EtIndonesia. Setelah lulus kuliah, dia ditempatkan bekerja di sebuah kota yang berjarak sekitar 100 kilometer dari kampung halamannya. Ayahnya telah lama tiada, dan sebagai anak sulung, dia selalu menyempatkan diri pulang setiap bulan untuk menjenguk ibunya.
Tiket bus antar-kota pada masa itu terbuat dari kertas berwarna yang cukup tebal. Setiap kali melihat tiket itu, ibunya selalu berkata sambil tersenyum: “Anakku, tiketmu ini cantik sekali, boleh Ibu simpan?”
Dia hanya tertawa kecil, lalu menyerahkannya. Malam itu dia tidur di dipan tanah liat sederhana tempat ibunya beristirahat. Sejak itu, sang ibu terbiasa menggeledah kantong bajunya secara diam-diam, hanya untuk mengambil tiket bus tersebut dan menyimpannya dengan hati-hati.
Waktu berlalu. Dia jatuh cinta, menikah, lalu memiliki anak. Dia pun mulai pulang dua bulan sekali. Saat kariernya menanjak hingga menjadi pemimpin di kantornya, kesibukan semakin menyita. Kadang dia baru pulang setelah setengah tahun. Apalagi sejak memiliki mobil dinas, dia tidak lagi naik bus antar-kota. Ibunya pun berhenti meminta tiket.
Sepuluh tahun kemudian, dia sudah menjabat sebagai wali kota. Suatu malam telepon berdering: adiknya di kampung memberi kabar, ibu mereka mendadak terserang pendarahan otak, kondisinya kritis.
Dia segera menempuh perjalanan singkat 100 kilometer itu. Dalam waktu satu jam lebih, dia sampai di rumah. Namun saat menatap ibunya di ranjang, hatinya hancur. Rambut ibu sudah memutih semua, wajahnya tampak rapuh dan renta. Pagi harinya, ibu mengembuskan napas terakhir.
Warisan yang Tersisa
Setelah pemakaman, dia dan saudara-saudaranya merapikan barang peninggalan ibu. Dari dalam sebuah peti kayu cendana tua, dia menemukan sebuah buku pelajaran lama yang dulu dipakai ibu sebagai alas sepatu. Saat membukanya, dia tercekat—di dalamnya terselip setumpuk tiket bus yang tersusun rapi, tiket-tiket yang dulu setiap kali dia pulang diberikan kepada ibunya.
Air matanya kembali tumpah. Dia menyesal, mengapa saat ibunya masih hidup dia tidak lebih sering pulang. Dia juga teringat bahwa ibunya bahkan belum pernah sekalipun menginap di rumah barunya yang luas dengan empat kamar dan dua ruang tamu.
Ketika kembali ke kota, satu-satunya barang yang dia bawa hanyalah setumpuk tiket bus berwarna-warni itu.
Pesan Kehidupan
Sejak itu, dia kerap menceritakan kisah tiket bus kepada teman-temannya yang masih memiliki orangtua.
Dia selalu menekankan: “Orangtua menyimpan kerinduan yang dalam pada anak-anaknya. Pulanglah sesering mungkin, meski hanya sebentar. Jika tidak, suatu hari penyesalan itu akan terasa begitu menyakitkan.”(jhn/yn)


