EtIndonesia. Di Yunani kuno, ada dua cara untuk menghukum mati seorang tahanan: dipenggal kepalanya atau dihukum gantung.
Suatu hari, seorang raja yang suka berbuat iseng memerintahkan algojonya mengumumkan peraturan baru:
“Atas titah Baginda Raja—kalian boleh memilih sendiri cara mati. Kalian cukup mengucapkan satu kalimat. Jika kalimat itu benar, kalian akan digantung. Jika kalimat itu bohong, kalian akan dipenggal.”
Perintah ini terdengar aneh sekaligus kejam. Tapi para tahanan tidak punya pilihan. Bagaimanapun mereka tetap akan mati, maka sebagian besar hanya asal berbicara. Akibatnya, ada yang karena berkata benar berakhir di tiang gantungan, dan ada yang karena berkata bohong kehilangan kepala. Raja pun sangat terhibur—seolah membunuh orang hanyalah sebuah permainan.
Tahanan yang Cerdas
Di antara para tahanan, ada seorang yang sangat cerdas. Ketika gilirannya tiba, dia menghadap raja dengan tenang lalu berkata: “Kalian akan memenggal kepalaku!”
Raja tertegun. Perkataannya menciptakan sebuah dilema.
· Jika benar-benar dipenggal, berarti ucapannya benar. Tapi menurut aturan, mengatakan hal yang benar seharusnya digantung.
· Jika digantung, maka ucapannya jadi bohong. Namun, kalau berbohong seharusnya dipenggal. Tapi bila dipenggal, ucapannya kembali benar.
Kata-katanya menjebak di antara “benar” dan “bohong”—sebuah kalimat yang tak bisa dikategorikan, dan dengan demikian, tak bisa dijatuhi hukuman apa pun.
Akhir yang Tak Terduga
Raja pun dibuat bingung. Setelah termenung sejenak, akhirnya dia hanya bisa tertawa kecut dan berkata: “Lepaskan orang pintar ini! Biarkan dia hidup.”
Sejak itu, aturan aneh sang raja pun segera dicabut.
Pesan Kehidupan
Kecerdasan tidak hanya bisa membawa keberhasilan, tapi juga bisa menjadi penyelamat nyawa.
Kadang, di saat paling genting, bukan kekuatan fisik yang penting—melainkan kecerdasan dan kebijaksanaan yang mampu membalikkan keadaan. (jhn/yn)


