Gadis Tiongkok Berusia 19 Tahun Kuliah di Malaysia Jadi Korban Penipuan Telepon, Lompat dari Lantai 39 dan Tewas – Rincian Lebih Lanjut Terungkap

Seorang gadis Tiongkok berusia 19 tahun yang baru 9 hari kuliah di Malaysia tewas bunuh diri setelah menjadi korban penipuan telepon. Belakangan, semakin banyak detail tentang tragedi sebelum ia mengakhiri hidupnya terungkap dan kembali memicu perhatian publik.

EtIndonesia. Pada 13 Maret lalu, Li Bowen, seorang gadis asal Shandong berusia 19 tahun, melompat dari lantai 39 tempat tinggalnya dan meninggal dunia. Orang tuanya kemudian menemukan bahwa sebelum tewas, putrinya telah terjebak dalam penipuan telekomunikasi yang sangat rapi.

Di ponselnya, mereka menemukan sebuah “surat pengakuan.” Dalam catatan itu, Bowen menulis bahwa pada 18 Maret siang ia menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari Badan Telekomunikasi Malaysia, mengatakan bahwa nomor telepon Tiongkok miliknya digunakan untuk menyebar pesan penipuan dan telah dilaporkan. Tak lama, seseorang yang mengaku polisi Shanghai menuduhnya terlibat kasus penipuan yang menyebabkan seorang nenek meninggal.

Bowen kemudian dipaksa mengunduh sebuah aplikasi untuk menerima pengawasan jarak jauh 24 jam dan melaporkan kegiatannya setiap saat. Selain itu, seorang lain yang mengaku sebagai jaksa menuntut agar ia membayar uang jaminan sebesar 258.000 yuan (sekitar Rp577 juta), dengan ancaman bila tidak segera membayar maka keluarganya akan ikut terkena masalah.

Ayahnya, Li Minglei, mengatakan polisi Malaysia menemukan secarik kertas di kamar putrinya, berisi daftar semua cara yang ia pikirkan untuk mencari uang, namun semuanya dicoretnya dengan tanda “X”: “Pinjam teman X”, “Pinjam teman kuliah X”, “Kerja paruh waktu, terlalu lama X”, “Minta orang tua, tapi mereka juga tidak punya banyak uang X”. Menurut ayahnya, kondisi mental putrinya saat itu sudah benar-benar runtuh.

Bowen sebelumnya gagal ujian masuk perguruan tinggi di Tiongkok tahun lalu, sehingga keluarga memutuskan mengirimnya kuliah ke luar negeri. Setelah mempertimbangkan berbagai negara dan biaya, mereka memilih Universitas Putra Malaysia (UPM). Bowen sangat menantikan kehidupan barunya, menyiapkan semua sendiri mulai dari tiket pesawat, sewa rumah, hingga berkemas, tanpa merepotkan orang tua.

Pada 13 Maret, ia berangkat dari Shandong menuju Malaysia. Dalam foto yang dikirim kepada orang tuanya, gadis berambut pendek dengan kacamata hitam dan senyum ceria itu tampak penuh semangat, berdiri dengan dua koper dan satu tas coklat, siap memulai masa studi tiga tahunnya.

Namun hanya 9 hari setelah tiba, ia tewas bunuh diri.

Pada 22 Maret sekitar pukul 14.00, Bowen menelepon ibunya dan tiba-tiba bertanya: “Di rumah ada berapa uang?”

 Ibunya menjawab: “Tidak banyak, tapi cukup untuk biaya kuliahmu.”

Dengan nada cemas, Bowen mengatakan dirinya terlibat kasus, diminta polisi membayar uang jaminan 258.000 yuan. Katanya, kalau terbukti tidak bersalah uang itu akan dikembalikan, dan ia punya waktu dua minggu untuk mengumpulkan dana. Ia memohon agar ibunya mentransfer uang tersebut.

Tak lama, ia mengirim surat tulisan tangan dan tangkapan layar percakapan, menulis: “Kalau uang 258 ribu ini tidak bisa dibayar, polisi ini akan kehilangan pekerjaan dan saya mungkin lebih dari setahun setengah tidak bisa bertemu kalian.” Ia juga berpesan agar ibunya jangan bilang siapa pun, jangan beritahu ayah, jangan cari pengacara karena ada “perjanjian rahasia.”

Sang ibu langsung menegurnya, mengatakan jelas itu penipuan, menyuruhnya jangan peduli dan jika perlu segera lapor polisi atau hubungi kedutaan. Bila tidak bisa, ia siap terbang ke Malaysia untuk membantu.

Namun sejak pukul 18.00  sore, mereka kehilangan kontak dengan putrinya. Telepon dan pesan tidak dibalas. Ayahnya segera menghubungi agen pendidikan dan dosen di Malaysia. Malamnya, ia menerima telepon dari seorang dosen yang mengatakan ada seorang mahasiswa jatuh dari gedung tempat tinggal Bowen. Hatinya langsung hancur.

Pada 23 Maret malam, sekitar pukul 23.00, Li Minglei dan istrinya melihat putri mereka untuk terakhir kali di kamar jenazah sebuah rumah sakit di Malaysia.

Dengan suara parau ia berkata: “Saya menyesal, kalau saja saya sempat menelpon lebih cepat mungkin ia masih hidup.” Dari rekaman CCTV, ia tahu bahwa tak lama setelah menelepon ibunya, putrinya naik lift ke atap lantai 39 dan melompat.

Menurutnya, 258.000 yuan itu hampir seluruh tabungan keluarga. “Dia tahu kami tidak mampu membayar, dia juga takut dipenjara, akhirnya mentalnya hancur.”

Sejak kepergian putrinya, setiap bulan ia datang ke makam Bowen membawa blueberry dan apel kesukaannya. Saat insomnia, ia duduk di kamar putrinya dan menangis diam-diam. “Sekarang saya hanya ingin segera ada penjelasan, agar kami bisa kembali ke kehidupan normal.”

Namun polisi mengatakan penyelidikan sulit, karena komunikasi dengan pelaku dilakukan lewat aplikasi, hampir semua pesan sudah dihapus, dan tidak ada nomor rekening yang jelas. “Hampir tidak ada petunjuk,” kata mereka.

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine