Laporan Dokter Magang di Tiongkok,  Luo Shuaiyu tentang Pengambilan Organ Hidup Bocor ke Luar Negeri,  Para Ahli : Fakta Kebenarannya Mengerikan

EtIndonesia. Bisakah Anda bayangkan suatu hari berjalan di jalan lalu tiba-tiba diborgol dan organnya diambil? Hal itu sangat mungkin terjadi. Kasus kematian tragis Luo Shuaiyu, seorang dokter magang di Rumah Sakit Kedua Xiangya Universitas Zhongnan, baru-baru ini kembali menjadi trending di Tiongkok.

Orang tua Luo Shuaiyu secara terbuka melaporkan praktik pengambilan organ hidup, berharap bisa membersihkan nama anak mereka. Mereka bahkan menolak uang tutup mulut sebesar 3 juta yuan, namun laporan mereka tidak mendapat tindak lanjut. 

Kini sebagian bukti sudah sampai ke luar negeri, membuka tabir gelap perdagangan organ manusia yang melibatkan Rumah Sakit Kedua Xiangya. Fakta-faktanya mengejutkan. Seorang pakar medis menyebutnya: mengerikan!

Dalam program “Kesehatan 1+1”, pembawa acara Jojo mengundang Dr. Lin Xiaoxu, seorang ahli virologi di AS, untuk menganalisis sebagian laporan orang tua Luo. Informasi yang diungkap cukup detail. Dari berbagai rincian, Dr. Lin menyingkap skandal menakutkan di balik transplantasi organ di Tiongkok, dan menyebutnya “sangat mengerikan”.

1. 1.119 Halaman Laporan – Mungkin Alasan Sebenarnya Luo Shuaiyu Tewas

Luo Shuaiyu mulai magang di Rumah Sakit Kedua Xiangya pada 2021, saat itu ia adalah mahasiswa pascasarjana Universitas Zhongnan. 

Pada 8 Mei 2024, ia ditemukan jatuh dari asrama rumah sakit dan tewas. Orang tuanya dipaksa menandatangani pernyataan bahwa ia bunuh diri sebelum boleh mengambil barang-barangnya, termasuk laptop.

Namun, mereka mendapati semua data di laptop sudah dihapus. Setelah meminta bantuan ahli IT, ditemukan ada 1.119 halaman dokumen laporan.

Sehari sebelum kematiannya, Luo pernah berkata:  “Kalau besok saya tidak bisa masuk kerja, tolong serahkan beberapa dokumen saya ke Komisi Disiplin.”

 Menurut Dr. Lin, hal ini menunjukkan besar kemungkinan Luo bukan bunuh diri, melainkan “dibuat bunuh diri” karena laporan tersebut.

Dari analisis data, dalam waktu hanya 2–3 tahun, Luo sudah sering terlibat dalam urusan transplantasi organ. Diduga pada 2022 ia diperintahkan atasan untuk mengumpulkan organ. Ia menuruti meski tidak rela. Karena tahu terlalu banyak rahasia, ia menyusun laporan pengaduan, dan akhirnya mungkin dibungkam.

2. Kasus Pertama: Organ Diambil Dulu, Penerima Baru Ditentukan Belakangan

Dr. Lin menjelaskan, dari 100-an halaman yang ia telaah, ada satu kasus yang sangat jelas memperlihatkan praktik pengambilan organ hidup.

  • Maret 2022, Liuyang:

Seorang pasien dengan pendarahan otak dirawat di rumah sakit TCM Liuyang pada 17 Maret.

Keesokan paginya (18 Maret, pukul 08:53), seorang staf Rumah Sakit Kedua Xiangya bernama “Guru Lan” mengirim pesan di grup berisi 54 orang bertajuk “Tim Donasi dan Pengambilan Organ”, menugaskan Luo Shuaiyu memimpin tim untuk mengambil organ di Liuyang.

  • 18 Maret, 23:49 → Tim menerima detail pasien: pria 37 tahun, antibodi sifilis positif, ginjal banyak batu.
  • 19 Maret, 00:33 → Info: pasien harus ulangi EEG (pemeriksaan otak).
  • 19 Maret, 02:02 → Operasi dimulai.
  • 02:55 → Kedua ginjal sudah diambil.
  • 03:21 → Selesai.
  • 05:48 → Baru dilakukan pemilihan awal penerima organ.

Masalah besar yang ditemukan:

  1. Pasien baru masuk 17 Maret, tapi 18 Maret pagi rumah sakit lain sudah diberi tahu ada organ siap diambil → seakan sudah tahu pasien akan “mati”.
  2. Luo belum punya izin praktik dokter saat itu, tapi dipaksa ikut dan bahkan memimpin pengambilan organ → ilegal.
  3. Tidak ada bukti pasien sudah dinyatakan meninggal.
  4. Pasien terinfeksi sifilis dan ginjal penuh batu, organ tidak layak transplantasi.
  5. EEG ulang membuktikan pasien bahkan belum dinyatakan mati otak.
  6. Operasi pengambilan dilakukan tengah malam tanpa konfirmasi kematian.
  7. Penerima organ baru dicari setelah organ diambil.
  8. Tidak jelas kenapa pasien dengan pendarahan otak mendadak dijadikan donor ginjal.
  9. Proses pengambilan ginjal sangat cepat (kurang dari 1,5 jam), menunjukkan tim sangat berpengalaman.

Dr. Lin menyimpulkan:  “Kasus ini jelas sekali menunjukkan adanya pengambilan organ dari orang yang masih hidup. Pasien belum mati, tapi organnya sudah diambil. Ini sungguh menakutkan.”

Kasus 2: Tidak Ada Koordinasi Organ, Pencatatan Serah Terima : Hati Tidak Usah Diambil

Dr. Lin menyatakan, ada sebuah rekaman yang menunjukkan bahwa di Tiongkok ada yang disebut sistem koordinasi organ, bahkan katanya di tingkat nasional. Namun kenyataannya, sistem itu sama sekali tidak ada. Para dokter sendiri memaki: “Bagi-bagi apa, omong kosong!”

Bagian rekaman penyerahan organ yang diikuti Luo Shuaiyu:

Rekaman pertama:

  • ?: Uh, jadi… hati ini mau atau tidak?
  • ?: Hati tidak usah.
  • ?: Kalau begitu ambil dua ginjal.
  • ?: Sudah bicara dengan keluarga pasien belum?
  • ?: Hati tidak usah.
  • ?: Ya.
  • ?: Kalau tidak diambil, hati itu dibagi ke mana?
  • ?: Bagi apa, omong kosong!!
  • Shuaiyu: Kita bisa lewat jalur bawah nggak?
  • ?: Ya, bisa lewat.
  • ?: Ini sebenarnya masih bisa dipakai untuk transplantasi hati, kamu… mau tidak? Kalau mau, kamu bakal dapat keuntungan besar… hehe.
  • Shuaiyu: Benar-benar (kata kasar) nyebelin.
  • ?: Keluarganya bilang ke dokter di rumah sakit bahwa mereka ingin jam 8 malam sudah di rumah. Tapi sekarang pihak sana masih mau dibagi lewat sistem online, nggak tahu siapa yang bisa dapat. (kata kasar) siapa yang mau?

Rekaman kedua:

  • Shuaiyu: (kata kasar)… ini kalian bawa buat dijahit nggak? Ahh… Ini rumah sakit terbesar di Shaoyang?
  • ?: Tempat ini tidak jauh dari Shaoyang.
  • Shuaiyu: Jaraknya dari Shaoyang berapa jauh?
  • ?: Naik mobil sekitar belasan kilometer.

Analisis Dr. Lin atas rekaman:

  1. Kalimat “Hati mau atau tidak” membuktikan sama sekali tidak ada proses pencocokan organ.
  2. Kalimat “Kita bisa lewat jalur bawah ini nggak?” menunjukkan kemungkinan adanya jalur khusus rumah sakit.
  3. Kalimat “Ini kalian bawa buat dijahit nggak?” mengindikasikan bahwa jenazah setelah pengambilan organ tidak ditangani dengan baik.

Dr. Lin menjelaskan: “Proses medis seharusnya sangat ketat. Harus dipikirkan bagaimana menjaga kesehatan pasien, bagaimana mencocokkan jaringan dengan benar, lalu menemukan penerima yang cocok dengan pertimbangan menyeluruh.” Namun faktanya, justru sebaliknya. 

Ia melanjutkan:  “Pokoknya pasien ini kami putuskan harus mati, saya mau ginjalnya, bagaimana? Maka dibedah, perut dibuka, lalu langsung ditanya, ‘Hati ini siapa yang mau?’”

Donasi Organ Palsu – Seluruh Sistem Pemerintah Terlibat Menutupi Fakta

Dalam data terbaru yang dibocorkan, ada beberapa dokumen bukti donasi organ. Namun setelah ditelusuri, banyak donor yang katanya menyumbangkan organ ternyata fiktif. Saat nomor kontak keluarga dicoba dihubungi, tidak ditemukan keberadaan mereka.

Di bawah kekuasaan Partai Komunis Tiongkok (PKT), pemalsuan data dalam transplantasi organ sudah sangat merajalela. Dr. Lin mengatakan, data mengenai donasi organ di Tiongkok adalah palsu; banyak pasien yang disebut mati otak sebenarnya tidak benar, bahkan data tes tidak bisa bernapas spontan pun dibuat-buat.

Ia menegaskan: “Pemalsuan di Tiongkok sudah terlalu umum. Jadi, organ dengan kualitas buruk pun tetap ditransplantasikan. Bahkan pasien belum mati otak, tapi mereka sudah lebih dulu memutuskan akan mengambil organnya. Jadi bisa dibayangkan, motivasi utama mereka hanyalah uang, uang dari bisnis transplantasi organ.”

Dr. Lin juga mengungkap, dokter membuat surat keterangan palsu, organ sudah diambil, lalu kalau benar ada keluarga yang datang menuntut, mereka biasanya terlambat – karena jenazah sudah lebih dulu dikremasi. Kasus semacam ini sering terjadi, lalu polisi akan turun tangan melindungi rumah sakit.

Ia menyimpulkan:  “Terlihat jelas bahwa seluruh sistem pemerintah dan sistem medis bekerja sama untuk menutupi kebenaran ini.”

Donor Dibunuh, Penerima Bersyukur – Rantai Tertutup Pengambilan Organ Hidup: Semua Demi Uang

Ibu Luo Shuaiyu mengungkapkan, pihak Rumah Sakit Xiangya pernah menawarkan uang tutup mulut sebesar 3 juta yuan untuk menghapus data di komputer putranya, tetapi keluarga menolak. Paman Luo juga mengatakan bahwa dalam waktu kurang dari tiga tahun, Luo Shuaiyu sudah ikut serta dalam lebih dari 200 operasi transplantasi ginjal, sehingga ia sangat mengetahui asal-usul ginjal-ginjal tersebut.

Dalam kasus pertama pasien dengan pendarahan otak, tidak ada informasi bahwa pihak rumah sakit pernah berkomunikasi dengan keluarga pasien atau bahwa keluarga setuju untuk mendonorkan organ. Bahkan saat proses pengambilan organ, penerima (resipien) belum ditentukan.

Dr. Lin menegaskan, secara normal harus ada uji sampel darah donor dan penerima untuk kecocokan jaringan. Tetapi dalam kasus itu, organ diambil terlebih dahulu, lalu baru disaring secara kasar, kemudian penerima langsung dijadwalkan operasi. Apakah pasien penerima bisa sehat setelah transplantasi, dokter sama sekali tidak peduli. Padahal ginjal itu sendiri tidak layak dipakai – penerima kemungkinan akan cepat mengalami kerusakan ginjal lagi, gagal organ, bahkan hidupnya justru semakin singkat.

Namun, pasien penerima tidak mengetahui asal-usul maupun kualitas organ. Ia percaya penuh pada dokter, dan bahkan berterima kasih karena merasa “susah payah” mendapatkan organ. Dr. Lin berkata:  “Padahal dokter-dokter ini sebenarnya hanya ingin mengambil uang Anda, karena organ itu sendiri tidak cocok untuk transplantasi. Sebenarnya ini adalah hal yang sangat menakutkan!”

Dr. Lin juga menambahkan, memang benar bahwa teknologi transplantasi di Tiongkok sudah maju, dengan banyak obat anti-penolakan. Terutama bila kecocokan kurang pas, dokter akan menggunakan obat anti-penolakan dalam jumlah besar, sehingga bisa bertahan sekitar setahun tanpa masalah.

Yang paling mengerikan adalah keluarga sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. “Karena seluruh proses dilakukan di dalam sistem medis, di ruang operasi. Keluarga pasien tidak mungkin bisa melihat, pasien donor juga tidak bisa, bahkan penerima pun tidak tahu… Ini sangat menakutkan.”

Ia melanjutkan:  “Dokter dan rumah sakit jelas mendapatkan keuntungan dari proses ini. Mekanismenya sendiri sudah menunjukkan, semua dilakukan hanya demi uang. Hal lain tidak ada artinya bagi mereka.”

Pembawa acara Jojo juga mengingatkan orang-orang yang berpikir untuk pergi ke Tiongkok demi transplantasi:  “Mungkin Anda mengira akan mendapatkan organ yang bagus. Namun kenyataannya, bisa jadi Anda menghabiskan banyak uang, bahkan mempertaruhkan hidup Anda, hanya untuk mendapatkan organ yang tidak cocok.”

Dr. Lin menyarankan agar warga Tiongkok daratan sangat berhati-hati. Ia menganjurkan membuat wasiat hukum yang menyatakan tidak pernah setuju mendonorkan organ, dan sebisa mungkin menghindari diambil sampel darah sembarangan, karena bisa saja digunakan untuk pencocokan organ. “Anda bisa saja suatu hari ditangkap di jalan, dinyatakan mati otak, lalu organnya diambil hidup-hidup.”

Ia menekankan:  “Sekarang di Tiongkok memang harus sangat waspada. Tes darah yang terlihat biasa saja, bisa jadi masuk ke database pencocokan organ, kita tidak tahu. Kasus orang hilang, terutama anak muda, jumlahnya semakin besar. Pertanyaan ini sudah sangat serius.”

Terakhir, Dr. Lin mengingatkan bahwa praktik pengambilan organ hidup oleh Partai Komunis Tiongkok sudah diungkap lebih dari 20 tahun lalu, meski dulu banyak orang tidak percaya. Kini semakin banyak bukti muncul, menunjukkan bahwa praktik ini benar-benar ada, bahkan berkembang hingga tanpa batas moral sama sekali.

Ia menyerukan:  “Skandal gelap ini harus ditolak oleh seluruh masyarakat, bukan hanya masyarakat Tiongkok, tetapi juga seluruh dunia harus berdiri melawan dan menghentikan kejahatan ini!”

Laporan disusun oleh Jin Hong / Lin Qing

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine