EtIndonesia. Mudah dipahami mengapa banyak orang menyukai camar. Dari tebing karang di pelabuhan, aku melihat seekor camar terbang bebas. Sayapnya mengepak kuat, terangkat makin tinggi, makin tinggi, hingga melampaui semua burung lain, lalu meluncur indah membentuk lengkung-lengkung anggun. Dia terus memamerkan aksinya, seolah tahu ada kamera yang sedang merekam setiap gerak elegannya.
Namun, ketika kembali ke kawanan camar, wajahnya seketika berubah. Segala keanggunan lenyap, berganti pertarungan kotor dan kejam. Camar itu, yang barusan begitu megah, kini seperti bom yang menyambar kawanan sendiri, mencuri remah daging, menimbulkan keributan, bulu-bulu beterbangan, dan jeritan marah saling bersahutan.
Dalam kawanan camar, tidak ada yang namanya berbagi atau sopan santun. Yang ada hanyalah iri hati dan persaingan brutal. Bahkan, jika seekor camar diberi tanda pembeda—misalnya diikatkan pita merah di kakinya—itu sama saja dengan vonis mati. Segera, camar-camar lain akan menyerangnya tanpa henti, mencakar dengan cakar tajam, mematuk dengan paruh kejam, hingga tubuhnya berlumuran darah dan akhirnya jatuh menjadi bangkai tak berbentuk.
Pelajaran dari Angsa
Jika kita harus memilih satu jenis burung sebagai teladan masyarakat manusia, camar jelas bukan pilihan tepat. Justru kita harus belajar dari angsa.
Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa angsa terbang dalam formasi huruf “V”? Para ilmuwan menjelaskan: dalam formasi itu, kecepatan terbang mereka bisa meningkat hingga 71% dibanding terbang sendirian.
Angsa yang berada di ujung depan memikul beban paling berat karena harus menahan hambatan udara terbesar. Karena itu, posisi pemimpin ini selalu bergantian setiap beberapa menit, sehingga seluruh kawanan bisa menempuh jarak jauh tanpa harus beristirahat.
Sementara dua posisi di bagian paling belakang adalah yang paling ringan. Tempat itu sengaja diberikan kepada angsa yang muda, lemah, atau sudah tua. Formasi itu juga dipenuhi teriakan nyaring—bukan keributan, melainkan semacam sorakan penyemangat dari angsa kuat untuk mendukung yang mulai tertinggal.
Jika ada seekor angsa yang benar-benar kelelahan atau sakit lalu terpaksa turun, kawanan tidak akan meninggalkannya. Mereka akan mengutus satu angsa sehat untuk menemani yang jatuh, hingga ia pulih dan bisa kembali terbang bersama.
Pesan Kehidupan
Kerja sama erat inilah yang membuat kawanan angsa bisa bertahan hidup dan berkembang.
Sayangnya, masyarakat manusia terkadang lebih mirip sekumpulan camar—masing-masing sibuk bertikai demi keuntungan pribadi, tanpa sadar akhirnya harus menanggung beban hidup yang berat dalam kesepian.
Kita butuh lebih banyak “angsa” dalam hidup ini: saling mendukung, berbagi beban, dan maju bersama.(jhn/yn)


