EtIndonesia. Di sebuah bar kecil di Amerika, seorang pemuda sedang memainkan piano dengan penuh kesungguhan. Harus diakui, permainannya memang cukup bagus, hingga setiap malam banyak orang datang hanya untuk mendengarkan lantunannya.
Suatu malam, seorang pria paruh baya yang menjadi pelanggan tetap berkata setelah mendengar beberapa lagu: “Anak muda, setiap hari aku datang ke sini mendengar permainanmu. Lagu-lagu yang kamu mainkan sudah begitu sering kudengar sampai rasanya membosankan. Bagaimana kalau sekali-sekali kamu bernyanyi untuk kami?”
Usulan itu langsung mendapat dukungan dari para penonton lain. Semua ikut meminta pemuda itu untuk menyanyi.
Namun, si pemuda justru tampak kikuk. Dengan wajah penuh rasa malu, dia berkata: “Maaf sekali, sejak kecil saya memang belajar memainkan alat musik, tapi tidak pernah belajar bernyanyi. Bertahun-tahun saya hanya duduk di sini memainkan piano. Kalau saya bernyanyi, mungkin akan sangat buruk.”
Pria paruh baya itu tersenyum dan berkata memberi semangat: “Justru karena kamu belum pernah bernyanyi, bisa jadi bahkan dirimu sendiri belum tahu kalau kamu sebenarnya punya bakat luar biasa sebagai penyanyi!”
Mendengar itu, manajer bar pun ikut mendorongnya, khawatir suasana jadi canggung. Meski merasa orang-orang hanya ingin melihatnya ditertawakan, pemuda itu tetap ditekan.
Pemilik bar akhirnya berkata tegas: “Kamu pilih: menyanyi, atau cari pekerjaan lain.”
Tak ada pilihan lain. Dengan wajah memerah, dia pun memberanikan diri menyanyikan lagu “Mona Lisa.”
Siapa sangka, sekali bernyanyi dia langsung membuat semua orang terpukau. Suaranya mengalir alami, penuh kehangatan, dan sarat dengan daya tarik maskulin. Para pendengar terpesona.
Sejak saat itu, dengan dorongan banyak orang, pemuda itu meninggalkan dunia permainan musik semata dan menapaki jalan baru sebagai penyanyi. Tak disangka, dia kemudian benar-benar menjadi salah satu legenda besar musik jazz Amerika. Pemuda itu adalah Nat King Cole.
Kalau bukan karena keberanian memaksa diri bernyanyi saat itu, mungkin Nat King Cole akan selamanya hanya menjadi seorang pianis kelas tiga di sebuah bar kecil.
Pesan yang bisa direnungkan: Kadang, pekerjaan yang kita tekuni bukanlah bidang yang paling cocok dengan bakat sejati kita. Kita terbiasa dan merasa nyaman, sehingga takut untuk berubah. Namun, jika berani mencoba hal baru, bisa jadi kita menemukan potensi yang jauh lebih besar dalam diri kita.


