EtIndonesia. Taiwan akan memproduksi rudal dan drone bawah air bersama sebuah perusahaan AS untuk pertama kalinya, ungkap para pejabat pada hari Kamis (18/9), seiring upaya Taipei untuk meningkatkan produksi senjata dan amunisi dalam negeri.
Pulau demokrasi ini terus-menerus menghadapi ancaman invasi Tiongkok, yang mengklaim wilayahnya sebagai bagian dari wilayahnya, dan berada di bawah tekanan AS untuk meningkatkan anggaran pertahanannya sendiri.
Institut Sains dan Teknologi Nasional Chung-Shan (NCSIST) Taiwan awal tahun ini sepakat dengan perusahaan pertahanan AS, Anduril, untuk bersama-sama memproduksi Barracuda-500, sebuah rudal jelajah otonom berbiaya rendah.
Pada hari Kamis, NCSIST dan Anduril menandatangani perjanjian lain untuk memproduksi bersama drone bawah air perusahaan tersebut.
Ini adalah perjanjian pertama Taiwan dengan perusahaan asing, ujar presiden NCSIST, Li Shih-chiang, kepada AFP.
“Tujuan kami adalah jika dalam peperangan, bahkan dalam blokade, kami dapat memproduksi setiap senjata yang kami butuhkan untuk melindungi diri kami sendiri,” kata Li di sela-sela Pameran Teknologi Dirgantara dan Pertahanan Taipei, tempat Barracuda dipamerkan.
Pimpinan Anduril Taiwan, Alex Chang, mengatakan fokus kerja sama ini adalah pada “produksi massal” dan menjadikan produksi lokal berkelanjutan.
Perusahaan akan “bekerja sama sangat erat” dengan Amerika Serikat dan Taiwan, ujar Chang kepada AFP.
NCSIST mengatakan akan membutuhkan waktu 18 bulan untuk membangun rantai pasokan di Taiwan untuk Barracuda-500, yang menggunakan 100 persen komponen Taiwan.
Taiwan telah meningkatkan pengeluaran untuk peralatan dan senjata militer selama dekade terakhir, dan memiliki industri pertahanannya sendiri.
Namun, pulau itu tetap sangat bergantung pada penjualan senjata AS untuk menghalangi Tiongkok.
Seorang anggota parlemen senior Taiwan mengatakan kepada AFP pekan lalu bahwa kementerian pertahanan akan mengupayakan pendanaan khusus hingga rekor 33 miliar dolar untuk meningkatkan pertahanan pulau itu.
Rencana tersebut mencakup integrasi sistem pertahanan udara Taiwan, akuisisi teknologi yang lebih canggih dari mitra asing untuk mendeteksi drone kecil, roket, dan rudal serta memastikan respons cepat terhadap serangan, dan peningkatan kapasitas pulau untuk memproduksi dan menyimpan amunisi untuk masa perang.
Pemerintah Presiden Lai Ching-te bulan lalu mengumumkan rencana untuk meningkatkan anggaran pertahanan tahun 2026 menjadi 949,5 miliar dolar Taiwan, atau lebih dari tiga persen dari produk domestik bruto.
Pemerintah menargetkan peningkatan anggaran menjadi lima persen dari PDB pada tahun 2030. (yn)


