EtIndonesia. Saat bencana kelaparan melanda, semakin banyak orang yang mengungsi. Wang Laoliu pun ikut bergabung dengan barisan pengungsi, memanggul seluruh harta bendanya—sekarung ubi jalar.
Di tengah perjalanan, dia bertemu seorang ayah dan anak yang sudah hampir mati kelaparan. Sang ayah juga membawa sebuah karung berat di punggungnya. Melihat Wang Laoliu membawa banyak ubi, dia meminta sebiji untuk anaknya. Wang Laoliu menolak.
Akhirnya, sang ayah berkata: “Kalau begitu, maukah kamu menjualnya? Aku akan menukarnya dengan ini.”
Sambil berkata, dia menumpahkan isi karungnya ke tanah—penuh dengan perak!
Wang Laoliu terperangah. Seumur hidup miskin, dia bahkan tak pernah bermimpi melihat perak sebanyak itu. Dengan girang, dia pun menukar ubi jalar dengan perak, lalu mempercepat langkahnya, khawatir ayah dan anak itu berubah pikiran.
Namun, beberapa hari kemudian, Wang Laoliu kelelahan dan nyaris mati kelaparan. Perak yang dipanggulnya tak bisa ditukar dengan makanan, karena sepanjang jalan tak ada apa pun yang bisa dibeli. Tak lama, ayah dan anak itu berhasil menyusulnya, kini mereka memanggul karung berisi ubi jalar.
Melihat itu, Wang Laoliu menyesal. Dia mencoba membeli kembali ubinya, tapi sang ayah menolak. Putus asa, Wang Laoliu jatuh terduduk sambil memeluk peraknya—dan akhirnya mati kelaparan.
Di alam baka, dia berhadapan dengan Raja Yama.
“Sebenarnya aku ingin memberimu kesempatan menjadi kaya, tapi siapa sangka itu justru merenggut nyawamu. Benarlah pepatah: manusia mati karena harta, burung mati karena makanan,” kata Raja Yama.
Wang Laoliu membela diri: “Aku miskin seumur hidup. Maka di kehidupan ini, aku tak mau lagi jadi orang miskin.”
Raja Yama berkata: “Padahal hidupmu dulu tidak seharusnya semiskin itu. Kalau saja kamu hanya menjual separuh ubi, kamu masih bisa hidup. Tapi kamu menjual semuanya. Nah, untuk kehidupan berikutnya, aku beri dua pilihan: pertama, satu orang ditopang oleh sepuluh ribu orang; kedua, satu orang harus menopang sepuluh ribu orang. Mana yang kamu pilih?”
Tanpa berpikir panjang, Wang Laoliu menjawab: “Tentu saja aku ingin ditopang oleh sepuluh ribu orang!”
Dia pun pergi dengan penuh rasa syukur.
Tiga puluh tahun kemudian, Wang Laoliu kembali menghadap Raja Yama, mengeluh keras: “Tuan menipuku! Aku sudah hidup miskin seumur hidup!”
Raja Yama tertawa: “Bagaimana bisa aku menipumu? Bukankah kamu memilih hidup yang ditopang sepuluh ribu orang? Itulah pengemis! Sepuluh ribu orang memberimu makan, tapi kamu tidak memberi siapa pun. Jangan salahkan aku, salahkan keserakahanmu sendiri.”
Kali ini Wang Laoliu meratap: “Tuan Raja Yama, aku mohon, biarkan aku hidup enak di kehidupan berikutnya!”
Raja Yama mengangguk: “Baik, ada dua pekerjaan bagus: menjaga sebuah gunung emas, atau menjaga sebidang tanah. Pilihlah.”
Wang Laoliu berpikir sejenak, lalu berkata: “Menjaga gunung emas pasti lebih baik.”
Raja Yama menatap punggungnya yang menjauh, lalu bergumam: “Hidupnya memang ditakdirkan miskin. Menjaga tanah berarti jadi pejabat besar; menjaga gunung emas berarti jadi seekor tikus, mengawasi lumbung padi…”
Pesan yang bisa direnungkan:
Hidup adalah hasil dari pilihan kita sendiri. Jalan yang sama bisa ditempuh dengan cara berbeda: ada yang berjalan santai, ada yang berlari, ada pula yang berkendara. Hasilnya tentu tidak sama.
Demikian pula dengan nasib. Ada yang menantang dengan senyum, ada yang meratap dengan tangis, ada pula yang diam menerima. Sikap berbeda, hasilnya pun berbeda.
Tak ada siapa pun yang bisa menetapkan pola hidupmu. Semua bergantung pada pilihanmu sendiri.(jhn/yn)


