Sistem sensor internet Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang dikenal sebagai “Tembok Api Besar” (Great Firewall) mengalami kebocoran rahasia terbesar dalam sejarah. Hal ini membuat dunia luar dapat mengintip bagaimana sistem sensor internet itu bekerja. Terkait hal ini, NTD mewawancarai Bill Xia, presiden Dynamic Internet Technology (DIT) sekaligus pengembang perangkat lunak anti-sensor FreeGate.
EtIndonesia. Baru-baru ini, dokumen internal perusahaan Geedge Networks Ltd. — didirikan oleh Fang Binxing, yang dikenal sebagai “Bapak Tembok Api Besar Tiongkok” — bocor dalam jumlah besar. Total file yang bocor mencapai sekitar 600 GB, termasuk lebih dari 500 GB kode sumber, log kerja terperinci, catatan komunikasi internal, serta dokumen proyek kerja sama dengan berbagai pemerintah asing.
Dokumen tersebut menunjukkan bahwa teknologi yang disediakan Geedge mencakup: penyaringan situs web dan aplikasi, pemantauan lalu lintas internet secara real-time, pembatasan lalu lintas regional atau pemutusan koneksi internet, identifikasi pengguna anonim melalui jejak digital, serta pemblokiran VPN dan alat anti-sensor lainnya.
Menurut Bill Xia, informasi ini untuk pertama kalinya secara lengkap dan sistematis mengungkap mekanisme operasional serta detail teknis penyensoran internet oleh Partai Komunis Tiongkok.
“Selama ini, yang disebut Great Firewall ibarat sebuah tembok yang tidak terlihat—orang baru tahu setelah menabraknya. Sekarang, sebagian dari tembok itu diletakkan di bawah sinar matahari, sehingga publik bisa melihat bagaimana setiap bata disusun,” katanya.
“Ini meningkatkan pemahaman publik tentang sensor internet PKT. Dari sisi teknis, ini juga membantu para peneliti di luar negeri untuk lebih memahami alat apa yang efektif menembus sensor tersebut,” tambahnya.
Bocoran dokumen itu juga mengungkap detail tentang pembangunan firewall tingkat provinsi di Xinjiang, Jiangsu, Fujian, dan wilayah lain di Tiongkok. Xia menilai ini hanyalah puncak gunung es, karena penyensoran internet tingkat nasional PKT ditangani oleh tim yang jauh lebih besar.
“Firewall tingkat negara memang sebagian ditempatkan di level provinsi, tetapi pekerjaan yang dilakukan perusahaan ini berbeda. Dalam dokumen mereka tertulis memiliki 20 tahun pengalaman di bidang ini, tampaknya mereka menjual teknologi lama secara komersial. Sementara tim inti PKT memiliki teknologi yang jauh lebih besar dan lebih canggih dalam praktiknya,” ujarnya.
Bocoran dokumen juga menyebut adanya sistem bernama “TianGou” (Anjing Surgawi), mirip dengan Great Firewall, yang setidaknya telah dijual ke Kazakhstan, Ethiopia, Myanmar, dan Pakistan, serta ke sebuah negara misterius dengan kode A24, untuk digunakan dalam sensor internet.
“Sebelumnya memang ada laporan bahwa firewall negara PKT melakukan pemantauan real-time dan bahkan menyerang situs web lain. Industri sudah tahu teknologi ini, meski itu dianggap tindakan bandit siber. Tapi perusahaan ini justru mengemas teknologi itu sebagai produk untuk dijual,” katanya.
“Pada 1990-an, PKT mengusung konsep ‘perang tanpa batas’. Kini mereka terang-terangan menjual teknologi represif ini sebagai produk. Hal ini sangat mengejutkan—teknologi dijual tanpa sedikit pun moralitas,” ujarnya.
Dua minggu lalu, Amnesty International merilis laporan baru berjudul “Shadows of Control” (Bayangan Kontrol), yang mengungkap bahwa Geedge pada 2023 memasok teknologi firewall terbaru WMS 2.0 kepada pemerintah Pakistan, yang mampu memblokir hingga 2 juta koneksi aktif sekaligus.
Menurut Xia, teknologi ini tidak hanya untuk pemblokiran, tetapi juga berpotensi menyusupkan program pengawasan ke perangkat pengguna.
“Banyak situs asing sudah diblokir total, jadi mustahil diakses. Namun jika ada situs yang tidak diblokir, maka kontennya bisa dimanipulasi. Saat pengguna mengakses situs itu, mereka bisa diarahkan ke situs lain dan terinfeksi trojan. Ini bisa menjadi saluran untuk memata-matai para pembangkang,” jelasnya.
“Untuk firewall korporat normal tidak ada kebutuhan seperti ini, tetapi negara-negara seperti Myanmar dan Pakistan mungkin justru menginginkannya, karena bisa menakut-nakuti rakyat mereka,” imbuhnya.
Xia percaya kebocoran besar ini adalah ulah orang dalam. Ia menilai hal ini merupakan pukulan terhadap PKT dan meyakini di masa depan akan ada lebih banyak orang yang terdorong untuk mencari cara mengirimkan informasi rahasia ke luar negeri demi mengungkap kebenaran.
Sumber : NTDTV.com


