EtIndonesia. Ada seorang pemuda yang lahir dari keluarga terpelajar di Hangzhou. Pada usia 18 tahun, dia berhasil masuk Fakultas Kedokteran Universitas Tongji, Shanghai. Dua tahun kemudian, dia dipilih untuk melanjutkan studi ke Jerman, di Fakultas Kedokteran Universitas München.
Pada usia 26 tahun, dia meraih gelar doktor dan kemudian direkrut bekerja di rumah sakit universitas tersebut. Delapan bulan setelah mulai bertugas, dia melakukan operasi pertamanya: sebuah operasi usus buntu yang sederhana.
Namun, empat hingga lima hari pascaoperasi, pasien itu meninggal dunia. Sang dokter muda merasa sangat terpukul. Hasil otopsi membuktikan operasi berjalan normal, bukan karena kesalahannya.
Meski begitu, gurunya hanya mengatakan satu kalimat: “Dia adalah seorang ibu dari empat anak…”
Kalimat itu terpatri dalam benaknya, seakan terukir dengan pisau. Sejak saat itu, selama lebih dari 60 tahun kariernya di dunia bedah, dia tak pernah melupakannya.
Dari Kalimat Menjadi Prinsip Hidup
Dokter muda itu kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh besar dalam sejarah kedokteran Tiongkok: Akademisi Qiu Fazu.
Ketika seorang jurnalis menanyakan apa pencapaian terbesarnya dalam hidup, dia tidak menyebutkan penelitian, publikasi ilmiah, atau gelar kehormatan internasional.
Dia hanya kembali pada kalimat gurunya 60 tahun lalu: “Dia adalah seorang ibu dari empat anak.”
Dari sanalah lahir prinsip yang membimbing seluruh hidupnya: memperlakukan pasien dengan ketulusan, cinta, dan penghargaan terhadap hidup.
Penghargaan yang Paling Berarti
Pada tahun 2001, Qiu Fazu dianugerahi Lifetime Award for Medical Ethics oleh Yayasan Medis Nasional Tiongkok—penghargaan bergengsi yang hanya diberikan kepada empat orang dokter di seluruh negeri, yang dianggap sebagai teladan moral tertinggi dalam profesi kedokteran.
Namun, bagi Qiu, penghargaan itu bukanlah puncak kejayaan semata, melainkan konfirmasi bahwa nilai yang ia pegang sejak muda—menyayangi pasien lebih dari sekadar menyembuhkan penyakit—adalah pencapaian terpenting dalam hidupnya.
Pesan Kehidupan
Dalam dunia medis, ilmu dan keterampilan tentu sangat penting. Namun, tanpa hati yang penuh welas asih, dokter hanya akan menjadi seorang teknisi, bukan penyelamat kehidupan.
Kadang, satu kalimat sederhana dapat mengubah cara seseorang memandang hidup—dan menjadikannya warisan yang lebih berharga daripada semua gelar atau penghargaan.(jhn/yn)


