EtIndonesia. Kakekku adalah seorang konglomerat. Dengan kerja keras satu generasi, dia berhasil membangun kerajaan bisnis bernilai miliaran yen. Namun, tepat ketika dia hendak menyerahkan usaha itu kepada ayahku, dia didiagnosis menderita kanker—saat usianya baru melewati enam puluh tahun.
Operasi pengangkatan tumor berjalan sukses. Dokter berkata, meski ada kemungkinan kanker kambuh, dengan obat-obatan, kondisinya bisa dikendalikan. Namun, bagi kakek, itu belum cukup. Dia justru mengajukan permintaan mengejutkan: mengganti seluruh organ tubuhnya dengan organ manusia lain yang sehat—dan bukan dari mayat, melainkan dari orang hidup!
Perjuangan untuk “Hidup”
Kakek mulai mencari pasien koma atau vegetatif, berharap bisa membeli organ mereka. Namun, hampir semua keluarga menolak memutuskan alat penunjang kehidupan kerabatnya.
Setelah negosiasi panjang dan tawaran kompensasi besar, akhirnya dia berhasil mendapatkan tubuh seorang pasien koma. Tapi sebelum operasi dilakukan, pemerintah turun tangan.
Hukum negara menegaskan: meski pasien koma tampak seperti tanpa kesadaran, selama masih bernapas dengan bantuan alat, dia tetap dianggap hidup. Mengambil organnya sama saja dengan pembunuhan. Tindakan kakek pun bisa dianggap sebagai perdagangan manusia, bahkan percobaan pembunuhan.
Namun, kakek bersikeras. Menurutnya, pasien koma pasti akan mati juga, jadi lebih baik tubuhnya dimanfaatkan untuk orang yang membutuhkan.
Pertarungan Hukum
Pemerintah mengusulkan solusi: organ hanya boleh diambil setelah alat penunjang dicabut, saat pasien benar-benar meninggal. Tapi kakek menolak dan melayangkan gugatan ke pengadilan.
Kasus ini menjadi sorotan media nasional. Perdebatan pun memanas: Apakah “mati otak” berarti akhir dari kehidupan? Atau hanya ketika seluruh sel tubuh berhenti berfungsi?
Keluarga kami terkejut dengan keras kepalanya. Usianya sudah lanjut, sekalipun berhasil menjalani transplantasi ekstrem itu, tambahan usianya mungkin tak lama. Anehnya, dia terlihat begitu bersemangat memperjuangkan hal ini, seolah hidup adalah sesuatu yang tak boleh dilepaskan begitu saja.
Setelah sidang panjang, akhirnya putusan keluar: kakek kalah.
Pengadilan menegaskan: selama ada satu sel yang masih hidup dengan bantuan alat, kehidupan tetap ada. Hanya ketika semua sel mati setelah alat dicabut, barulah seseorang dianggap meninggal.
Tak lama setelah putusan, kakek wafat. Mungkin karena penyebaran kanker, atau mungkin memang sudah waktunya.
Kegelisahan Baru
Namun, kisah tidak berhenti di situ. Tak lama setelah pemakaman, pengacara keluarga kami mengumumkan tindakan mengejutkan.
Ternyata, sebelum meninggal, kakek telah menitipkan sebagian sel kanker hasil operasi ke sebuah lembaga penelitian. Sel-sel itu ditempatkan dalam alat khusus yang menjaga kelangsungan hidupnya. Dan seperti yang kita tahu, sel kanker berbeda dari sel biasa: dia bisa membelah tanpa henti selama ada nutrisi dan oksigen.
Dengan kata lain, sel kanker itu—sel kakek—akan hidup selamanya.
Pengacara lalu mengajukan gugatan baru: karena masih ada sel hidup, maka berdasarkan argumen pemerintah sendiri, kakek belum benar-benar mati.
Misteri di Balik “Keabadian”
Pemerintah pun terjebak oleh logikanya sendiri. Di atas kertas hukum, mereka harus mengakui bahwa kakek masih “hidup”—selamanya, selama sel kanker itu terus diberi nutrisi.
Dan lebih mengejutkan lagi, dalam dokumen yang ditinggalkan kakek, dia berpesan agar alat penunjang itu tidak pernah dimatikan. Dengan begitu, keluarganya wajib “merawat” dirinya selamanya.
Mengapa dia melakukan semua ini?
Jawabannya terungkap dalam surat terakhirnya—bukan “wasiat,” karena jika dia belum mati, istilah itu pun tak tepat. Ternyata, tujuannya bukan demi hidup lebih lama. Bukan pula karena dia takut mati.
Melainkan sebuah langkah strategi luar biasa: selama dia dianggap hidup, keluarga kami tak perlu membayar pajak warisan.
Kerajaan bisnis dan harta raksasanya akan terus aman, tanpa berkurang sedikit pun.
Pesan Kehidupan
Kakekku benar-benar “abadi”—bukan dalam wujud tubuh manusia, tetapi dalam sel kanker yang terus membelah. Bukan demi dirinya, melainkan demi melindungi harta keluarga dari pajak yang melahap.
Ironis, menakutkan, dan sekaligus cerdik. Dia tidak hanya meninggalkan kekayaan, tetapi juga teka-teki besar tentang arti kehidupan, kematian, dan keabadian.
Apakah seseorang masih hidup hanya karena satu selnya tetap membelah? Atau hidup sejati justru berakhir saat hati berhenti berdetak?
Pertanyaan itu sampai sekarang masih menggema di benakku setiap kali aku mengingat sosok “Kakek yang Abadi.”(jhn/yn)


