EtIndonesia. Ada seorang pemuda yang begitu terobsesi untuk cepat kaya, hingga pikirannya hampir gila karenanya. Setiap kali mendengar kabar ada jalan menuju harta atau rezeki, dia akan segera berangkat tanpa peduli jauh atau sulitnya perjalanan.
Suatu hari, dia mendengar kabar tentang seorang kakek berambut putih yang tinggal di pegunungan. Konon, siapa pun yang “beruntung” bisa bertemu dengannya, pasti akan mendapat berkah, apa pun yang diminta akan dipenuhi.
Pemuda itu pun bergegas. Malam itu juga dia berkemas dan berangkat mendaki gunung.
Pertemuan dengan Sang Kakek
Dia menunggu dengan sabar di pegunungan selama lima hari penuh. Akhirnya, dia bertemu dengan sosok tua yang diceritakan orang-orang.
Dengan penuh harap, dia memohon: “Mohon berikan aku permata atau harta yang bisa membuatku kaya raya.”
Kakek itu tersenyum, lalu berkata pelan: “Setiap pagi, sebelum matahari terbit, pergilah ke pantai di luar desa. Carilah sesuatu yang disebut Batu Harapan. Semua batu di sana dingin, kecuali yang satu ini. Saat kamu menggenggamnya, kamu akan merasakan hangat, dan batu itu akan memancarkan cahaya. Jika kamu menemukannya, apa pun doa dan keinginanmu akan terkabul.”
Mendengar itu, pemuda penuh semangat mengucapkan terima kasih, lalu segera pulang.
Mencari Tanpa Henti
Sejak hari itu, setiap pagi dia datang ke pantai sebelum fajar menyingsing. Dia memungut batu-batu kecil satu per satu. Jika tidak hangat dan tidak bercahaya, dia langsung melemparkannya ke laut.
Hari demi hari, bulan demi bulan, lebih dari setengah tahun dia terus melakukannya. Namun tak sekalipun dia menemukan batu harapan yang dimaksud.
Rasa lelah mulai menghampiri, tetapi keinginannya untuk kaya membuatnya tetap bertahan. Dia semakin terbiasa dengan kebiasaannya: ambil batu, jika bukan, lempar ke laut.
Kesalahan Fatal
Suatu pagi, sama seperti biasanya, dia kembali memungut batu di pantai. Satu, dua, tiga… semuanya dingin dan redup, maka tanpa berpikir panjang dia lemparkan.
Lalu, tiba-tiba, dia merasakan sesuatu berbeda. Batu yang baru saja dia genggam terasa hangat di telapak tangan! Dia menoleh—tetapi sudah terlambat. Batu itu sudah terlempar jauh ke laut.
Sekejap, hatinya runtuh. Dia berlutut di pasir, menangis putus asa: “Kenapa aku begitu ceroboh? Itu pasti Batu Harapan yang kucari selama ini!”
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Batu itu tenggelam, tak mungkin lagi dia ambil. Yang tersisa hanyalah penyesalan.
Pesan Kehidupan
Begitulah hidup.
Sering kali kita terlalu terbiasa melewatkan peluang yang datang, hingga tanpa sadar kesempatan emas justru terbuang begitu saja. Saat tersadar, hanya ada air mata dan kata “andai saja…”
Kesempatan besar tidak selalu datang dua kali. Jika dibiarkan lewat begitu saja, penyesalanlah yang akan jadi teman seumur hidup. (jhn/yn)


