Etindonesia. Timur Tengah kembali bergolak. Israel melancarkan dua operasi militer besar sekaligus, yakni invasi darat di Gaza dan serangan udara terhadap fasilitas militer Houthi di Yaman.
Operasi Darat Israel di Gaza
Pada 17 September 2025, militer Israel mengumumkan dimulainya operasi darat skala besar di Jalur Gaza. Tiga brigade elit dikerahkan: Brigade ke-98, ke-162, dan ke-36.
Pasukan ini didukung oleh tank Merkava, helikopter serang Apache, serta unit robot penghancur terowongan bawah tanah yang menjadi jalur utama logistik Hamas. Operasi ini dilakukan setelah serangkaian serangan udara pada 16 September yang menewaskan sedikitnya 38 orang di Gaza.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan operasi tersebut merupakan “pembalasan sah” atas serangan besar Hamas pada 7 Oktober 2024 yang sebelumnya mengguncang Israel.
Situasi kemanusiaan semakin memburuk. Laporan dari PBB menyebut lebih dari 320.000 warga sipil Gaza telah mengungsi ke wilayah selatan, menimbulkan krisis pengungsi dan tekanan besar pada fasilitas medis maupun bantuan kemanusiaan.
Serangan Udara Israel di Yaman
Tak hanya Gaza, Israel juga memperluas operasi militernya hingga ke Semenanjung Arab. Pada 16 September 2025, jet tempur Israel melancarkan 12 kali serangan udara ke wilayah Yaman yang dikuasai kelompok Houthi.
Salah satu target utama adalah pelabuhan Hodeidah, yang dituding menjadi jalur utama penyelundupan senjata dari Iran untuk mendukung Hamas dan Houthi. Serangan tersebut menghancurkan tiga terminal pelabuhan serta sejumlah gudang logistik.
Analis militer menilai langkah ini merupakan strategi Israel untuk menghadapi dua front sekaligus:
- Di Gaza: menghancurkan Hamas dan menguasai penuh jalur strategis.
- Di Laut Merah: menekan Houthi agar tidak mengancam jalur pelayaran internasional dan akses Israel menuju Terusan Suez.
Reaksi dan Dampak Internasional
- Mesir dan Yordania menyatakan keprihatinan serius, memperingatkan bahwa operasi darat bisa memicu eksodus pengungsi yang lebih besar.
- Iran mengecam keras serangan ke Yaman, menuduh Israel dan sekutunya mencoba memperluas konflik kawasan.
- Amerika Serikat melalui Pentagon menyatakan mendukung hak Israel membela diri, namun menekankan perlunya upaya menghindari korban sipil yang lebih besar.
- PBB menyerukan gencatan senjata darurat dan memperingatkan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza bisa mencapai titik “tak terkendali” dalam hitungan minggu.
Analisis Strategis
Langkah Israel menyerang dua front sekaligus menegaskan tekad Tel Aviv untuk:
- Menghancurkan Hamas di Gaza dengan operasi darat jangka panjang.
- Mengamankan jalur perdagangan Laut Merah dari ancaman serangan rudal dan drone Houthi.
- Mengirim pesan geopolitik bahwa Israel siap memperluas cakupan operasi militernya hingga keluar kawasan Palestina.
Namun, sejumlah pakar memperingatkan bahwa strategi dua front ini bisa menimbulkan risiko besar: pasukan Israel terpecah, konflik berkepanjangan, serta meningkatnya eskalasi dengan Iran maupun kelompok proksi di kawasan.
Kesimpulan:
Dalam dua hari terakhir, 16–17 September 2025, Israel secara resmi membuka babak baru konflik Timur Tengah dengan menyerang Gaza melalui invasi darat, sekaligus menggempur Houthi di Yaman lewat serangan udara. Situasi ini berpotensi memicu perang regional yang lebih luas, melibatkan Iran dan aktor-aktor besar lainnya di kawasan.


