EtIndonesia. Situasi di Jalur Gaza kembali memanas. Pada malam 15 September, setelah gelombang serangan udara intensif yang mengguncang kota, tank-tank Israel bergerak masuk ke jantung Kota Gaza. Langkah ini menandai dimulainya operasi darat besar-besaran yang telah lama diprediksi oleh analis militer internasional.
Tujuan Operasi: Hancurkan Hamas
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa tujuan utama operasi ini adalah menghancurkan infrastruktur Hamas sekaligus melemahkan kemampuan organisasi tersebut melancarkan serangan roket maupun operasi lintas batas.
“Tidak ada jalan mundur. Hamas harus dilenyapkan dari Gaza,” tegas Netanyahu dalam pernyataan resminya di Tel Aviv.
Evakuasi Massal Warga Sipil
Israel sebelumnya menyerukan sekitar 1 juta warga Gaza untuk segera mengungsi ke “zona aman” di bagian selatan. Data dari lembaga kemanusiaan menunjukkan setidaknya 300.000 orang telah meninggalkan Kota Gaza hanya dalam hitungan jam setelah seruan itu. Namun, PBB dan kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa jalur evakuasi tidak sepenuhnya aman karena masih terjadi pertempuran di beberapa titik.
Kekhawatiran dari Kalangan Militer dan Intelijen Israel
Meski pemerintah Israel menegaskan operasi ini krusial, sejumlah perwira militer dan intelijen menyuarakan peringatan keras. Mereka menilai langkah ini berisiko tinggi:
- Nyawa 20 sandera Israel yang diyakini masih hidup ditahan Hamas bisa terancam.
- Potensi korban besar di pihak militer Israel sendiri, mengingat Hamas memiliki jaringan terowongan dan jebakan yang kompleks di Gaza.
- Operasi yang berkepanjangan dikhawatirkan akan memicu eskalasi regional, termasuk kemungkinan intervensi kelompok milisi pro-Iran di Lebanon dan Suriah.
Dukungan Amerika Serikat
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang sehari sebelumnya bertemu dengan Netanyahu, menyampaikan dukungan penuh Washington. “Pemerintahan Trump berdiri bersama Israel,” ujarnya. Namun Rubio juga menambahkan harapan agar operasi ini dilakukan secara cepat dan tidak berlarut-larut.
Sementara itu, Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan keras melalui media sosial. Dia menegaskan bahwa jika Hamas berani melukai para sandera Israel, maka “konsekuensinya akan fatal.”
Reaksi Internasional
- PBB menyerukan penghentian operasi darat dan membuka koridor kemanusiaan untuk warga sipil.
- Uni Eropa memperingatkan kemungkinan krisis kemanusiaan yang lebih besar bila Israel tidak mengizinkan bantuan masuk secara aman.
- Mesir dan Qatar berupaya menjadi mediator untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, namun hingga kini belum ada kesepakatan gencatan senjata.
Situasi di Lapangan
Saksi mata melaporkan bahwa tank-tank Israel bergerak dari sisi utara Gaza, menembus kawasan permukiman padat. Ledakan dan tembakan artileri terdengar hampir tanpa henti sepanjang malam. Rumah sakit di Gaza dilaporkan kewalahan dengan jumlah korban luka yang terus bertambah, sementara listrik dan pasokan air semakin terbatas.


