EtIndonesia. Pada Selasa (16 September), Israel secara resmi melancarkan operasi militer darat terhadap Kota Gaza. Presiden AS Donald Trump memperingatkan Hamas agar tidak menjadikan sandera sebagai perisai manusia, jika tidak maka mereka akan kehilangan segalanya. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan kembali bahwa prasyarat penyelesaian konflik Gaza melalui negosiasi adalah Hamas harus melucuti senjata dan membebaskan semua sandera.
Pada hari itu, Israel meningkatkan serangan terhadap Gaza. Suara ledakan terus terdengar, cahaya api silih berganti menyinari langit.
Sejumlah besar tank Israel berkumpul di perbatasan Gaza, sementara jet tempur berputar di atas Kota Gaza.
“Semalam, militer Israel memperluas operasi darat di Kota Gaza, ini menandai dimulainya fase baru pertempuran. Angkatan udara, pasukan darat, dan unit intelijen bekerja sama melakukan serangan presisi, menargetkan sasaran militer Hamas yang mengancam keamanan Israel,” ujar Juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Daniel Hagari.
Ia juga menegaskan bahwa serangan di Gaza akan terus berlangsung sampai semua tujuan tercapai, dan menuduh Hamas telah menjadikan Kota Gaza sebagai perisai manusia terbesar dalam sejarah.
Video yang dirilis militer Israel pada hari yang sama memperlihatkan Kepala Staf Umum, Herzi Halevi, meninjau pasukan yang ditempatkan di Jalur Gaza. Rekaman menunjukkan Kota Gaza diliputi api peperangan, dengan asap hitam besar membumbung ke langit.
Pada hari yang sama, Israel juga membombardir pelabuhan Hodeidah di Laut Merah yang dikuasai kelompok Houthi di Yaman. Sebelumnya, Houthi menyerang kapal di Laut Merah dengan dalih mendukung Hamas dan meluncurkan rudal ke arah Israel, meski sebagian besar berhasil dicegat.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa militer Israel tengah melakukan operasi di beberapa front sekaligus.
Benjamin Netanyahu mengatakan: “Beberapa menit lalu, jet tempur kami membombardir Pelabuhan Hodeidah di Yaman—pelabuhan utama pasokan rezim teroris Houthi. Pada saat yang sama, pasukan kami sedang beroperasi di Kota Gaza, dengan tujuan tidak hanya menghancurkan musuh (Hamas), tetapi juga mengevakuasi penduduk setempat.”
Pada hari itu, setelah mengakhiri kunjungannya di Israel, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bertolak ke Doha dan mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani.
Dalam perjalanan dari Tel Aviv ke Doha, Rubio menegaskan kembali bahwa AS mendukung penyelesaian perang Gaza melalui negosiasi, namun syarat utamanya adalah Hamas harus dilucuti senjata dan dibubarkan. Ia juga mengecam tindakan Hamas yang menyandera warga sipil.
Marco Rubio menekankan: “Harus saya katakan, seharusnya sama sekali tidak ada sandera! Jika ingin berperang, seharusnya berlangsung antara pihak yang bertikai. Warga sipil tidak boleh dijadikan perisai manusia dalam peperangan.”
Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menulis di media sosial Truth Social, memperingatkan Hamas agar tidak menjadikan sandera sebagai perisai manusia.
Trump menulis: “Saya baru saja membaca sebuah laporan bahwa Hamas telah memindahkan sandera ke permukaan tanah, bermaksud menggunakan mereka sebagai perisai manusia untuk menahan serangan darat Israel. Semoga para pemimpin Hamas sadar konsekuensi dari tindakan ini. Ini adalah kekejaman yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan tidak boleh dibiarkan terjadi. Jika dilakukan, Hamas akan kehilangan semua taruhannya. Segera bebaskan semua sandera!”
Sumber : NTDTV.com


