EtIndonesia. Pengunjuk rasa di Timor Leste berjanji akan terus melakukan aksi hingga rencana pembelian mobil baru untuk anggota parlemen dibatalkan. Gelombang demonstrasi di ibu kota berujung bentrokan dengan polisi.
Dikutip dari ABC, Perdana Menteri Timor Leste menyerukan agar massa menghindari kekerasan setelah pengunjuk rasa di Dili membakar ban, sebuah kendaraan pemerintah di dekat gedung parlemen, serta melempar batu ke arah aparat. Polisi membalas dengan menembakkan gas air mata.
Sekitar 2.000 orang turun ke jalan pada Selasa (16/9/2025), jumlah yang hampir dua kali lipat dibandingkan aksi sehari sebelumnya. Mereka memprotes rencana pengadaan mobil SUV Toyota Prado untuk masing-masing dari 65 anggota parlemen.
Aksi ini melanjutkan demonstrasi sehari sebelumnya, yang mendorong sejumlah partai politik menyatakan akan meminta parlemen membatalkan rencana tersebut. Padahal, partai-partai itu sebelumnya ikut menyetujui anggaran 2025 yang mencantumkan pembelian mobil dinas.
Para pengunjuk rasa menegaskan akan terus beraksi hingga rencana tersebut resmi dicabut.
“Kami ingin keputusan pembelian mobil itu dibatalkan. Keputusan ini harus diambil oleh ketua parlemen nasional,” kata aktivis Domingos de Andrade (34) kepada wartawan, Selasa (16/9).
Massa juga membawa spanduk bertuliskan seruan kepada pemerintah untuk “Hentikan pencuri”.
Presiden Timor Leste, Jose Ramos-Horta, menegaskan kepada wartawan pada Selasa bahwa tidak akan ada toleransi terhadap aksi kekerasan dalam demonstrasi.
Sehari sebelumnya, tiga partai politik—Kongres Nasional untuk Rekonstruksi Timor, Partai Demokrat, dan Enrich the National Unity of the Sons of Timor—mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebut rencana pembelian mobil untuk anggota parlemen itu “tidak mencerminkan kepentingan publik”. Mereka berjanji akan meminta parlemen membatalkan keputusan tersebut.
Timor Leste, negara termuda di Asia Tenggara, meraih kemerdekaan dari Indonesia pada 2002. Bekas koloni Portugis itu hingga kini masih menghadapi ketimpangan sosial, masalah gizi buruk, dan pengangguran, dengan perekonomian yang sangat bergantung pada minyak.
Sebulan lalu, kerusuhan mematikan meletus di Indonesia setelah beredar video mobil polisi menabrak pengendara motor. Insiden itu menyulut kemarahan publik terkait fasilitas mewah anggota parlemen, rendahnya upah, dan tingginya angka pengangguran.


