Tyler Robinson diduga menulis: ‘Saya punya kesempatan untuk menyingkirkan Charlie Kirk, dan saya akan melakukannya.’
EtIndonesia. Tersangka pembunuhan terhadap influencer konservatif Charlie Kirk diduga mengakui perbuatannya lewat pesan singkat, demikian disampaikan pihak berwenang pada 16 September 2025.
Mereka juga mengatakan bahwa tersangka, Tyler Robinson, meninggalkan sebuah catatan di bawah keyboard komputernya yang menyatakan niatnya untuk membunuh Kirk.
Menurut otoritas, Robinson menghubungi pasangan sekaligus teman sekamarnya—seorang pria yang sedang dalam proses transisi menjadi perempuan—pada 10 September, hanya beberapa jam setelah Kirk ditembak saat mengisi acara di Utah Valley University.
“Lepaskan semua yang sedang kamu lakukan. Lihat di bawah keyboard saya,” tulis Robinson dalam pesan singkat, kata Jaksa Wilayah Utah County, Jeff Gray, dalam konferensi pers. Teman sekamarnya lalu menemukan catatan bertuliskan: “Saya punya kesempatan untuk menyingkirkan Charlie Kirk, dan saya akan melakukannya.”
Robinson kemudian menyampaikan bahwa ia terjebak di Orem, lokasi penembakan, dan ingin pulang setelah mengambil senapannya. “Saya berharap bisa menyimpan rahasia ini sampai mati karena usia tua. Saya minta maaf sudah melibatkanmu,” tulisnya lagi.
“Bukan kamu yang melakukannya, kan?” tanya sang teman, menurut Gray. Robinson diduga menjawab, “Saya. Maaf.”
Ketika ditanya alasan penembakan, Robinson menjawab: “Saya sudah cukup dengan kebenciannya. Ada kebencian yang tidak bisa dinegosiasikan,” demikian menurut Brian Davis dari Utah State Bureau of Investigations dalam dokumen tertanggal 16 September.
Robinson resmi didakwa dengan tuduhan pembunuhan berencana yang diperberat, serta sejumlah pelanggaran lain.
Teman sekamarnya tidak dijerat dakwaan. Robinson sempat mendesaknya untuk menghapus pesan yang memberatkan, tetapi pesan itu justru disimpan dan diserahkan ke aparat.
Menurut Gray, ibu Robinson ketika pertama kali melihat foto tersangka penembakan merasa wajahnya mirip anaknya. Ia menunjukkan foto itu ke suaminya, yang juga sepakat.
Ibu Robinson kemudian menyampaikan bahwa selama setahun terakhir, Robinson semakin politis dan cenderung ke kiri, termasuk mendukung isu LGBT. Ia mulai berpacaran dengan teman sekamarnya dan kerap berdebat dengan keluarga soal berbagai topik.
Dalam salah satu percakapan, Robinson sempat menyebut acara Kirk di Utah Valley University sebagai “tempat bodoh” dan menuduh Kirk menyebarkan kebencian.
Setelah ayah Robinson melihat gambar CCTV tersangka, ia meminta anaknya mengirim foto senapan hadiah yang dimilikinya. Robinson tidak menjawab, namun berbicara lewat telepon dan sempat menyiratkan niat bunuh diri. Kedua orang tuanya lalu membujuknya untuk pulang menemui mereka.
Dalam pertemuan itu, Robinson mengisyaratkan bahwa dialah penembaknya dan menolak masuk penjara. Ketika ditanya alasan penembakan, ia kembali menyebut bahwa Kirk “menyebarkan terlalu banyak kebencian.”
Akhirnya, setelah diyakinkan orang tua dan seorang teman keluarga yang merupakan pensiunan wakil sheriff, Robinson sepakat menyerahkan diri.
Menurut Davis, bukti yang memperkuat dakwaan termasuk DNA Robinson yang ditemukan pada pelatuk senapan yang diyakini digunakan untuk menembak Kirk, dan senjata itu ditemukan polisi tak jauh dari lokasi kejadian.
Selain itu, polisi menemukan tulisan yang diukir pada peluru yang digunakan Robinson, di antaranya berbunyi: “Jika kamu membaca ini, kamu GAY.”
Robinson dijadwalkan hadir pertama kali di pengadilan Utah secara virtual dari penjara untuk mendengar dakwaan terhadapnya sekaligus memastikan ia didampingi pengacara.
Sumber : Theepochtimes.com


