EtIndonesia. Terkait insiden tabrakan kapal perusak Angkatan Laut Partai Komunis Tiongkok (PKT) dengan kapal penjaga pantai PKT beberapa waktu lalu, pihak Filipina menyatakan bahwa kecelakaan itu menewaskan dua awak kapal Tiongkok, membuat Beijing “kehilangan muka.” Belakangan, aksi pengendalian PKT di wilayah laut sengketa terlihat semakin meningkat.
Pada 11 Agustus, kapal penjaga pantai PKT saat mengejar kapal patroli Filipina di sekitar perairan Scarborough Shoal, menabrak kapal perusak rudal Angkatan Laut Tiongkok “Guilin”, yang berukuran lebih besar. Akibatnya, haluan kapal penjaga pantai rusak parah.
Pada 18 September, Penasihat Keamanan Nasional Filipina, Eduardo Año, menyebutkan ada laporan yang menyatakan sedikitnya dua awak kapal Tiongkok tewas dalam tabrakan itu. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri PKT, Lin Jian, menuding Filipina mengancam keselamatan kapal dan personel Tiongkok, tanpa menanggapi apakah ada korban jiwa dari pihak mereka.
Filipina kemudian merilis rekaman patroli, yang menunjukkan pada 11 Agustus kapal penjaga pantai Filipina BRP Suluan sedang menjalankan misi di Scarborough Shoal ketika diapit oleh kapal penjaga pantai PKT nomor 3104 dan kapal perang Guilin. Dalam manuver penyergapan berkecepatan tinggi, Guilin justru menabrak kapal 3104, merusaknya hingga tak bisa berlayar.
“Jelas terlihat kapal penjaga pantai dan kapal perang Tiongkok itu tidak melakukan kerja sama operasi gabungan. Mereka seolah-olah bersaing mengejar target yang sama, sehingga terjadi tabrakan,” kata Shen Mingshi, peneliti di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan.
Sejumlah analisis mengaitkan insiden ini dengan perebutan kekuasaan internal di PKT.
“Karena Xi Jinping berada dalam posisi lemah dalam perebutan kekuasaan, ia mungkin ingin menciptakan insiden besar di luar negeri untuk memusatkan kekuasaan atau mengalihkan perhatian,” kata Shen Mingshi.
“Kita tahu bahwa Komandan Zona Militer Selatan, Wu Yanan, berasal dari faksi Zhang Youxia. Mungkin ada perselisihan antara pimpinan Angkatan Darat dan Angkatan Laut, atau ada kelalaian dalam pelaksanaan misi Angkatan Laut PKT di zona ini. Itu bisa jadi salah satu penyebabnya,” tambahnya.
Yao-Yuan Yeh, profesor studi internasional di Universitas St. Thomas, AS, berpendapat: “Karena pergantian pejabat di tingkat atas terlalu sering, bawahan justru melihat ini sebagai kesempatan untuk unjuk prestasi. Itulah sebabnya muncul insiden tabrakan seperti ini. Padahal konflik kecil semacam ini sama sekali tidak perlu, malah memperburuk hubungan Filipina–Tiongkok. Dalam arti tertentu, insiden ini mencerminkan ketidakstabilan internal Angkatan Laut PKT saat ini.”
Menurut Yeh, karena tak ada yang mau bertanggung jawab atas tabrakan itu, hal ini memperburuk moral militer dan sekaligus mengurangi daya gentar PKT di Laut Tiongkok Selatan.
“Daya gentar mereka menurun drastis. Yang juga penting untuk diperhatikan adalah bagaimana negara lain akan memandang PKT setelah ini, serta bagaimana interaksi mereka ke depan. Masalah PKT sekarang adalah mereka tidak bisa menyampaikan cerita sendiri dengan baik, mayoritas narasinya dibangun di atas kebohongan. Efek berantai ini hanya menambah kontradiksi antara citra mereka dan kenyataan di mata dunia luar,” ujarnya.
Insiden ini memicu banyak kritik dan ejekan di media sosial Tiongkok. Namun pihak resmi PKT justru menyensor habis-habisan, menghapus video dan diskusi terkait.
Shen Mingshi menilai: “Kita bisa melihat bagaimana militer dan penjaga pantai Filipina menunjukkan hasil latihannya dengan baik, membuat PKT sangat kehilangan muka. Filipina pasti akan terus mempublikasikan insiden ini.
“Karena itu, PKT yang merasa dipermalukan bisa bereaksi dengan dua cara: mengejar pertanggungjawaban, atau menciptakan kesempatan baru untuk membalas dalam konfrontasi berikutnya. Mereka bahkan menetapkan Scarborough Shoal sebagai kawasan perlindungan sumber daya nasional, yang bisa dilihat sebagai bentuk balas dendam yang lebih terselubung.”
Shen menambahkan, walau mungkin PKT sebagai institusi tak ingin konflik besar meletus di Laut Tiongkok Selatan, ada kemungkinan faksi-faksi tertentu justru ingin memicu ketegangan demi mempengaruhi hasil Sidang Pleno Keempat mendatang atau perebutan kekuasaan internal.
Sumber : NTDTV.com


