EtIndonesia. Pada masa awal pemukiman di Alaska, Amerika Serikat, ada sepasang suami-istri muda. Namun, tak lama setelah pernikahan, istrinya meninggal dunia karena melahirkan, meninggalkan seorang bayi yang harus dirawat sang suami seorang diri.
Kesibukannya mencari nafkah sekaligus mengurus rumah membuat dia tidak mampu sepenuhnya menjaga sang anak. Maka, dia melatih seekor anjing peliharaannya. Anjing itu cerdas dan patuh. Dia bisa membantu merawat bayi, bahkan mampu menggigit botol susu dan memberikannya kepada sang bayi.
Suatu hari, sang tuan harus pergi keluar desa. Sebelum berangkat, dia berpesan pada anjing itu untuk menjaga anaknya. Namun, karena badai salju besar, dia tidak bisa pulang hari itu dan baru kembali ke rumah keesokan harinya.
Begitu tuannya tiba, anjing itu segera keluar menyambutnya dengan penuh semangat. Tapi saat pintu rumah dibuka, pemandangan yang terlihat membuat sang tuan syok: darah berceceran di mana-mana, ranjang penuh bercak merah, dan bayinya tidak tampak. Sementara anjing kesayangannya berdiri di sampingnya dengan mulut berlumuran darah.
Melihat itu, dia langsung mengira anjingnya telah menyerang dan memakan anaknya. Dipenuhi amarah dan duka, dia mengambil pisau dan menebas kepala anjing itu hingga mati.
Tak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi dari bawah ranjang. Sang bayi merangkak keluar—penuh bercak darah, tapi sama sekali tidak terluka.
Dia pun memeluk bayinya dengan lega, tetapi juga penuh kebingungan. Saat melihat sekeliling, dia baru menyadari kebenarannya: di dekat tubuh anjingnya, ada seekor serigala mati dengan mulut masih menggigit daging dari kaki anjing.
Ternyata, anjing setianya telah bertarung melawan serigala demi melindungi bayinya. Dia berhasil menyelamatkan sang anak—namun justru mati di tangan tuannya sendiri karena sebuah kesalahpahaman.
Pesan yang bisa direnungkan:
Kesalahpahaman sering lahir ketika kita terburu-buru mengambil kesimpulan—tanpa berpikir jernih, tanpa kesabaran, dan tanpa mencoba memahami pihak lain. Akibatnya, kita mudah menganggap semua kesalahan ada pada orang lain.(jhn/yn)
Jika kesalahpahaman terhadap seekor anjing saja bisa berakhir dengan tragedi yang begitu menyedihkan, maka kesalahpahaman antar manusia tentu bisa membawa konsekuensi yang jauh lebih buruk.


