Cinta Kasih yang Tak Terlihat

EtIndonesia. Suatu sore di musim panas, langit begitu cerah. Aku berjalan santai, lalu melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun bersama seorang wanita di sebuah tanah lapang. Anak itu sedang bermain ketapel, mencoba membidik sebuah botol kaca yang berdiri sekitar tujuh–delapan meter di depannya.

Tembakannya berantakan—kadang melenceng hingga satu meter, kadang melesat terlalu tinggi atau terlalu rendah. Aku berdiri tidak jauh di belakangnya, penasaran, karena belum pernah melihat ada anak yang begitu buruk dalam memainkan ketapel.

Sementara itu, wanita yang duduk di rerumputan dengan tenang mengambil batu dari tumpukan kecil, lalu menyerahkannya lembut ke tangan si anak sambil tersenyum. Dari sorot matanya jelas terlihat: dialah ibunya.

Anak itu tampak serius. Dia menahan napas, membidik lama, lalu melepaskan tembakan. Bahkan dari samping, aku bisa menebak tembakan itu tidak akan mengenai sasaran. Namun, dia tetap melakukannya berulang kali tanpa lelah.

Aku akhirnya mendekat dan berkata kepada sang ibu: “Bolehkah saya mengajarinya cara menembak dengan benar?”

Anak itu berhenti, tetapi matanya tetap menatap lurus ke arah botol. Sang ibu hanya tersenyum lembut kepadaku.

 “Terima kasih, tidak perlu,” jawabnya pelan. Lalu menoleh pada anaknya dan berkata lirih: “Dia tidak bisa melihat.”

Aku tertegun.

Beberapa saat kemudian, aku terbata: “Oh… maaf… Tapi kenapa?”

Sang ibu tetap tersenyum, lalu menjawab tenang: “Karena anak-anak lain juga bermain seperti ini.”

Aku ragu sejenak, lalu berkata: “Tapi… bagaimana mungkin dia bisa mengenai sasaran?”

Dengan suara teduh, sang ibu menjawab:  “Aku bilang padanya, suatu saat dia pasti akan mengenai sasaran. Yang terpenting bukan hasilnya, tapi apakah dia mau mencoba.”

Aku terdiam.

Waktu terus berlalu. Tembakan si anak semakin jarang, tubuhnya mulai lelah. Sang ibu tak banyak bicara, tetap tenang memungut batu, menyodorkannya satu per satu dengan senyum sabar. Hanya saja, ritmenya ikut melambat mengikuti tenaga si anak.

Perlahan aku menyadari, ada pola dalam bidikannya. Setiap kali dia melepaskan batu, dia bergeser sedikit, lalu kembali lagi. Dia hanya tahu arah secara garis besar, tapi tidak lebih dari itu.

Angin malam bertiup lembut, suara jangkrik mulai terdengar di semak-semak, bintang-bintang bermunculan di langit. Suara “plak” dari ketapel dan “duk” batu yang jatuh ke tanah masih terus berulang monoton. Baginya, siang dan malam tak ada bedanya.

Tak lama, gelap semakin pekat hingga botol kaca itu pun tak lagi terlihat jelas.

“Sepertinya hari ini dia tidak akan mengenai sasaran,” pikirku. Aku sempat ragu, lalu berpamitan: “Baiklah, saya pulang dulu. Selamat malam.”

Aku berbalik, melangkah menjauh. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara nyaring di belakangku—botol kaca itu pecah. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine