Sang Ibu yang Melompat dengan Kepala di Bawah

EtIndonesia. Musim dingin ketika itu, sebuah peristiwa nyata mengguncang kota kecil kami. Suatu pagi, kebakaran hebat melanda sebuah bangunan tua di jalan barat kota. Rumah itu dibangun pada 1940-an dengan struktur bata dan kayu—pintu, jendela, lantai, bahkan tangganya semua dari kayu. Begitu api menyambar, bangunan langsung berubah jadi kobaran besar. Dalam sekejap, tiga keluarga empat rumah tangga terkepung api, seluruh gedung dilahap si jago merah.

Orang-orang panik berlarian menyelamatkan diri. Baru separuh yang berhasil keluar, tangga kayu tiba-tiba ambruk dengan suara keras. Masih ada sembilan orang terjebak di lantai atas. Tanpa jalan turun, mereka terpaksa berlari ke lantai empat—satu-satunya bagian yang belum dilalap api. Dari balkon, mereka berteriak minta tolong.

Jalan Buntu Penyelamatan

Tim pemadam tiba, tetapi jalan sempit membuat mobil pemadam dan mobil tangga tak bisa masuk. Api terus menjalar ke atas. Waktu makin sempit.

Komandan pemadam akhirnya membuat keputusan berani: “Selamatkan orangnya dulu!”

Tanpa tangga hidrolik, dia memerintahkan anggotanya membawa tali dan memanjat dinding, berniat menurunkan orang satu per satu. Namun baru sampai lantai dua, kayu penyangga patah, dua petugas jatuh bersamaan. Upaya itu gagal.

Sementara itu, tiang besar penopang bangunan di lantai dasar sudah mulai berderak. Bila patah, seluruh bangunan bisa runtuh kapan saja.

Satu-satunya pilihan: mereka yang terjebak harus menyelamatkan diri dengan melompat.

Lompatan Penyelamatan

Komandan meraih sehelai selimut tua dari salah satu warga yang selamat. 

Dia membentangkannya bersama beberapa orang lain, lalu berteriak: “Lompat satu per satu! Punggung menghadap ke bawah! Ikuti gerakan saya!”

Dia sendiri memberi contoh, menirukan gaya lompat tinggi dengan punggung mendarat lebih dulu. Hanya dengan begitu selimut bisa menahan benturan tanpa robek.

Di balkon, seorang wanita berbalut mantel berdiri paling depan. Namun meski terus didorong-dorong, dia tidak berani melompat. 

Waktu makin kritis, orang-orang di bawah berteriak:  “Kalau tidak berani, kasih orang lain duluan!”

Akhirnya dia menyingkir. Seorang pria maju dan melompat. Meski posisinya kurang sempurna, dia selamat. Setelah itu, orang kedua, ketiga, hingga kedelapan melompat turun. Setiap kali, gerakan makin tepat—punggung menghadap selimut, semua selamat.

Tinggal satu orang: wanita berbalut mantel tadi. Dia tetap ragu. Orang-orang di bawah hampir putus asa, berteriak-teriak memintanya segera lompat.

Lompatan yang Mengorbankan Diri

Akhirnya dia memutuskan. Perlahan, dia naik ke pagar balkon. Namun, berbeda dengan lainnya, dia membungkuk, lalu menyiapkan posisi kepala di bawah seperti atlet loncat indah.

Komandan kaget. 

Dia berteriak sekuat tenaga: “Punggung ke bawah! Jangan begitu!”

Namun wanita itu tak mengubah posisinya. Dia menjatuhkan diri dengan kepala lebih dulu. Tubuhnya meluncur lurus bagai peluru. Selimut tipis tak mampu menahan benturan sekecil itu. Robek seketika. Kepalanya menembus selimut dan menghantam tanah.

Semua orang terdiam. Dia berlumuran darah, napasnya tersengal-sengal.

Tapi… di wajahnya justru tersungging senyum pucat. Dengan tangan gemetar, dia mengusap perutnya, lalu berbisik lirih:  “Aku hanya bisa begini… agar tidak… melukai anakku…”

Komandan tersentak. Baru disadari, wanita itu ternyata sedang hamil sembilan bulan.

Dengan suara terputus-putus dia berkata lagi:  “Kalau aku tak selamat… tolong… tolong selamatkan bayiku… Dia pasti bisa hidup…”

Pesan Kehidupan

Saat itu semua orang tertegun. Barulah mereka mengerti mengapa dia ragu-ragu sejak tadi, dan mengapa dia memilih cara “paling bodoh” untuk melompat. Dia ingin memastikan bayi dalam kandungannya tak terluka, meski itu berarti mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Memberikan bahaya untuk dirinya, menyisakan keselamatan bagi anaknya—itulah pilihan abadi seorang ibu. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine