EtIndonesia. Ekonomi Tiongkok terus memburuk, fenomena “tidak mau belanja” semakin meluas. Restoran di jalan-jalan sepi, pusat perbelanjaan jarang dikunjungi. Banyak pemilik usaha mengeluh, saat ini bisnis sangat sulit dijalankan, 90% toko yang dibuka akhirnya bangkrut.
Seorang pedagang barbeque di Guangxi berkata: “Tahun ini benar-benar bisnis tidak jalan. Tahun ini saya mempekerjakan seorang karyawan saja, gajinya pun tidak sanggup saya bayar. 90% usaha sudah gulung tikar.”
Beberapa hari lalu, pedagang barbeque di Guangxi itu mengeluh bahwa seluruh industri makanan dan minuman sedang terpuruk, omzet turun setengah. Lingkungannya juga lesu, orang tidak mau konsumsi lagi. Banyak temannya yang membuka toko sudah bangkrut.
“Sekarang aktivitas pasar tidak bergairah, kondisi ekonomi tidak optimis. Dengan turunnya konsumsi, semakin besar modal yang ditanam, semakin besar pula risikonya. Karena itu, banyak orang lebih memilih bertahan di level usaha kecil dengan modal rendah, seperti lapak atau kaki lima yang lebih fleksibel, daripada naik kelas membuka toko,” ujar Ekonom Amerika, Huang Dawei.
Sepasang suami-istri yang berjualan mie bebek panggang juga mengatakan bahwa pasar kuliner secara keseluruhan sedang tidak baik. Demi menghidupi keluarga, mereka tidak berani libur satu hari pun.
Profesor Xie Tian dari Sekolah Bisnis Aiken, Universitas South Carolina, menilai: “Resesi ekonomi Tiongkok semakin serius. Jika masyarakat takut untuk belanja, maka industri kuliner tentu tidak bisa bertahan. Baik pedagang kecil, pemilik toko, maupun jaringan restoran besar, semuanya menghadapi masalah yang sangat berat.”
Gelombang kebangkrutan toko fisik di Tiongkok datang silih berganti. Mal dan pusat kota yang dulu ramai, kini tampak sepi.
Huang Dawei menambahkan: “Secara keseluruhan, hal ini mencerminkan bahwa dalam proses transformasi, permintaan domestik Tiongkok semakin melemah. Penurunan konsumsi akibat resesi ekonomi sudah pasti, dan ekspektasi masa depan cenderung pesimistis.”
Sumber : NTDTV.com


