EtIndonesia. Ada seorang pelukis miskin yang hidupnya sangat sengsara. Dia tetap teguh pada mimpinya: hanya mau melukis, dan sama sekali enggan melakukan pekerjaan lain. Namun sayangnya, tidak satu pun karya yang dia hasilkan laku terjual. Akibatnya, dia sering kelaparan dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untungnya, ada seorang pemilik restoran di sudut jalan yang berhati baik. Sang pemilik kerap mengizinkannya makan dengan cara berutang. Karena itu, setiap hari pelukis itu selalu datang makan di restoran tersebut.
Suatu hari, saat sedang makan, tiba-tiba inspirasi datang menghampirinya. Tanpa banyak pikir panjang, dia meraih serbet putih bersih di meja, lalu mengambil kuas yang selalu dia bawa, mencelupkannya ke saus tomat, kecap, dan berbagai bumbu di atas meja. Dengan penuh semangat, dia pun mulai melukis di serbet itu.
Sang pemilik restoran tidak menghentikannya. Sebaliknya, karena saat itu restoran sedang sepi, dia berdiri di belakang pelukis itu, memperhatikan dengan serius bagaimana dia berkarya.
Setelah cukup lama, akhirnya lukisan di atas serbet selesai. Sang pelukis menatapnya dengan puas, mengangguk-angguk, dan dalam hati merasa bahwa itu adalah karya terbaik sepanjang hidupnya.
Saat itulah, pemilik restoran berkata: “Hei, bisakah kamu memberikan lukisan ini padaku? Sebagai gantinya, aku akan menghapus semua utang makanmu. Anggap saja aku membeli lukisan ini darimu. Bagaimana menurutmu?”
Pelukis itu terkejut bercampur haru: “Apa? Bahkan kamu pun bisa melihat nilai dari lukisanku? Ah! Sepertinya, aku benar-benar sudah dekat dengan kesuksesan!”
Namun pemilik restoran buru-buru meluruskan: “Oh tidak, tolong jangan salah paham. Begini, aku punya seorang anak. Sama sepertimu, dia juga hanya ingin menjadi pelukis. Aku membeli lukisan ini supaya bisa kugantung di rumah. Dengan begitu, anakku bisa selalu melihatnya—dan menjadikannya peringatan, agar jangan sampai hidupnya berakhir sepertimu.”
Pesan yang bisa direnungkan:
Keteguhan adalah salah satu dari kunci kesuksesan. Tetapi bila kita keras kepala mempertahankan jalan yang salah, tanpa pernah mau mengoreksi diri, maka keteguhan itu justru bisa menjadi penyebab kegagalan terbesar.


