EtIndonesia. Situasi di medan perang Ukraina kembali mengalami eskalasi tajam, khususnya di kawasan Donbas. Pertempuran besar melibatkan pasukan Rusia dan Ukraina meluas hingga ke wilayah Moskow, Krimea, dan Kursk, sementara Eropa bersiap menghadapi ancaman keamanan baru pasca latihan militer raksasa Rusia–Belarusia “Zapad 2025”.
Kepungan di Pankivka, Donetsk
Pada tanggal 18 September 2025, pasukan Rusia di Pankivka, Donetsk, dilaporkan terjebak dalam lingkaran pengepungan pasukan Ukraina dengan diameter sekitar 40 km. Serangan multi-arah Ukraina merebut jalur transportasi utama dan titik-titik strategis di dataran tinggi, sehingga memutus aliran logistik amunisi, bahan bakar, dan makanan ke unit Rusia.
Pertahanan Rusia kian melemah akibat kesulitan menjaga koordinasi antar-unit. Jika Ukraina berhasil memukul mundur Rusia di Pankivka, moral pasukan Kiev akan melonjak, sekaligus membuka jalan bagi operasi besar berikutnya. Namun, analis memperkirakan Rusia akan berusaha melakukan operasi penyelamatan atau bertahan mati-matian hingga bala bantuan tiba.
Kemenangan Ukraina di Pokrovsk
Pada 17 September 2025 malam, pasukan Ukraina meraih kemenangan besar di Pokrovsk. Daerah strategis Uda Khyne berhasil direbut kembali setelah pertempuran sengit lebih dari tiga jam. Video lapangan memperlihatkan artileri Ukraina menghantam basis Rusia, disusul serangan kendaraan lapis baja.
Kini, bendera Ukraina berkibar di Uda Khyne. Penguasaan ini melemahkan pertahanan sisi sayap Rusia, mengacaukan jalur logistik, serta mengguncang koordinasi komando musuh. Rusia diperkirakan akan mencoba serangan balasan dengan taktik non-konvensional, meski peluang keberhasilannya dinilai kecil.
Rangkaian Serangan Jarak Jauh Ukraina
Selain di Donbas, Ukraina juga memperluas serangan ke wilayah Rusia:
- 16 September 2025 – Timur Jauh Rusia: Pangkalan militer rahasia di Semenanjung Knevskaya meledak. Targetnya adalah Brigade Marinir ke-155, unit yang terkenal terlibat kekejaman di Bucha dan Irpin.
- 16 September – Moskow: Serangan menimbulkan kebakaran di kawasan Chakar, bekas lokasi pabrik otomotif, memicu kepanikan warga.
- 16–17 September – Rostov & Bryansk: Beberapa fasilitas militer, termasuk pangkalan udara Morozovsk (markas jet tempur Su-34 dan Su-35), dihantam drone Ukraina.
- 17 September – Saratov: Kilang minyak berkapasitas 4,8 juta ton per tahun terbakar akibat serangan. Menurut Reuters, jika serangan ke kilang berlanjut, produksi minyak Rusia bisa turun drastis, bahkan sebagian ladang bisa berhenti permanen.
Krisis di Krimea dan Kursk
- 18 September 2025 dini hari – Krimea: Pangkalan militer Dzhankoy diguncang ledakan besar setelah Ukraina meluncurkan drone dan kemungkinan rudal jarak jauh. Dua hari sebelumnya, pelabuhan Feodosia juga terbakar akibat serangan.
- Pertengahan September – Kursk: Pertempuran udara meningkat tajam. Satelit merekam puluhan drone Ukraina jatuh. Rusia memperkuat pertahanan dengan sistem S-400 dan Pantsir-S1, menjadikan Kursk salah satu zona pertahanan udara terpadat di negeri itu.
Dukungan Domestik Ukraina
Di Donetsk, aparat keamanan menyita dua tank T-72B3M yang ditinggalkan Rusia. Tank tersebut segera diserahkan ke militer Ukraina untuk digunakan kembali. Pemerintah sebelumnya memang menawarkan hadiah bagi warga yang menyerahkan peralatan tempur Rusia yang ditinggalkan.
Survei terbaru (17 September 2025) menunjukkan:
- 76% rakyat Ukraina yakin bisa memenangkan perang jika Barat terus memberi dukungan.
- 75% menolak proposal damai Rusia.
- 74% mendukung kerangka perdamaian ala Ukraina–Eropa.
Presiden Volodymyr Zelenskyy dalam wawancara dengan Sky News (17 September) menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menyerah atau “bertekuk lutut” dalam diplomasi, seraya menyerukan dukungan penuh dari AS dan Inggris.
Eskalasi di Front Timur Eropa
Latihan gabungan Rusia–Belarusia bertajuk “Zapad 2025” berakhir pada 16 September 2025, dengan kehadiran Presiden Vladimir Putin. Meski diklaim defensif, Rusia justru memamerkan senjata ofensif, termasuk drone yang melanggar wilayah udara Polandia dan Rumania.
Reaksi negara-negara Eropa:
- Polandia: menutup total perbatasan dengan Belarusia, mengerahkan HIMARS, dan berencana memperluas pasukan hingga 500.000 personel.
- Rumania: lebih hati-hati, hanya mengawal drone Rusia keluar wilayah tanpa menembaknya.
- Baltik (Estonia, Lituania): mulai menggali parit pertahanan di perbatasan.
Penutupan perbatasan Polandia diperkirakan akan menghantam jalur perdagangan darat Tiongkok–Eropa senilai €25 miliar per tahun.
Langkah Ekonomi Uni Eropa
Pada 17 September 2025, Uni Eropa memfinalisasi rencana penggunaan aset Rusia yang dibekukan sebesar €170 miliar untuk membeli obligasi tanpa bunga, dengan hasilnya didedikasikan untuk pendanaan Ukraina.
Jerman yang sebelumnya ragu kini mendukung penuh setelah adanya tekanan kuat dari Presiden AS Donald Trump. Rusia menanggapi keras dengan ancaman akan menuntut balik hingga akhir abad jika aset tersebut benar-benar disita.


