EtIndonesia. Salju turun lebat, bulir-bulirnya setebal bulu angsa, menutupi gunung-gunung dengan lapisan putih yang tebal.
Seorang penebang kayu berjalan terseok-seok di jalan pegunungan yang bersalju, memikul dua ikatan kayu di bahunya. Untuk pulang ke rumah, dia harus melewati gunung besar di hadapannya.
Langkahnya berat, bahu terasa seakan tertindih beban, sementara angin utara yang menusuk tulang bertiup kencang di atas kepalanya. Suara “krek-krek” dari pijakan kakinya di atas salju yang dalam menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di kesunyian pegunungan.
Dia sudah berjalan cukup lama, berharap segera sampai di puncak. Namun, ketika mendongak, yang terlihat hanyalah jalan panjang tanpa ujung.
Keputusasaan di Tengah Jalan
Putus asa, penebang kayu itu berlutut di salju, menangkupkan tangan, lalu berdoa dengan lirih:
“Buddha, tolong aku. Aku sungguh lelah, rasanya tak sanggup lagi berjalan. Tolong tunjukkan cara agar aku bisa segera meninggalkan tempat ini.”
Tiba-tiba, Sang Buddha muncul di hadapannya.
“Aku akan memberimu satu cara,” ucapnya.
Beliau lalu menunjuk ke arah belakang sang penebang.
“Lihatlah ke belakangmu. Apa yang kamu lihat?”
Penebang menoleh dan menjawab: “Hanya hamparan salju putih… serta jejak-jejak kakiku tadi.”
“Kalau begitu, kamu berdiri di depan jejak-jejak itu atau di belakangnya?” tanya Buddha.
“Tentu di depan. Setiap jejak ada karena aku sudah melangkahinya,” jawab penebang, merasa pertanyaannya mudah sekali.
Pencerahan
Buddha tersenyum lembut.
“Benar sekali. Itu artinya, kamu selalu berdiri di puncak perjalananmu sendiri. Puncak ini akan terus bergeser seiring langkahmu. Ingatlah: tak peduli betapa jauh atau sulit jalanmu, kamu selalu berada di ujung terdepan dari perjalananmu sendiri. Itu sudah cukup. Hal lainnya tak perlu kamu risaukan.”
Usai berkata demikian, Buddha pun menghilang.
Penebang kayu merasa dadanya lega. Dia kembali memikul kayu, melangkah ringan, dan akhirnya berhasil melewati gunung itu dengan perasaan tenang hingga sampai di rumah.
Pesan Kehidupan
Hidup sering terasa berat dan panjang, hingga kita merasa seolah tak pernah mencapai puncaknya. Namun, sebenarnya setiap langkah membuat kita selalu berada di “puncak perjalanan” kita sendiri.
Tidak perlu membandingkan, tidak perlu terburu-buru. Cukup sadarilah: setiap hari, setiap langkah, kita selalu ada di titik terdepan dari jalan hidup kita.(jhn/yn)


