EtIndonesia. Pada Jumat (12 September), memasuki hari kelima kerusuhan di Nepal, sebagian besar wilayah sudah kembali normal. Di saat yang sama, generasi Z mendorong seorang mantan hakim perempuan yang menjadi simbol integritas dan reformasi, Sushila Karki, untuk menjabat sebagai perdana menteri sementara.
Meskipun pada Jumat masih ada kericuhan kecil di beberapa tempat, situasi secara umum mulai tenang.
Perdana menteri sementara terpilih, Sushila Karki, pada hari yang sama mengadakan pertemuan dengan presiden dan pihak militer.
Aktivis Generasi Z, Kamal Giri, mengatakan: “Pemimpin militer dan presiden telah menyetujui penunjukan mantan hakim agung Sushila Karki sebagai perdana menteri sementara, dan itu patut diapresiasi.”
Karki, yang kini berusia 73 tahun, dikenal dengan sikap zero tolerance terhadap korupsi sepanjang kariernya di dunia peradilan. Pada 2017, ia sempat diberhentikan sementara oleh Partai Komunis Nepal, dan sejak itu menjadi simbol keadilan di mata Generasi Z.
Perdagangan antara India dan Nepal yang terhenti hampir sepuluh hari juga mulai dipulihkan. Sebelumnya, Nepal mengalami kekurangan bensin yang parah.
Seorang sopir truk tangki asal India, Roshan, berkata: “Sudah 8 hari truk tangki saya kosong. Sehari setelah saya menurunkan muatan, protes dimulai. Baru hari ini saya mendapat tugas lagi.”
Di masa lalu, Partai Komunis Nepal menjalankan kebijakan “menjauh dari India dan mendekat ke Tiongkok,” ikut serta dalam proyek Belt and Road Initiative, bahkan merencanakan pembangunan jalur kereta api Tiongkok–Nepal senilai 7 miliar dolar AS. Namun, setelah tumbangnya Partai Komunis, rencana tersebut dipastikan batal.
Dalam wawancaranya dengan media India News18, perdana menteri baru Karki menegaskan bahwa dirinya memiliki hubungan baik dengan India, sekaligus menyampaikan salam kepada Perdana Menteri India, Narendra Modi. Pernyataan ini dipandang sebagai isyarat arah baru hubungan India–Nepal.
Sumber : NTDTV.com


