Timur Tengah Membara! Israel Gempur Gaza dan Yaman dalam Sehari”

EtIndonesia. Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel melancarkan serangan ganda yang menargetkan dua front sekaligus: Jalur Gaza dan Yaman. Langkah ini mempertegas strategi agresif Israel dalam menghadapi ancaman regional, sekaligus memicu gelombang kecaman internasional.

Serangan Udara Israel ke Pelabuhan Hodeidah, Yaman

16 September 2025 – Pada dini hari, jet tempur Israel menggempur Pelabuhan Hodeidah di Yaman, wilayah yang dikuasai kelompok Houthi. Tel Aviv menuduh pelabuhan tersebut digunakan sebagai jalur penyelundupan senjata Iran menuju milisi di Lebanon dan Gaza.

Menurut laporan militer Israel, 12 serangan udara diluncurkan secara beruntun, menghantam tiga terminal utama pelabuhan. Rekaman satelit menunjukkan sebagian besar infrastruktur pelabuhan luluh lantak. Belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban, namun otoritas Houthi menyebut puluhan pekerja pelabuhan menjadi korban luka.

Serangan ini menandai eskalasi baru, karena Israel jarang melakukan operasi langsung ke Yaman. Biasanya, target serangan Israel terfokus pada Suriah dan Lebanon.

Operasi Darat Besar-besaran di Gaza

Pada hari yang sama, 16 September 2025, perhatian utama Israel tetap tertuju pada Jalur Gaza. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan dimulainya operasi darat besar-besaran dengan sandi “Operasi Kereta Perang Gideon 2.”

Tujuan operasi ini jelas: merebut sepenuhnya Kota Gaza dan menghancurkan kekuatan militer Hamas. Ribuan pasukan infanteri, didukung tank Merkava dan artileri berat, dilaporkan telah memasuki pusat kota. Serangan udara dan artileri juga terus menggempur bangunan yang dituduh sebagai basis Hamas.

Dalam pernyataan resminya, Netanyahu menuduh Hamas menggunakan warga sipil sebagai “perisai manusia terbesar dalam sejarah.” Israel menyatakan bahwa semua target serangan adalah fasilitas militer, meskipun laporan lapangan menyebut korban sipil terus meningkat.

Tuduhan Netanyahu terhadap Tiongkok dan Qatar

Dalam pidato resminya pada 16 September 2025, Netanyahu menuding dua aktor internasional turut memperburuk situasi:

  • Qatar dianggap memperkuat Hamas melalui pendanaan media dan propaganda anti-Israel.
  • Tiongkok disebut menggunakan aplikasi TikTok dan jaringan bot internet untuk menyebarkan kampanye anti-Israel secara global.

Pernyataan ini langsung menuai kontroversi, karena menyiratkan bahwa konflik Gaza kini bukan hanya perang regional, melainkan juga arena perebutan pengaruh global.

Pernyataan Mengejutkan Netanyahu

Pada kesempatan yang sama, Netanyahu melontarkan pernyataan mengejutkan: “Selama Anda memegang ponsel, berarti Anda berada dalam kendali Israel.”

Kalimat ini memicu spekulasi luas. Pengamat menilai pernyataan itu bisa jadi isyarat bahwa Israel mengklaim memiliki kemampuan pengawasan teknologi yang melampaui batas, termasuk pada perangkat komunikasi dari merek asing seperti Huawei.

Beberapa analis menafsirkan ucapan tersebut sebagai bentuk perang psikologis, untuk menunjukkan superioritas intelijen Israel di tengah konflik modern yang juga berlangsung di ranah digital.

Reaksi Internasional

  • PBB pada 16 September 2025 menyerukan penghentian segera serangan Israel ke Gaza dan Yaman, menekankan bahwa eskalasi ini berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas.
  • Iran mengecam keras serangan ke Hodeidah, menyebutnya sebagai “bukti nyata agresi Israel yang diperluas.”
  • AS menyatakan dukungan terhadap “hak Israel membela diri,” tetapi mengingatkan agar operasi tidak menimbulkan korban sipil berlebihan.
  • Qatar membantah tuduhan Netanyahu, menyebutnya sebagai upaya mengalihkan isu kemanusiaan di Gaza.
  • Tiongkok menolak keras tudingan terkait TikTok dan menegaskan bahwa negaranya tidak mencampuri konflik Israel–Palestina.

Kesimpulan

Dengan serangan simultan ke Gaza dan Yaman pada 16 September 2025, Israel menunjukkan bahwa strateginya kini lebih luas: tidak hanya berfokus menghancurkan Hamas, tetapi juga menekan jalur logistik dan dukungan eksternal dari Iran. Namun, langkah ini diperkirakan akan memicu gelombang perlawanan baru, baik dari milisi di Yaman maupun aktor regional lain yang bersekutu dengan Hamas.

Timur Tengah kini berada di ambang eskalasi besar, di mana perang darat, udara, dan perang informasi digital berbaur menjadi satu medan pertempuran.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine