EtIndonesia. Militer Arab Saudi secara terbuka melontarkan kritik keras terhadap sistem pertahanan anti-drone asal Tiongkok, SkyShield, yang di dalamnya termasuk modul laser “Silent Hunter”. Senjata yang semula dipromosikan sebagai teknologi mutakhir ini ternyata tidak mampu memenuhi ekspektasi ketika diuji di medan perang gurun, sehingga memicu kekecewaan mendalam di pihak Riyadh.
Laporan Awal: 4 September 2025
Pada 4 September 2025, Defence Blog merilis laporan pertama yang mengutip pejabat militer Saudi. Mereka menilai sistem laser “Silent Hunter” tidak bekerja efektif di lapangan. Dalam kondisi gurun yang penuh debu dan panas, performa laser melemah drastis. Bahkan, proses untuk benar-benar menghancurkan satu unit drone membutuhkan waktu 15 hingga 30 menit pencahayaan berkelanjutan—waktu yang sama sekali tidak realistis dalam situasi tempur.
Konfirmasi Internasional: 5 September 2025
Keesokan harinya, pada 5 September 2025, majalah Newsweek menurunkan artikel dengan judul “Chinese Laser Weapon Fails Test in Desert”. Dalam laporan itu ditegaskan bahwa Arab Saudi menghadapi kesulitan besar menggunakan sistem buatan Tiongkok ini karena:
- Laser melemah ketika ada debu, pasir, atau kabut panas.
- Konsumsi energi sangat tinggi untuk pendinginan, sehingga mengurangi daya tembak.
- Waktu reaksi lambat, tidak cocok menghadapi serangan drone swarm yang cepat.
Laporan ini mempertegas bahwa kegagalan Silent Hunter bukan hanya isu teknis kecil, tetapi masalah mendasar dalam desain senjata laser ketika digunakan di lingkungan ekstrem.
Laporan Lanjutan: 8 September 2025
Pada 8 September 2025, Global Defense Corp kembali memperkuat isu ini dengan merilis laporan lebih tajam. Artikel tersebut menyebutkan bahwa bukan hanya “Silent Hunter” yang gagal, tetapi juga sistem pertahanan udara HQ-17AE yang dibeli bersamaan. Menurut laporan, keduanya tidak mampu mencegat serangan drone maupun rudal sebagaimana dijanjikan oleh pihak Tiongkok.
Lebih lanjut, militer Saudi menyebut justru kendaraan pengacau sinyal elektronik JN-1101—yang menjadi bagian dari paket SkyShield—lebih sering berhasil menjatuhkan drone musuh. Fakta ini menegaskan bahwa soft kill berbasis elektronik jauh lebih efektif ketimbang senjata laser di medan gurun.
Masalah Teknis Utama Silent Hunter
| Masalah | Penjelasan | Dampak |
| Debu & Pasir | Partikel di udara menghamburkan sinar laser sehingga melemah sebelum mencapai target. | Akurasi rendah, sulit menjatuhkan drone bergerak cepat. |
| Pendinginan Boros Energi | Temperatur gurun tinggi membuat sistem pendingin menyedot daya besar. | Daya tembak laser berkurang signifikan. |
| Waktu Penargetan Lama | Butuh 15–30 menit paparan laser untuk menghancurkan drone. | Terlalu lambat untuk perang modern. |
| Mobilitas & Setup | Perlu garis pandang terbuka dan waktu penyiapan panjang. | Sulit digunakan dalam situasi darurat. |
Tuntutan Arab Saudi
Dengan hasil yang mengecewakan ini, Arab Saudi menuntut Tiongkok melakukan perbaikan besar-besaran pada SkyShield. Riyadh menegaskan bahwa investasi miliaran dolar tidak boleh berakhir dengan sistem pertahanan yang “gagal tempur” di lapangan.
Pihak Saudi juga memperingatkan bahwa teknologi laser—meskipun tampak futuristik—belum bisa diandalkan sebagai pertahanan utama, terutama dalam iklim gurun yang ekstrem.
Analisis Strategis
- Bagi Arab Saudi:
- Sistem pertahanan harus mengandalkan kombinasi: radar, jamming elektronik, rudal pencegat, dan baru laser sebagai pelengkap.
- Tidak bisa mengandalkan satu teknologi saja, terutama yang belum matang.
- Bagi Tiongkok:
- Kegagalan ini menjadi pukulan reputasi besar dalam ekspor senjata.
- Perlu riset lebih dalam untuk mengatasi kelemahan cuaca, pendinginan, dan respons cepat.
- Bagi Dunia:
- Senjata laser masih dalam tahap transisi dari uji coba laboratorium ke operasi tempur nyata.
- Perlu pengembangan jangka panjang sebelum benar-benar menjadi pilar pertahanan udara modern.
Kesimpulan
Kritik terbuka Arab Saudi antara 4–8 September 2025 menjadi bukti bahwa sistem laser Tiongkok “Silent Hunter” belum siap menghadapi kondisi perang gurun. Walau menjanjikan di atas kertas, senjata energi terarah ini masih memiliki keterbatasan besar. Ke depan, teknologi jamming elektronik, rudal konvensional, dan sistem pertahanan berlapis diperkirakan akan tetap menjadi pilihan utama—sementara laser hanya berfungsi sebagai senjata pendamping.


