Satu Milimeter Keyakinan

EtIndonesia. Dia adalah bintang utama dalam sebuah kelompok akrobat, terkenal karena aksi berbahaya berjalan di atas tali baja pada ketinggian beberapa meter dari tanah.

Dengan bertelanjang kaki, dia menyeberangi tali sepanjang 10 meter yang terbentang lima hingga enam meter di udara. Di tangannya, dia memegang sebuah tongkat panjang bercorak unik: bagian tengah berwarna hitam, sementara kedua ujungnya dilapisi warna biru dan putih. Tongkat itu adalah alat keseimbangan yang membuat aksinya begitu menegangkan sekaligus indah.

Bertahun-tahun lamanya dia beraksi tanpa sekalipun melakukan kesalahan. Dia bahkan mampu menambahkan gerakan salto kecil dan lompatan ringan di atas tali baja, memukau setiap penonton yang hadir.

Namun, suatu ketika, dalam perjalanan pulang dari tur pertunjukan luar kota, truk pengangkut perlengkapan mengalami kecelakaan dan tongkat kesayangannya patah. Pihak manajemen grup akrobat sangat serius menanganinya, lalu membuat pengganti dengan ukuran yang sama persis—panjang, ketebalan, hingga beratnya—semua identik. Setelah dia merasa cukup terbiasa dengan tongkat baru, barulah pelukis memberi corak cat biru-putih seperti yang lama.

Hari pertunjukan pun tiba. Diiringi tepuk tangan meriah, dia naik ke tali baja dengan senyum percaya diri. Seperti biasa, dia menerima tongkat panjang dari asistennya. Dia menghitung blok warna biru dari ujung kiri—sampai ke blok kesepuluh—dan menggenggamnya. Lalu dari ujung kanan, dia pun menghitung blok kesepuluh, dan menggenggam dengan tangan satunya. Jarak inilah yang selama ini dia rasakan paling pas untuk menjaga keseimbangan.

Namun, kali ini dia merasa jarak kedua tangannya lebih pendek dari biasanya. Hatinya langsung bergetar:  “Apakah tongkat ini dipotong lebih pendek? Tidak mungkin!”

Dengan cemas, dia menggeser sedikit kedua tangannya ke kiri dan ke kanan, hingga menemukan posisi yang menurutnya pas. Tapi dia sadar, posisinya kini tidak lagi tepat di tengah blok biru. Sejak itu, dia mulai meragukan tongkatnya sendiri.

Sementara penonton kembali bertepuk tangan, dia tidak punya waktu untuk berpikir lebih jauh. Dia menarik napas dalam, menggenggam tongkat, lalu mulai melangkah ke tengah tali. Beberapa langkah pertama berjalan lancar, tetapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa tidak percaya diri. Telapak tangannya mulai berkeringat.

Ketika tiba di tengah, dia mencoba melakukan lompatan kecil seperti biasa. Namun, keraguannya membuat keseimbangannya goyah. Seketika itu juga dia terjatuh ke bawah, mengalami patah tulang pergelangan kaki. Pertunjukan pun terhenti.

Belakangan, setelah diperiksa, panjang tongkat itu ternyata tidak berubah sama sekali. Hanya saja, sang tukang cat tanpa sengaja memperpanjang blok warna biru-putih satu milimeter lebih panjang dari biasanya.

Pesan yang bisa direnungkan:
Banyak kali, rasa percaya diri kita tidak runtuh karena perubahan nyata pada kenyataan, melainkan karena pikiran kita yang terjebak pada kebiasaan dan persepsi semata. Seperti tongkat yang panjangnya tetap sama, hanya pola cat yang berubah satu milimeter, tapi cukup untuk menggoyahkan keyakinan sang akrobat.

Kadang, yang membedakan antara keberhasilan dan kegagalan hanyalah satu milimeter rasa percaya diri. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine