EtIndonesia. Di kedalaman laut, seekor hiu kecil mulai tumbuh besar. Dia belajar mencari makan bersama ibunya, hingga perlahan menguasai cara berburu.
Suatu hari sang ibu berkata: “Anakku, kamu sudah dewasa. Kini saatnya hidup mandiri.”
Hiu adalah penguasa laut, hampir tak ada makhluk yang bisa melukainya. Karena itu, meskipun berpisah, sang ibu tetap tenang. Dia percaya kemampuan berburu anaknya cukup untuk membuatnya hidup dengan baik.
Pertemuan Kembali
Beberapa bulan kemudian, sang ibu bertemu kembali dengan anaknya di sebuah parit laut kecil. Namun, pemandangan itu membuatnya terkejut.
Parit laut itu kaya akan makanan, banyak ikan besar berkumpul di sana. Seharusnya anaknya tumbuh kuat. Tapi justru sebaliknya—si hiu kecil tampak kurus, lesu, dan kekurangan gizi.
“Ada apa denganmu?” pikir sang ibu, heran.
Sebelum sempat bertanya, seekor salmon besar berenang mendekat bersama kelompoknya. Saat itu si hiu kecil tiba-tiba bersemangat, bersiap untuk berburu.
Kesempatan yang Terlewat
Sang ibu bersembunyi di balik karang, memperhatikan. Anak hiu itu mengintai dengan sabar, menunggu ikan mendekat. Seekor salmon sudah hampir masuk ke mulutnya, begitu dekat hingga tinggal menutup rahang saja dia bisa kenyang.
Namun, anehnya, si hiu kecil tetap diam.
Dua ekor, tiga ekor, empat ekor… semakin banyak salmon mendekat. Tapi ia masih saja menahan diri, menatap ikan-ikan yang tersisa di kejauhan.
Akhirnya, dia tak sabar lagi. Dengan garang, dia menerjang ke arah ikan-ikan yang jauh itu. Tapi karena jaraknya terlalu jauh, para salmon dengan mudah melarikan diri. Si hiu pun kehilangan semuanya.
Nasehat Seorang Ibu
Sang ibu segera menghampiri dan bertanya: “Kenapa kamu tidak memakan ikan-ikan yang sudah ada di depanmu?”
Si hiu kecil menjawab: “Ibu tidak lihat? Kalau aku sabar sedikit, mungkin aku bisa mendapatkan lebih banyak.”
Mendengar itu, ibunya hanya menggeleng :“Tidak, Nak. Keinginan manusia—dan juga hiu—tidak akan pernah terpuaskan. Tapi kesempatan tidak selalu datang dua kali. Serakah tidak akan membuatmu mendapat lebih banyak. Justru sebaliknya, kamu bisa kehilangan apa yang sudah ada di genggaman.”
Pesan Kehidupan
Bukankah manusia juga sama?
Sering kali, kegagalan bukan karena kurang usaha, melainkan karena hati kita terlalu tamak—ingin terlalu banyak, terlalu jauh, hingga lupa menangkap kesempatan yang sudah ada tepat di depan mata.(jhn/yn)


