EtIndonesia. Pada 18 September 2025, Nvidia mengumumkan bahwa perusahaan tersebut akan menggelontorkan dana sebesar 5 miliar dolar AS untuk membeli saham Intel. Presiden AS Donald Trump menyambut baik langkah ini. Ia bahkan memposting di platform Truth Social dengan sebuah gambar yang, menurutnya, “mewakili semua bahasa.”
Menurut pernyataan bersama, kedua perusahaan akan berfokus pada pemanfaatan teknologi NVLink untuk menghubungkan arsitektur Nvidia dan Intel secara mulus.
Hal ini akan menggabungkan keunggulan Nvidia dalam kecerdasan buatan (AI) dan komputasi akselerasi dengan teknologi CPU serta ekosistem x86 milik Intel, sehingga dapat menghadirkan solusi mutakhir bagi pelanggan.
CEO Nvidia Jensen Huang, dalam konferensi pers daring, menyebut kerja sama ini sebagai sesuatu yang “bersejarah.” Ia mengatakan, “Ini adalah penggabungan dua platform kelas dunia. Kami akan bersama-sama memperluas ekosistem dan meletakkan dasar bagi era komputasi berikutnya.”
Namun, publik menaruh perhatian pada apakah aliansi ini akan mempengaruhi kerja sama Nvidia dengan TSMC. Huang tidak memberikan jawaban langsung, tetapi menegaskan bahwa Nvidia dan Intel tetap akan bergantung pada TSMC. Ia menekankan, “Saya rasa (CEO Intel Pat) Gelsinger dan saya sama-sama akan mengatakan bahwa TSMC adalah produsen chip kelas dunia. Kehebatan TSMC tidak akan pernah bisa dilebih-lebihkan.”
Meski begitu, Huang tidak menutup kemungkinan adanya kerja sama manufaktur chip dengan Intel di masa depan. Ia mengatakan, “Kami selalu mengevaluasi teknologi manufaktur chip Intel dan akan terus melakukannya. Tetapi pernyataan hari ini difokuskan pada CPU kustom ini.”
Huang juga mengungkapkan bahwa kesepakatan investasi antara Nvidia dan Intel ini telah melalui pembahasan hampir satu tahun, dan dibicarakan secara pribadi dengan CEO Intel. Pemerintahan Trump tidak terlibat langsung dalam proses tersebut. Huang menambahkan bahwa setelah pengumuman, ia menghubungi Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, yang menyatakan dukungan penuh pemerintah AS terhadap langkah ini.
Industri teknologi pun menyambut positif kerja sama ini. Analis teknologi Dan Ives menulis dalam laporannya pada Kamis, “Ini adalah kesepakatan yang mengubah permainan bagi Intel, karena menempatkannya di pusat bidang kecerdasan buatan. Ditambah lagi dengan investasi pemerintah AS sebesar 10% saham, Intel kini memasuki masa keemasan. Bagi para investor yang selama bertahun-tahun mengalami kekecewaan, ini adalah kabar sangat baik.”
Pasar juga merespons dengan antusias. Harga saham Intel pada Kamis melonjak hingga 23%.
Presiden Trump sendiri tampak puas dengan hasil tersebut. Di Truth Social, ia mengunggah sebuah gambar yang menunjukkan dirinya duduk di Oval Office dengan cahaya matahari masuk dari jendela. Di depan Trump, layar komputer menampilkan data terkait saham Intel. Satu layar bertuliskan “DIBELI: INTEL 20,” sementara layar lain menampilkan “INTEL: SEKARANG 30,” yang menyiratkan harga beli dan harga saat ini.
Sekitar sebulan lalu, pemerintah AS membeli sekitar 10% saham Intel, yakni 433,3 juta lembar, dengan harga 20,47 dolar AS per saham. Dengan harga penutupan terbaru di 30,57 dolar, nilai kepemilikan pemerintah AS kini mencapai sekitar 13 miliar dolar. Dibandingkan dengan biaya awal pada perjanjian Agustus, pemerintah sudah memperoleh keuntungan di atas kertas sekitar 4,4 miliar dolar AS.
Sumber : NTDTV.com


