EtIndonesia. Di sebuah ruang kelas, seorang profesor membawa sebuah wadah berisi bongkahan es.
Dia berkata kepada para mahasiswa: “Di bawah nol derajat, air akan berubah menjadi es. Ini adalah bentuk pertama dari air. Dalam kondisi ini, air tidak bisa bergerak, hanya diam di tempat, dan tempat itu saja yang menjadi batas keberadaannya.”
Lalu profesor menyalakan api dan memanaskan wadah itu. Es pun perlahan meleleh, berubah menjadi air.
Profesor berkata: “Ini adalah bentuk kedua dari air, juga bentuk yang paling sering kita temui. Dalam keadaan ini, air bisa mengalir ke sungai-sungai kecil, lalu menuju samudra.”
Setelah beberapa saat, air dalam wadah mulai mendidih, berubah menjadi uap, hingga akhirnya lenyap di udara.
Profesor lalu mematikan api, menunjukkan wadah kosong itu kepada para mahasiswa, dan bertanya: “Kemana menurut kalian air itu pergi?”
Para mahasiswa saling berpandangan, bingung, tak tahu arah pembahasan profesor.
Profesor kemudian tersenyum dan menjelaskan: “Air memiliki tiga bentuk, yang dipengaruhi oleh perbedaan suhu. Begitu juga dengan kehidupan manusia—bentuk hidup seseorang sangat ditentukan oleh suhu batinnya.
· Bila hati seseorang dingin dan acuh terhadap sekitar, maka ruang hidupnya sempit, hanya sebatas tempat dia berpijak.
· Bila hatinya biasa-biasa saja, dia bisa mengalir lebih jauh, bergabung dengan aliran besar, namun tetap tak bisa lepas dari batas bumi.
· Tapi bila hatinya menyala penuh semangat seperti air mendidih, dia akan berubah menjadi uap, terbang ke angkasa. Dia tidak hanya memiliki bumi, tetapi juga langit—dunianya menjadi tak terbatas.”
Pelajaran yang Bisa Diambil
Bagaimana sikapmu terhadap hidup yang kamu jalani sekarang?
Mungkin hidup sering kali tidak berjalan sesuai harapan, namun bila kamu memilih bersikap terlalu dingin, hanya kesedihan dan kesempitan yang akan kamu dapatkan.
Cobalah menaikkan suhu hatimu sedikit saja—dengan semangat, kepedulian, dan keberanian—maka dunia yang lebih luas akan terbuka untukmu.(jhn/yn)


