EtIndonesia. Pada Jumat (19 September), Presiden AS Donald Trump dan pemimpin PKT Xi Jinping melakukan percakapan telepon. Ini adalah kali ketiga Trump berbicara langsung dengan Xi sejak menjabat masa jabatan keduanya.
Trump menulis di platform Truth Social pada Jumat pagi waktu AS bahwa ia baru saja menyelesaikan panggilan telepon dengan Xi. Mereka disebut telah “mencapai kemajuan” dalam sejumlah isu, termasuk perdagangan, masalah fentanil, perlunya mengakhiri perang Rusia–Ukraina, serta persetujuan atas kesepakatan TikTok.
Trump juga menyebutkan bahwa ia akan bertemu Xi pada akhir Oktober mendatang di sela-sela KTT APEC di Korea Selatan. Pada awal tahun depan ia akan melakukan kunjungan ke Tiongkok. Xi Jinping juga akan mengunjungi AS “pada waktu yang tepat.”
Pihak PKT mengkonfirmasi bahwa mereka telah menyetujui kesepakatan TikTok.
Pada 14–15 September lalu, tim perdagangan AS dan Tiongkok mengadakan putaran terbaru pembicaraan ekonomi di Madrid, Spanyol. Menteri Keuangan AS Scott Bessent seusai pertemuan mengatakan bahwa kedua pihak telah mencapai kerangka kesepakatan, di mana kepemilikan operasi TikTok di AS akan dialihkan ke pihak AS.
Menurut Reuters, kesepakatan itu akan memindahkan aset TikTok di AS dari perusahaan induknya di Tiongkok, ByteDance, ke pemilik baru di AS. Namun masih ada masalah utama yang belum jelas, termasuk struktur kepemilikan final, seberapa besar kendali yang akan tetap dimiliki pihak Tiongkok, serta apakah Kongres AS akan menyetujui kesepakatan tersebut.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa TikTok akan dibeli oleh “perusahaan yang mencintai Amerika.”
The Washington Post mengutip analisis Sun Chenghao, Direktur Proyek AS–Eropa di Pusat Studi Strategi dan Keamanan Internasional Universitas Tsinghua. Ia menilai bahwa masih banyak gesekan ekonomi dan politik besar antara AS dan Tiongkok yang belum terselesaikan. Isu lain yang berpotensi menjadi hambatan termasuk tuduhan Trump bahwa PKT memfasilitasi perdagangan fentanil, serta surplus perdagangan Tiongkok yang besar terhadap AS.
“Meskipun perundingan terbaru memberi ruang untuk mengendalikan masalah TikTok, semua pihak sadar bahwa hubungan ekonomi AS–Tiongkok masih sangat dipolitisasi. Kecuali kedua negara bisa memperbaiki hubungan dagang secara mendasar, sulit bagi hubungan ekonomi bilateral untuk benar-benar pulih,” ujar Sun.
Saat ini Trump tengah berupaya meyakinkan sekutu agar bergabung dalam perang tarif terhadap Tiongkok sebagai bagian dari strateginya menghadapi PKT.
Pada 13 September, Trump memublikasikan suratnya kepada NATO di Truth Social. Ia mendesak negara-negara anggota NATO untuk bersama-sama mengenakan tarif tambahan sebesar 50% hingga 100% terhadap Tiongkok.
PKT saat ini adalah pembeli minyak terbesar Rusia, yang memberikan jalur kehidupan ekonomi bagi Moskow di tengah perang. Selain menyerukan NATO, Trump juga menekan Uni Eropa untuk mengenakan tarif tinggi terhadap Tiongkok.
Sumber : NTDTV.com


