hingga level daerah melalui Sistem Informasi Pembangunan Daerah (SIPD). “Ini memastikan setiap pemda wajib mencantumkan program ekonomi syariah,” ujarnya.

2. Imam Hartono (Direktur Eksekutif Ekonomi dan Keuangan Syariah BI): Enam Inisiatif Strategis BI
Imam Hartono memaparkan kondisi terkini ekonomi syariah Indonesia yang tumbuh positif, dengan Halal Value Chain meningkat 4,39% pada triwulan I-2025. Literasi ekonomi syariah juga naik signifikan dari 16,3% (2020) menjadi 42% (2024).

BI merespons dengan menyusun framework kebijakan yang fokus pada enam inisiatif utama:

  • Gerbang Santri: Memberdayakan pesantren sebagai pusat ekonomi melalui peningkatan produktivitas dan digitalisasi.
  • Gema Halal: Gerakan berjamaah untuk memperluas produk halal, sertifikasi, dan penguatan halal center.
  • Jawara Ekspor: Jaringan wirausaha syariah untuk mendorong ekspor dengan integrasi sistem informasi.
  • Sapa Syariah: Sinergi perdagangan dan pembiayaan syariah melalui penyempurnaan regulasi dan perluasan akses.
  • Kanalis Wave: Kolaborasi pengembangan ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah, Wakaf) sebagai kekuatan baru pembangunan.
  • Lintas Literasi: Edukasi nasional untuk meningkatkan literasi dan inklusi ekonomi syariah.

“Keenam ikhtiar ini dirancang untuk mendukung pencapaian target Indonesia sebagai pusat halal dunia pada 2029,” jelasnya.

3. Deden Firman Hendarsyah (Direktur Eksekutif Perbankan Syariah OJK): Menyeimbangkan Fungsi Komersial dan Sosial
Deden menyoroti masih rendahnya porsi aset keuangan syariah (11,4%) dan perbankan syariah (7,4%) secara nasional. Namun, ia melihat celah optimis: literasi keuangan syariah (43%) lebih tinggi daripada inklusinya (13,4%). “Ini adalah good problem—artinya ada pasar potensial yang sudah paham syariah tetapi belum menggunakan layanannya,” ujarnya.

OJK berfokus pada penguatan ekosistem melalui roadmap perbankan syariah yang menyeimbangkan ketahanan komersial dan dampak sosio-ekonomi. Ia menekankan pentingnya memadukan commercial finance dengan social finance, misalnya melalui produk Cash Wakaf Linked Deposit (CWLD) yang telah diimplementasikan beberapa bank syariah. “Dana sosial seperti ZISWAF dapat dimanfaatkan untuk membiayai UMKM yang belum bankable, lalu dibina hingga naik kelas,” paparnya.

4. Prof. Dr. Muhammad Nafik Hadi Ryandono (Guru Besar Ekonomi Syariah Unair): Tantangan dan Peluang di Tingkat Global
Prof. Nafik membeberkan sejumlah tantangan ekonomi syariah Indonesia, di antaranya:

  • Malaysia dan Arab Saudi masih unggul karena pendekatan top-down yang terencana.
  • Portofolio perbankan syariah masih didominasi murabahah (60-70%), bukan bagi hasil.
  • Riset dan model praktis masih kurang.
  • Perlu harmonisasi dan sinergi antar-stakeholder.

Namun, ia optimis karena SDM ekonomi syariah kini sudah melimpah dan semakin kompeten. “Kunci berikutnya adalah memilih leading sektor, seperti pariwisata halal, yang mampu menggerakkan seluruh ekosistem—mulai dari hotel, kuliner, logistik, hingga transportasi syariah,” tegasnya.

Sinergi Menuju Ekosistem Terintegrasi
Dalam sesi tanya jawab, perwakilan KDKS Jawa Timur, Siti Nurhusnul, menyoroti belum seimbangnya pertumbuhan industri halal dengan keuangan syariah. Semua narasumber sepakat bahwa kuncinya adalah membangun ekosistem terintegrasi. KH. Salahuddin mencontohkan sudah dimulainya integrasi di rumah sakit dan hotel syariah, dimana kitchen, laundry, dan keuangan harus bersertifikat halal dan syariah. Imam Hartono menekankan pentingnya penguatan kompetensi pelaku, kualitas produk, dan akses pasar. Sementara Deden dan Prof. Nafik menyarankan penggunaan dana sosial untuk mendukung UMKM dan penentuan leading sektor yang tepat.

Seminar ditutup dengan apresiasi kepada semua narasumber dan komitmen bersama untuk mendukung Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah dunia pada 2029. Acara ini tidak hanya menjadi pemantik diskusi, tetapi juga penguat sinergi antara pemerintah, regulator, akademisi, dan pelaku usaha dalam mewujudkan ekonomi syariah yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine