EtIndonesia. Pada awal 1960-an, seorang rektor universitas di Amerika mencalonkan diri sebagai anggota senat negara bagian. Dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, kecerdasan, serta wawasan luas, banyak orang percaya peluang kemenangannya sangat besar.
Namun, di masa kampanye beredar sebuah rumor jahat: dia disebut-sebut pernah memiliki hubungan “istimewa” dengan seorang dosen perempuan muda. Karena tidak bisa menahan amarah atas fitnah itu, sang calon setiap kali berkampanye selalu berusaha keras membantah.
Padahal, sebagian besar pemilih sebelumnya sama sekali belum pernah mendengar rumor tersebut. Akan tetapi, karena dia terus-menerus menyinggung dan membela diri, publik justru semakin yakin bahwa kabar itu benar adanya.
Bahkan orang-orang dengan lantang balik bertanya: “Kalau memang tidak bersalah, mengapa harus berulang kali menjelaskan?”
Yang paling menyedihkan, istrinya sendiri akhirnya ikut percaya, sehingga rumah tangga mereka pun hancur. Pada akhirnya, dia kalah telak dalam pemilihan dan tidak pernah bisa bangkit lagi sepanjang hidupnya.
Berbeda halnya dengan Arnold Schwarzenegger, sang bintang film laga, saat mencalonkan diri sebagai gubernur. Dia juga mendapat banyak serangan dan tuduhan. Tetapi, dia memilih untuk tidak menggubrisnya, tidak meladeni, dan tidak memberikan penjelasan panjang lebar. Justru sikap tenang dan cuek itu membuatnya semakin disukai publik, karena dianggap punya wibawa dan percaya diri. Alhasil, dia berhasil memenangkan pemilihan.
Pesan yang bisa direnungkan:
Begitulah hidup. Jika ingin meraih tujuan, fokuslah pada apa yang ingin dicapai. Jangan biarkan gangguan kecil atau fitnah menguras energi dan merusak suasana hati. Kadang, dengan menghindar atau membiarkan, badai akan berlalu dengan sendirinya.
Terus-menerus meladeni hal sepele hanya akan menghabiskan waktu, merusak citra diri, bahkan bisa menjadi awal kegagalan hidup.(yn)


